Breaking News
Kamis, 12 Maret 2026

Berita Viral

Meski Sehari Dapat Rp 50 Ribu, Junaedi Tukang Tambal Ban di Surabaya Bisa kuliahkan Anak

35 tahun jadi tukang tambal ban, Junaedi mengatakan bahwa kunci bahagianya adalah rajin shalat malam dan berpuasa Senin-Kamis.

Tayang:
Editor: Prailla Libriana Karauwan
zoom-inlihat foto Meski Sehari Dapat Rp 50 Ribu, Junaedi Tukang Tambal Ban di Surabaya Bisa kuliahkan Anak
KOMPAS.COM/AZWA SAFRINA/Tribun Jatim
Meski Sehari Dapat Rp 50 Ribu, Junaedi Tukang Tambal Ban di Surabaya Bisa kuliahkan Anak 

TRIBUNGORONTALO.COM -- Junaedi, tukang tambal ban di Surabaya yang berhasil kuliahkan anak.

Dirinya sebagai tukang tampal ban sudah 35 tahun berjalan.

Namun karena konsisten dan diselingi dengan ibadah, Junaedi mampu menyekolahkan anak hingga di perguruan tinggi.

Dilansir dari TribunJatim.com, 35 tahun jadi tukang tambal ban, Junaedi mengatakan bahwa kunci bahagianya adalah rajin shalat malam dan berpuasa Senin-Kamis.

"Yang penting kita taat sama Gusti Allah, pasti diberi kebahagiaan," kata Junaedi saat ditemui di lapaknya, Jumat (24/1/2025).

Menurut Junaedi, ketenangan batin, kesehatan, dan keharmonisan keluarga merupakan definisi dari bahagia yang ia yakini.

Baca juga: Cerita Keli Danu di Gorontalo Utara, Buka Usaha Warung Selama 20 Tahun

"Rezeki itu sudah ada yang mengatur. Kalau yang kaya aja belum tentu bahagia, jadi kita yang enggak kaya harus bahagia," ucapnya sembari tertawa, melansir dari Kompas.com.

Penghasilan Junaedi pun tak pasti. 

Jika beruntung dalam sehari dia bisa mendapatkan Rp50.000.

Namun, lebih sering tidak ada pelanggan sama sekali, kata dia.

"Istri saya juga bantu jualan nasi bungkus didekat sekolah disana. Jadi sedikit terbantu, yang penting kita sudah berusaha" sambungnya.

Selain menjadi tukang tambal ban, dulu Junaedi pernah bekerja sebagai tukang becak.

Tetapi karena pelanggan yang semakin sepi, akhirnya dia menjual becaknya.

"Semuanya saya coba, yang penting bisa pulang bawa rezeki yang halal," tutur Junaedi.

Baca juga: Peluh Kesah Cerita Umar Hamka, Seorang Penjual Es Cendol di Gorontalo Utara

Berkat kegigihan dalam bekerja dan doa tanpa henti, Junaedi kini mampu menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi.

"Meskipun saya lulusan SD (Sekolah Dasar), tapi saya selalu ingin anak saya bisa kuliah," kata dia.

Putrinya, Rahmawati (21) kini sedang menempuh pendidikan untuk meraih gelar sarjana dari  jurusan Manajemen di Universitas Bhayangkara, Surabaya.

Untuk biaya kuliah, Junaedi mengaku harus mengeluarkan uang sebesar Rp1,35 juta per semester. 

Biaya tersebut dia tanggung sendiri tanpa ada bantuan dari Pemerintah.

"Anak saya sudah pernah coba buat daftar KIP (Kartu Indonesia Pintar), tapi juga enggak pernah lolos, enggak tahu kenapa," kata dia.

Berbagai program beasiswa juga sudah dicoba, tapi selalu gagal.

Baca juga: Kisah Rian Hippy di Gorontalo, Bertahan Jual Es Durian di Tengah Musim Pancaroba Demi Anak-anak

Biar pun begitu, Junaedi selalu tegas melarang anaknya untuk kuliah sambil bekerja.

"Memang tugasnya saya sebagai orangtua untuk mencari nafkah. Sudah, kamu cukup fokus sekolah," ucap dia sambil lagi-lagi tersenyum.

Sebelumnya, kisah inspiratif datang dari seorang pria berusia 50 tahun bernama Eko.

Eko menjadi cosplayer selama 10 tahun.

Dari hasil kerjanya itu, ia kini sukses kuliahkan putrinya.

Tak tanggung-tanggung, putrinya kuliah di jurusan kedokteran.

Setiap hari, Eko menjadi cosplayer di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat.

Putri pertama Eko kini sudah diterima berkuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Semarang (UNNES).

Baca juga: Kisah Kashmir Samsudin, Seorang Pria Asal Buol Datang ke Gorontalo Demi Jadi Guru

"Anak dua, perempuan semua. Yang satu kemarin baru masuk Unnes, kedokteran," kata Eko saat ditemui Warta Kota di kawasan Taman Fatahillah, Tamansari, Jakarta Barat, Jumat (27/12/2024).

Menurutnya, meski penghasilan menjadi cosplayer tak menentu, namun konsostensi dia dalam berkarya dapat membuatnya tetap dilirik pengunjung.

Dari sanalah Eko mengumpulkan sedikit demi sedikit rupiah.

Ini demi mewujudkan mimpi sang anak untuk menjadi seorang dokter.

"Kerja aja tiap hari, untuk istri sama anak. Kerja saya dari pukul 10.00 WIB sampai 20.00 WIB," ungkap Eko.

Kendati demikian, Eko juga menambah penghasilan dengan cara berdagang bersama sang istri.

Aneka makanan, minuman, serta kreasi jajajanan ringan lain, ia jajakan di kawasan Kota Tua demi bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga. 

"Saya bikin semacam chicken (ayam goreng), jus, gitu. Jadi kadang-kadang kalau malam, beres cosplay bantu istri jualan, ya alhamdulillah anak bisa sekolah," pungkas dia.

Baca juga: Cerita Sudarmaji Pensiunan TNI Penjaga Taman Makam Pahlawan Gorontalo Sejak 1990

Dengan mengenakan seragam bak seorang jenderal, Eko berdiri tegap di samping motor berwarna merah tembaga, sembari memegang beberapa senjata.

Sesekali ia mematung dan memberi gaya hormat kepada pengunjung yang datang kepadanya untuk sekadar berswafoto.

Eko juga mewarnai wajahnya dengan makeup hingga berwarna cokelat keemasan agar nampak semirip mungkin dengan patung asli Laksamana Maeda.

Diketahui, Laksamana Maeda merupakan tokoh militer Jepang yang berjasa di balik kemerdekaan Indonesia.

Dia bahkan meminjamkan rumahnya untuk dipergunakan oleh tokoh-tokoh proklamator RI dalam perumusan naskah proklamasi.

Saat dihampiri Warta Kota, Eko mengaku sudah menjadi cospalyer sejak 2014 lalu.

Dia adalah generasi kedua yang meneruskan kiprah seniornya dengan tema "manusia humanoid".

Eko berujar, mulanya ia hanyalah seorang pedagang makanan di sekitar Kota Tua.

Baca juga: Cerita Ramdan Usman, Seorang Remaja di Gorontalo Utara yang Gemar Melaut

Ia pun tidak pernah berpikir jika akan melakoni pekerjaan sebagai patung dan menghibur wisatawan di tempat bersejarah ini.

"Pada saat itu ketika ada revitalisasi Kota Tua, saat dagang sudah mulai sulit, saya melihat, saya kenal Bang Idris (senior) dan beberapa orang di sini, termasuk pengelola yang mengizinkan boleh berakses di sini," kata Eko saat ditemui Warta Kota, Jumat (27/12/2024).

"Kalau mau berkarya di bidang seni, contoh kayak komunitas manusia batu, itu harus ada nuansa sejarah. Sejak itu saya berkeinginan (untuk cosplay)," imbuhnya.

Ditambah lagi, Eko memang memiliki kegemaran dibidang seni. 

Hal itu lah yang lantas membuatnya bertahan menjadi cosplayer tokoh sejarah di Kota Tua hingga hari ini.

Sementara itu, terkait pemilihan tokoh Laksamana Maeda, didasari oleh hasil penelaahannya selama bertahun-tahun.

Eko mengaku ingin tampil beda dan menarik wisatawan lebih banyak.

Ia pun sempat berganti-ganti peran sebelum menekuni peran tentara Jepang ini, mulai dari Sultan Pangeran Yogyakarta, Pangeran Jayakarta, hingga Jenderal Sudirman.

Baca juga: Sadam Bunuiyo Cerita Pengalaman Jadi Sopir Bentor di Kabupaten Gorontalo Utara

Namun, perenungan panjang saat pandemi Covid-19, membuatnya mencoba membuat karakter lain yang nyentrik, di luar Belanda dan Indonesia, tetapi tetap berkaitan dengan sejarah.

"Kalau di Kota Tua itu kan kalau cosplay enggak boleh sama jadi saya pikir, di sini semua teman-teman pahlawan lokal, nasional sudah. Dari sisi Belanda yang sudah, tapi tidak ada yang mengangkat sisi Jepang," kata Eko.

"Jadi saya coba kira-kira sejarahnya seperti apa. Akhirnya saya pilih Laksamana Maeda. Karena bagaimanapun, dia juga punya cerita tentang bangsa ini," imbuhnya.

Bahkan kini, dirinya menjadi satu satunya karakter Jepang yang bercosplay di Kota Tua.

Eko bercerita, ia telah lama mengulik tokoh Laksamana Maeda, bahkan sampai mengikuti pameran-pameran soal Maeda.

Melihat jasa sang Laksamana terhadap agenda penting Kemerdekaan RI, Eko pun tertarik untuk mengenalkannya ke dunia luar.

"Kenapa saya memilih karakter Jepang dan akhirnya memutuskan Laksamana Maeda, karena satu-satunya peninggalan yang ada di Jepang, sampai sekarang jadi museum pun, kan dari rumah Maeda," ungkap Eko.

Baca juga: Cerita Harry Gobel Bangun Penginapan Turis di Gorontalo, Berawal dari Ingin Belajar Bahasa Inggris

"Karena setahu saya, Jepang tidak ada pernah peninggalan seperti Belanda. Satu-satunya kisah yang berkembang dari cerita Jepang, cuma rumahnya Laksamana Maeda, yang sekarang menjadi museum nasional perumusan teks proklamasi," imbuhnya.

Untuk informasi, Eko melakukan cosplay sebagai Laksamana Maeda mulai pukul 10.00 WIB hingha 20.00 WIB.

Dia biasa mengambil tempat di depan Museum Seni Rupa dan Keramik bersama temannya yang bercosplay sebagai pesulap yang bisa melayang di udara.

(*)

Artikel ini telah tayang di TribunJatim.com

Sumber: TribunJatim
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved