Human Interest Story
Usia 74 Masih Memulung Sampah di Kota Gorontalo, Yance Monoarfa Cerita soal Sulitnya Hidup Sendiri
Meski usia sudah senja, 74 tahun, kakek asal Kampung Bugis ini tetap semangat menyusuri jalanan kota mencari sampah yang dapat dijual untuk memenuhi k
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Yance-Monoarfa-74-asal-Kampung-Bugis-Kota-Gorontalo.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Yance Monoarfa masih berjuang untuk bertahan hidup dengan menjadi pemulung di Kota Gorontalo.
Meski usia sudah senja, 74 tahun, kakek asal Kampung Bugis ini tetap semangat menyusuri jalanan kota mencari sampah yang dapat dijual untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
Saat TribunGorontalo.com memantau tumpukan sampah liar di Jalan Manado, Kota Tengah, Sabtu (18/1/2025).
Yance terlihat sibuk mengais sampah di antara bau busuk dan tumpukan plastik. Ketika didekati, ia dengan ramah berbagi kisah perjuangannya.
"Sampah ini akan saya jual di Andalas kepada mas-mas Jawa," ungkap Yance sambil terus memungut sampah yang dianggap bernilai.
Setiap hari, Yance berangkat dari rumah dengan sepeda tuanya sekitar pukul 09.00 WITA.
Ia menyusuri berbagai lokasi hingga pukul 12.00 WITA sebelum pulang untuk salat Zuhur.
Setelah itu, ia kembali melanjutkan aktivitasnya hingga sore, biasanya sampai setelah Ashar.
"Biasanya agak siang saya turun dari rumah, lalu setelah Zuhur saya lanjut lagi mencari sampah," tuturnya.
Yance memiliki rute tetap, mulai dari pelabuhan Gorontalo hingga ke Kota Tengah dan beberapa wilayah lain di Kota Gorontalo.
Kadang-kadang, ia bahkan pergi ke Telaga, Kabupaten Gorontalo, demi mendapatkan sampah yang lebih banyak.
Di balik perjuangannya, Yance hidup sendirian. Ia sudah lama berpisah dengan istrinya, sementara anak perempuannya tinggal di Kendari, Sulawesi Tenggara.
"Saya sudah lama pisah dengan istri saya. Anak saya ada di luar Gorontalo, jadi saya mencari nafkah untuk hidup saya sendiri," ucapnya dengan nada lirih.
Pendapatan dari pekerjaannya sebagai pemulung tidak menentu.
Jika beruntung, ia bisa membawa pulang hingga Rp70 ribu dalam sehari, tetapi seringkali hanya Rp40 ribu atau bahkan kurang.
Meski begitu, Yance merasa bersyukur karena masih menerima bantuan dari pemerintah, seperti Program Keluarga Harapan (PKH).
"Bantuan, alhamdulillah, tetap ada dari pemerintah. Itu sangat membantu saya," katanya dengan senyum tipis.
Musim hujan menjadi tantangan tersendiri bagi Yance. Ketika hujan turun, ia seringkali tidak bisa keluar mencari sampah.
Bahkan jika sudah di perjalanan, ia terpaksa basah kuyup karena tidak memiliki jas hujan.
"Kalau hujan sudah dari rumah, biasanya saya tidak keluar. Kalau di jalan kena hujan, ya basah semua," katanya sambil menunjukkan tubuhnya yang mulai renta.
Yance mengenang masa-masa ketika tubuhnya masih kuat. Dahulu, ia bekerja di pelabuhan dan pasar, tetapi kini kondisi fisiknya memaksanya untuk beralih menjadi pemulung.
"Dulu, waktu masih kuat, saya kerja di pelabuhan dan pasar. Tapi sekarang badan sudah tidak sekuat dulu, jadi saya tinggal cari-cari sampah saja," kenangnya.(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.