Human Interest Story

Meski Berusia Renta, Jafar Mahmud Tetap Jualan Sagu di Gorontalo Utara Demi Nafkahi Keluarga

Di usinya yang tidak muda lagi ia tetap berusaha mencukupi kebutuhannya dengan mengolah sagu sendiri dan menjualnya di pasar.

TribunGorontalo.com/Efriet Mukmin
Jafar Mahmud sedang menjemur sagu di Desa Tolongio. Anggrek, Gorontalo Utara, Minggu (12/1/2025) 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Jafar Mahmud (55), seorang penjual sagu di Desa Tolongio, Kecamatan Anggrek, Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo.

Meski dirinya sudah berusia renta, Jafar tetap menekuni pekerjaan ini.

Jafar mengolah sagu bersama sang istri.

Baca juga: Cerita Ramli Hursan Buka Warung Makan di Gorontalo Utara, Kedai KEMON Berdiri Sejak 2019

Sebelum sagu dibuat, Jafar terlebih dahulu mencari pohon rumbia yang akan dijadikannya sagu.

Pohon rumbia ini kerap dibeli Jafar seharga Rp 50 ribu per pohon.

Setelah mendapatkan pohon rumbia, pohon ini akan ditebang dan dipotong menjadi bagian kecil lalu dimuat hingga diangkut ke rumahnya.

Sesampainya di rumah, Jafar akan segera menggiling pohon rumbia dengan mesin penggiling menjadi bubuk sagu.

Baca juga: Kisah Kashmir Samsudin, Seorang Pria Asal Buol Datang ke Gorontalo Demi Jadi Guru

Setelah menjadi bubuk, sagu itu akan dijemur di bawah sinar matahari selama tiga hari.

Jika cuaca sedang terik, sagu akan cepat kering, sehingga tak sampai tiga hari mengolahnya.

Namun, jika cuaca sedang hujan, maka akan berdampak pada proses yang akan semakin lama.

Dalam setu pohon rumbia, Jafar bisa meraih omzet Rp 300 ribu jika terjual habis dengan penjualan seharga Rp 10 ribu per liter.

"Itu yang laku di pasaran," ujar Jafar kepada TribunGorontalo.com, Minggu (12/1/2025).

Baca juga: Dulu Jaya Jadi Peternak Kini Punya Utang Rp 400 Juta, Beginilah Kisah Amir di Jatim

Sehingga, Jafar selalu menjual sagu miliknya di pasar besar di Kecamatan Kwandang, Kabupaten Gorontalo Utara.

"Saya berjualan di Pasar Senin, Pasar Kamis dan Pasar Minggu, tidak semua pasar hanya pasar-pasar tertentu," lanjutnya.

Jafar mengungkapkan, sagunya akan habis terjual ketika sedang musim nike.

Sebab, sagu selalu dicampurkan ke dalam masakan jika ingin membuat perkedel atau makanan lain berbahan dasar nike.

Baca juga: Cerita Nelayan Dumbo Raya soal Musim Nike di Gorontalo

"Jika bulan gelap atau musim nike, sagu saya habis terjual karena banyak di buru untuk dijadikan perkedel," jelas Jafar.

Usaha sagu miliknya sudah bertahun-tahun ditekuni hingga saat ini, dengan berbagai macam tantangan yang ia hadapi salah satunya usia.

Di usinya yang tidak muda lagi ia tetap berusaha mencukupi kebutuhannya dengan mengolah sagu sendiri dan menjualnya di pasar.

Baca juga: Herman Mansur, Penjahit di Pasar Sentral Kota Gorontalo Sering Pulang dengan Tangan Kosong

Menjual sagu adalah satu-satunya pekerjaan yang menjadi mata pencahariannya, sementara istrinya hanya seorang ibu rumah tangga yang selalu membantu ketika di pasar.

Jafar berharap usahnya bisa memenuhi kebutuhan keluarganya serta bisa menyekolahkan anak-anaknya ke pesanteren setelah lulus SD.

Ia bercita-cita kelak anak-anaknya menjadi Ustadz atau Ustadzah. (*)

Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved