Gempa Bumi

Gorontalo Diguncang 1,4 Ribu Kali Gempa Bumi Sepanjang 2024, Terbanyak di Perairan Teluk Tomini

Meskipun hingga saat ini belum ada teknologi yang dapat memprediksi gempa bumi, BMKG terus berupaya melakukan mitigasi dan penanggulangan bencana guna

Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
Freepik
ILUSTRASI gempa bumi terjadi di Gorontalo. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Sepanjang tahun 2024, Provinsi Gorontalo tercatat mengalami 1.438 kejadian gempa bumi.

Data itu berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas II Gorontalo, Senin (06/1/2024). 

Kepala Stasiun Geofisika Gorontalo, Andri Wijaya Bidang, menyatakan bahwa tahun 2024 menjadi salah satu tantangan besar bagi Gorontalo.

Tantangan itu terutama dalam menghadapi ancaman gempa bumi yang cukup sering terjadi. 

"Tahun 2024 ini menjadi tantangan bagi Gorontalo dalam menghadapi gempa bumi," ungkapnya saat ditemui oleh TribunGorontalo.com pada Senin (6/1/2024).

Menurut data BMKG, dari total 1.438 gempa bumi yang tercatat, sebanyak 22 di antaranya dirasakan langsung oleh masyarakat Gorontalo.

Wilayah yang paling banyak terdampak oleh gempa bumi adalah Teluk Tomini dengan 623 kali kejadian.

Sementara itu, Kabupaten Pohuwato tercatat mengalami 134 kali gempa, dan Kabupaten Boalemo sebanyak 72 kali.

Gempa terbesar yang terjadi pada 23 September 2024 tercatat memiliki kekuatan 6,4 SR.

Meskipun tidak menyebabkan tsunami, gempa ini menyebabkan kerusakan ringan pada tiga bangunan di Gorontalo dan dirasakan hampir di seluruh wilayah provinsi.

Andri Wijaya Bidang menambahkan bahwa BMKG telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.

Hal-hal yang dilakukan di antaranya dengan menyelenggarakan sosialisasi gempa bumi di sekolah-sekolah di Kota Gorontalo.

Sebanyak 13 sekolah dengan 1.579 siswa telah mengikuti kegiatan sosialisasi tersebut.

Selain itu, BMKG juga melakukan pengamatan mikroseismik dan makroseismik untuk memonitor kerusakan bangunan akibat gempa.

Ia berharap bahwa melalui berbagai kegiatan ini, kesadaran masyarakat terhadap keselamatan gempa bumi semakin meningkat, sehingga dapat mengurangi dampak buruk dari gempa.

Andri juga menganjurkan warga untuk memperhatikan pembangunan infrastruktur yang tahan gempa demi mengurangi potensi kerusakan.

Meskipun hingga saat ini belum ada teknologi yang dapat memprediksi gempa bumi, BMKG terus berupaya melakukan mitigasi dan penanggulangan bencana guna mencapai "zero victim" dalam setiap kejadian gempa bumi. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved