Inspirasi Bisnis Gorontalo

Sosok Lukman Polimengo, Jurnalis Gorontalo yang Nyambi Budidaya Magot

Bukan hanya mengolah, hasil olahannya bahkan menjadi peluang ekonomi. Lukman mengembangkan budidaya magot, larva dari lalat tentara hitam (Hermetia il

|
Penulis: Faisal Husuna | Editor: Wawan Akuba
FOTO: Faisal Husuna, TribunGorontalo.com
Lukman Polimengo saat ditemui di kediamannya dengan aktivitasnya budidaya magot. FOTO: Faisal Husuna 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Seorang jurnalis senior Gorontalo, Lukman Polimengo, menemukan cara inovatif mengolah limbah.

Bukan hanya mengolah, hasil olahannya bahkan menjadi peluang ekonomi. Lukman mengembangkan budidaya magot, larva dari lalat tentara hitam (Hermetia illucens).

Berawal dari keresahannya terhadap masalah sampah organik, pria asal Desa Bongoime, Kecamatan Tilongkabila, Kabupaten Bone Bolango ini menemukan cara inovatif mengolah limbah menjadi peluang ekonomi melalui budidaya magot.

Budidaya magot yang dilakukan Lukman dimulai pada tahun 2020 menggunakan metode eko enzyme, cairan hasil fermentasi organik dari buah-buahan, sayuran, dan gula.

Cairan ini ternyata menarik perhatian lalat tentara hitam, serangga yang menjadi induk dari magot.

"Lalat tentara hitam ini datang karena tertarik dengan aroma wangi yang dihasilkan dari cairan eko enzyme. Dari situ, muncul magot yang akhirnya saya manfaatkan," ungkap Lukman.

Magot yang dihasilkan tidak hanya membantu pengelolaan sampah organik, tetapi juga memberikan manfaat besar sebagai pakan ternak dan pupuk alami.

Selain itu, cairan eko enzyme yang dihasilkan Lukman dikenal sebagai cairan seribu manfaat.

"Cairan ini bisa digunakan sebagai pupuk cair, pembasmi bau, anti nyamuk, cairan pembersih, bahkan sabun mandi," jelasnya.

Tak disangka, usaha sederhana ini mulai menarik perhatian masyarakat.

Lukman bahkan pernah menjual dua ember magot, masing-masing berisi 5 liter, dengan harga jutaan rupiah.

"Kemarin ada yang datang membeli magot saya. Ini memotivasi saya untuk terus membudidayakan magot dan meningkatkan produksinya," ujarnya.

Untuk meningkatkan kapasitas, Lukman kini membutuhkan lebih banyak tong fermentasi agar dapat menghasilkan magot dalam jumlah yang lebih besar.

Selain memenuhi permintaan pasar, ia berharap dapat mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah organik.

Lukman berharap metode budidaya magot dan pengolahan sampah organik ini dapat diadopsi oleh masyarakat luas.

"Jika lebih banyak orang yang memanfaatkan metode ini, sampah organik yang masuk ke tempat pembuangan akhir (TPA) bisa berkurang drastis," kata Lukman penuh optimisme.(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved