Berita Gorontalo
Wabah Penyakit Mulut dan Kuku 'PMK' Mengganas di Kabupaten Gorontalo, 5.203 Sapi Terjangkit
Berdasarkan data yang dihimpun oleh Dinas Peternakan Kabupaten Gorontalo, hingga 30 Desember 2024, tercatat sebanyak 5.203 sapi terjangkit PMK.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
TRIBUNGORONTALOC.OM, Gorontalo – Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) kini melanda Kabupaten Gorontalo dengan angka yang mencengangkan.
Berdasarkan data yang dihimpun oleh Dinas Peternakan Kabupaten Gorontalo, hingga 30 Desember 2024, tercatat sebanyak 5.203 sapi terjangkit PMK.
Angka ini mencakup sapi-sapi yang ditangani oleh dinas terkait, baik yang melapor secara mandiri maupun yang ditangani oleh pihak berwenang.
Asriena Dunggio, Medik Veteriner Ahli Muda dari Dinas Peternakan Kabupaten Gorontalo, mengungkapkan bahwa data ini belum termasuk sapi-sapi yang belum terlapor.
"Jadi ini terlapor ke kami baik secara mandiri atau ditangani oleh dinas, belum yang tidak terlapor," ujar Asriena saat diwawancarai oleh Tribun Gorontalo, Kamis (2/1/2024).
Wilayah yang paling parah terdampak wabah PMK adalah Kecamatan Limboto, yang mencatatkan 629 kasus PMK.
Sementara itu, Kecamatan Tilango tercatat sebagai wilayah dengan jumlah kasus terendah, yaitu sebanyak 37 kasus.
"Data ini di semua wilayah di Kabupaten Gorontalo yang kami terima," jelas Asriena.
Sebagai respons cepat terhadap wabah yang meluas, Dinas Peternakan Kabupaten Gorontalo melakukan penanganan medis terhadap ternak yang terjangkit PMK.
"Langkah yang kami ambil adalah pengobatan ternak sapi, baik yang terlihat sehat maupun yang bergejala klinis, dengan memberikan obat-obat antibiotik, vitamin, dan anti radang," lanjut Asriena.
Namun, pemberian obat ini tidak bisa sembarangan. "Pemberian obatnya itu tidak bisa hanya satu, tapi harus kombinasi dari beberapa obat," tegasnya. Ini menunjukkan betapa ganasnya penyakit PMK yang menyerang sapi.
Angka kasus yang tinggi membuat Dinas Peternakan Kabupaten Gorontalo kewalahan.
Asriena mengungkapkan bahwa salah satu tantangan besar dalam penanganan wabah ini adalah keterbatasan stok obat-obatan.
"Masalah ini terjadi di akhir tahun, sementara pemerintah sendiri tidak punya persiapan terkait dengan obat-obatan. Stok di kami sangat terbatas," ujar Asriena.
Stok obat yang tersedia saat ini hanya obat-obat dari tahun 2022, yang tentu saja tidak cukup untuk menangani ribuan sapi yang terjangkit.
"Kami sudah meminta bantuan dari pemerintah pusat untuk mengirimkan stok obat," jelasnya.
Asriena juga mengimbau kepada para peternak agar tidak menunggu ternak mereka sakit parah sebelum mendapatkan pengobatan.
"Jangan tunggu sapi sakit dulu. Jika sudah melihat gejala awal, seperti sapi mulai kurang makan atau lemas, segera laporkan ke kami," kata Asriena.
PMK ini diketahui sangat cepat penularannya, sehingga penanganan yang cepat dan tepat sangat diperlukan untuk memutus rantai penyebaran penyakit.
Asriena menyarankan agar warga menyemprotkan abu lemon yang dicampur dengan 600 ml air pada kaki atau mulut sapi yang terluka.
Pengobatan mandiri ini bisa dilakukan minimal dua kali sehari, dan jika luka parah, pengobatan harus dilakukan lebih sering.
Di Desa Suka Maju, Kecamatan Mootilango, wabah PMK juga telah menyebar dengan cepat. Yahya Maso (37), seorang warga setempat, menceritakan bahwa puluhan sapi di desanya telah terjangkit penyakit ini.
"Sapinya pun satu sudah terjangkit dan langsung dilakukan pengobatan dengan menyuntikkan ternak tersebut melalui mantri hewan," ujar Yahya.
Yahya pun meminta agar Dinas Peternakan Kabupaten Gorontalo segera mengambil tindakan cepat dan terukur untuk memutus rantai penyebaran PMK di desanya.
"Banyak sapi di desa kami kena penyakit ini, semoga ada solusi cepat dari dinas terkait," ungkapnya.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Warga-Gorontalo-menggiring-sapi-di-sebuah-perkebunan.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.