Human Interest Story
Herman Mansur, Penjahit di Pasar Sentral Kota Gorontalo Sering Pulang dengan Tangan Kosong
Lantai dua tempat ia menunggu pelanggan tampak sepi, hanya menyisakan deretan lapak kosong dan suasana hening yang kontras dengan harapan perayaan Nat
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Herman-Mansur-Penjahit-di-Pasar-Sentral-Kota-Gorontalo.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Herman Mansur (70), seorang penjahit di Pasar Sentral Kota Gorontalo, kini menghadapi realitas pahit di akhir tahun.
Lantai dua tempat ia menunggu pelanggan tampak sepi, hanya menyisakan deretan lapak kosong dan suasana hening yang kontras dengan harapan perayaan Natal dan Tahun Baru.
Herman, yang tinggal di Siendeng, Kecamatan Hulonthalangi, telah menekuni profesi sebagai penjahit selama bertahun-tahun.
Ia mulai beroperasi di Pasar Sentral sejak 2021. Namun, setelah renovasi besar-besaran pada pasar tersebut, ia terpaksa pindah ke lantai dua pada November 2023, sebuah lokasi yang ia sebut sebagai "pusat sepi" karena minim pengunjung.
Saat ditemui TribunGorontalo.com pada Jumat (27/12/2024), Herman mengaku kondisi saat ini jauh dari kata baik.
Ia bahkan sering pulang dengan tangan kosong.
"Saya di sini menjahit, tapi bukan lagi jarang, melainkan sering tidak mendapatkan uang," ungkap Herman dengan nada ironis.
Ia menambahkan, penurunan ini bukan hanya terjadi pada akhir tahun, melainkan sudah berlangsung sejak renovasi Pasar Sentral dimulai.
Menurutnya, lamanya proses renovasi dan perpindahan pedagang ke lokasi baru berdampak besar pada jumlah pengunjung pasar.
"Ini sangat parah menurunnya sejak direnovasi. Sekarang pengunjung hampir tidak ada," katanya.
Selain renovasi yang berkepanjangan, Herman juga mengungkapkan bahwa banyak pedagang memilih meninggalkan lapak di Pasar Sentral.
Beberapa membuka usaha di rumah masing-masing, sementara yang lain pindah ke pasar yang dianggap lebih menjanjikan.
"Banyak lapak sekarang kosong. Pedagang merasa rugi karena tidak ada pembeli. Apalagi kami dibebani retribusi yang tidak sebanding dengan pendapatan," ujarnya.
Herman sendiri harus membayar sewa tempat sebesar Rp320 ribu per bulan, sementara penghasilannya seringkali tidak mencukupi.
Dalam sehari, ia bisa mendapatkan hanya Rp15 ribu, atau bahkan tidak sama sekali.
"Kemarin saja saya cuma dapat Rp15 ribu. Kadang ada uang masuk, kadang tidak ada, tapi lebih sering tidak ada," ungkapnya dengan raut wajah sedih.
Selain itu, jarak rumah Herman ke pasar juga cukup jauh. Ia harus mengeluarkan Rp17 ribu setiap hari untuk biaya transportasi pulang pergi, yang semakin memperburuk situasinya.
Menghidupi Keluarga
Herman tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. Ia memiliki istri dan anak yang harus ia nafkahi di rumah.
Namun, dengan kondisi pasar yang sepi, ia hanya bisa mengajak keluarganya untuk bersabar.
"Kalau memang kosong, saya hanya bilang ke istri saya bersabar. Makan apa adanya saja," ujarnya dengan nada getir.
Jika keadaan ramai, Herman biasanya bisa mendapatkan Rp50 ribu hingga Rp100 ribu sehari. Namun, jumlah tersebut tidak selalu konsisten.
"Pendapatan itu hanya saat ramai. Besoknya bisa menurun lagi," imbuhnya.
Di tengah kondisi sulit ini, Herman hanya bisa berharap agar pemerintah dapat membantu menghidupkan kembali suasana di Pasar Sentral.
Ia ingin pasar kembali ramai seperti dulu, sehingga para pedagang bisa mendapatkan penghasilan yang layak.
"Semoga pemerintah baru bisa membuat pasar ini ramai lagi. Kalau ramai, pedagang bisa kembali ke sini, dan kami semua bisa bekerja dengan baik," harap Herman.
Saat TribunGorontalo.com mengunjungi Pasar Sentral, suasana lantai dua terlihat memprihatinkan.
Dari puluhan lapak yang tersedia, hanya lapak Herman yang masih buka. Sebagian besar pedagang telah menutup usaha mereka, meninggalkan lantai dua dalam keadaan kosong dan tak bernyawa.
Herman, yang duduk sendirian di sudut lapaknya, menyambut dengan senyuman kecil yang penuh arti.
Namun, di balik senyuman itu, tersirat kegelisahan. Ia mengaku sedih memikirkan tidak adanya pemasukan yang bisa ia bawa pulang ke rumah hari itu.
Di tengah semua kesulitan ini, Herman tetap bertahan. Meski tubuhnya tak lagi sekuat dulu, ia memilih untuk terus menjahit, berharap suatu hari nanti keadaan akan membaik. (*)
| Sri Muliani Dama, Mahasiswi Gorontalo yang Tekuni Literasi hingga Jadi Ketua Senat Mahasiswa |
|
|---|
| Ajoeba Wartabone dan Jurnalisme Kebangsaan di Masa Revolusi Indonesia |
|
|---|
| Kisah Haru Rosita Manumbi, 16 Tahun Mengabdi Kini Dipercaya Jadi Kepala SDN 13 Pulubala Gorontalo |
|
|---|
| Kisah Fatmawaty Mile, Kepsek SD Tibawa Gorontalo Rela 3 Kali Ganti Kendaraan Tiap Hari Demi Murid |
|
|---|
| Sosok Loli Antuke, Marbot Masjid Agung Baiturrahim Kota Gorontalo |
|
|---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.