Kamis, 5 Maret 2026

Profil Tokoh

Profil Joice P Sibarani, Pendeta Gereja Protestan Indonesia di Gorontalo

Joice P Sibarani merupakan pendeta di Gereja Protestan Indonesia di Gorontalo (GPIG) Bait El Kota Gorontalo.

Tayang:
Penulis: Arianto Panambang | Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Profil Joice P Sibarani, Pendeta Gereja Protestan Indonesia di Gorontalo
TribunGorontalo.com/Arianto
Pendeta Joice P Sibarani merupakan sosok yang ramah terhadap jemaat dan masyarakat Gorontalo 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Joice P Sibarani merupakan pendeta di Gereja Protestan Indonesia di Gorontalo (GPIG) Bait El Kota Gorontalo.

Pendeta Joice telah menunjukkan dedikasi dan keteladanan selama lebih dari dua dekade.

Wanita kelahiran Maret 1979 ini berasal dari Provinsi Lampung.

Joice terlahir dari keluarga sederhana. Ayahnya berprofesi sebagai mantri, sedangkan ibunya seorang ibu rumah tangga.

Kehilangan sang ayah sejak remaja membuatnya tinggal di rumah pamannya. Ia tumbuh sebagai anak yang mandiri dan berjuang keras untuk mengejar pendidikan.

Joice mengaku, sejak kecil dirinya sudah aktif dalam kegiatan pelayanan gereja.

“Motivasinya mungkin karena dari kecil sudah ikut-ikut pelayanan di gereja jadi tumbuh kerinduan mau melayani di gereja,” ungkapnya kepada TribunGorontalo.com, Minggu (22/12/2024).

Setelah menyelesaikan pendidikan pendeta di Jawa, ia mulai melayani sebagai vikaris di Gorontalo pada 2003. Meskipun sempat kembali ke Jakarta pada 2009-2012, ia akhirnya menetap kembali di Gorontalo bersama suami dan dua anaknya.

Tak hanya itu, Joice memandang tugas sebagai pendeta sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan.

“Kenapa saya memilih menjadi hamba Tuhan? Saya mensyukuri apa yang sudah Tuhan kerjakan dalam hidup saya. Tuhan menyelamatkan masa muda saya, dan sebagai ucapan syukur, saya melayani Tuhan secara khusus,” katanya.

Ia percaya bahwa menjadi pendeta tidak hanya soal menyampaikan firman, tetapi juga memberi teladan hidup, ia juga mengungkapkan syarat menjadi pendeta. 

“Syaratnya yang pasti harus ada sekolah pendidikan pendeta terus ada panggilan untuk menjadi pemimpin, dan yang pasti menjaga hidup, menjaga attitude. Bagaimanapun, yang diajar harus selaras dengan yang diteladankan,” tegasnya.

Dalam melayani, Joice mengaku sering menemukan tantangan, baik internal maupun eksternal. Perkembangan teknologi dan media sosial menjadi salah satu tantangan utama.

“Bagaimana daya tarik media sosial itu sangat besar sehingga banyak jemaat juga yang intensitas waktu dan hati mereka banyak terkuras di media sosial,” jelasnya.

Namun, tantangan ini ia sikapi sebagai peluang dengan melibatkan anak-anak muda yang memiliki keahlian di bidang teknologi.

Baginya, sukacita terbesar dalam pelayanan adalah melihat jemaat bertumbuh dan hidup mereka diubahkan.

Sebagai pendeta di wilayah mayoritas Muslim, Joice menekankan pentingnya menjaga hubungan baik.

Baca juga: Sosok Ikram Andi Taufan Hurudji, Camat Terkaya di Kabupaten Gorontalo, Punya Harta Miliaran Rupiah

“Salah satu yang selalu dicanangkan adalah menjaga silaturahmi. Jadi harus saling menghormati, itu juga kan salah satu bentuk implementasi dari Pancasila,” ujarnya.

Ia juga mengajak jemaat untuk menghormati tradisi umat Muslim, seperti tidak mengadakan ibadah pada waktu sholat selama bulan puasa dan ikut bersilaturahmi pada hari-hari raya.

Selain itu dengan semangat yang tak pernah surut, Pendeta Joice terus melayani dan membangun harmoni di tengah keberagaman Gorontalo.

Kehadirannya tidak hanya menjadi penggerak spiritual bagi jemaat GPIG Bait El, tetapi juga menjadi simbol kedamaian dalam masyarakat multikultural. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved