Berita Gorontalo
Harga Ikan Melonjak di Pelelangan Kota Gorontalo Akibat Cuaca Buruk
Hal ini disebabkan oleh berkurangnya jumlah kapal yang mampu berlayar dan absennya pengiriman ikan dari luar daerah karena kondisi cuaca yang tidak be
Penulis: Efriet Mukmin | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Sesuai-pantauan-harga-ikan-melonjak-gara-gara-cuaca-ektrem-Minggu-22122024.jpg)
Laporan Efriet S Mukmin
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Cuaca buruk yang melanda wilayah Gorontalo dalam beberapa waktu terakhir menyebabkan lonjakan harga ikan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Kota Gorontalo, Minggu (22/12/2024).
Kondisi ini menjadi perhatian tidak hanya bagi pedagang ikan, tetapi juga konsumen yang tetap setia membeli meski harga melonjak.
Menurut Zes Amat, salah seorang pedagang ikan di TPI, harga ikan mengalami kenaikan signifikan akibat minimnya pasokan.
Hal ini disebabkan oleh berkurangnya jumlah kapal yang mampu berlayar dan absennya pengiriman ikan dari luar daerah karena kondisi cuaca yang tidak bersahabat.
"Ikan yang tersedia saat ini hanya beberapa jenis seperti ikan lajang, cakalang, ekor kuning, oci, dan layang biru," kata dia.
Harga normal biasanya Rp 20.000 hingga Rp 25.000 per kilogram, tetapi sekarang naik menjadi Rp 30.000 sampai Rp 35.000.
Meskipun demikian, para pembeli tetap memaklumi situasi tersebut.
Menurut Zes, mereka memahami bahwa cuaca buruk menjadi penyebab utama kenaikan harga dan tetap membeli ikan untuk kebutuhan sehari-hari.
Minim Kapal dan Cuaca Ekstrem
Sejak Sabtu malam hingga Minggu pagi, hanya ada empat kapal yang masuk ke TPI Kota Gorontalo dengan total muatan sekitar 60 ton ikan.
Sebagian besar hasil tangkapan ini bahkan harus dikirim ke Samarinda, sehingga stok untuk pasar lokal menjadi terbatas.
"Lonjakan harga ini kemungkinan akan kembali normal jika cuaca membaik dan kapal-kapal kembali bisa melaut secara rutin," tambah Zes.
Ia juga bercerita tentang pengalaman keluarga dalam menghadapi cuaca ekstrem.
Suri Thalib, ibu mertuanya, memiliki satu kapal penangkap ikan yang telah beroperasi sejak 2016.
Dalam kondisi cuaca normal, hasil tangkapan kapal bisa mencapai tiga ton per trip.
Namun, saat cuaca buruk, hasil tangkapan menurun drastis, bahkan kadang nihil. Selain itu, kerusakan pukat menjadi risiko besar yang membuat mereka memilih untuk tidak melaut.
Sebanyak 27 anak buah kapal yang bekerja di kapal milik keluarga Zes kini hanya bisa menunggu cuaca membaik.
Terakhir kali kapal melaut adalah sebulan yang lalu, dan hingga kini, kapten kapal masih beristirahat sambil menunggu kondisi laut lebih aman.
"Biaya operasional setiap perjalanan mencapai Rp 15 juta hingga Rp 18 juta. Jadi, jika hasil tangkapan sedikit atau bahkan tidak ada, kami jelas mengalami kerugian," ujar Zes.
Sayangnya, hingga saat ini, tidak ada subsidi atau bantuan dari pemerintah untuk membantu para nelayan menghadapi tantangan cuaca buruk.
Koordinasi dengan BMKG juga belum dilakukan untuk menentukan waktu yang tepat bagi kapal melaut.
Para nelayan berharap cuaca segera membaik agar mereka bisa kembali melaut dengan aman dan harga ikan kembali stabil.
Mereka juga menginginkan perhatian lebih dari pemerintah, baik dalam bentuk bantuan operasional maupun perlindungan saat menghadapi cuaca ekstrem.
"Selama ini, kami hanya bisa bertahan dan mengandalkan pengalaman. Jika ombak terlalu tinggi atau arus terlalu deras, kami akan mencari daratan atau pulau terdekat untuk berlindung," tutup Zes penuh harap.(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.