Minggu, 15 Maret 2026

Pelajar Gorontalo Baku Pukul

Siswa di Kota Gorontalo Terancam Dikeluarkan usai Video Perkelahiannya Viral, Aktivis Buka Suara

Siswa di Kota Gorontalo terancam dikeluarkan setelah video perkelahiannya viral di media sosial.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Siswa di Kota Gorontalo terancam dikeluarkan setelah video perkelahiannya viral di media sosial.

Meski kebijakan ini belum diambil pihak sekolah, sejumlah aktivis turut menanggapi polemik ini.

Menurut aktivis, pihak sekolah dianggap gagal mendidik jika ada siswa dikeluarkan.

 Hal itu disampaikan oleh Pandi Mohamad, Ketua Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia Strategis (PSDMS) dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Gorontalo.

Pandi menilai siswa bermasalah tidak harus dikeluarkan dari sekolah.

“Seharusnya pengeluaran siswa menjadi tindakan paling akhir yang diambil oleh pihak sekolah, atau justru itu menjadi pilihan yang tidak harus dipilih,” ungkapnya kepada TribunGorontalo.com, Rabu (11/12/2024).

Pandi menyebut sekolah adalah tempat pembentukan karakter. Para peserta didik dibina, bukan sekedar memberi hukuman.

“Sebab, jika pilihan mengeluarkan diambil, ini menandakan bahwa sekolah gagal dalam menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman,” bebernya.

Baca juga: Ryan Kono - Budi Doku Ajukan Gugatan ke MK, Tuntut Pemungutan Suara Ulang Pilkada Kota Gorontalo

Katanya, hukuman mengeluarkan siswa hanya solusi jangka pendek dan malah memperparah masalah.

“Karena sekolah sebagai lembaga pendidikan harus berpikir untuk kebaikan semua siswa, baik korban maupun pelaku,” terangnya.

Apabila siswa bersangkutan dikeluarkan dari sekolah, bukan tidak mungkin siswa tersebut putus sekolah.

Bagi Pandi, program ekstrakurikuler bisa jadi solusi jangka panjang untuk pembinaan karakter para siswa.

Dengan program ini nilai-nilai etika dan intelektual disebut bisa tertanam dalam diri siswa.

“Tambah juga agenda keagamaan perlu jadi prioritas dalam pendidikan karakter dengan bisa berkolaborasi dengan komunitas, lembaga, atau organisasi yang fokus pada pendidikan dan pembentukan personal devlompent,” paparnya.

Pendapat serupa dilontarkan Ketua Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPD IMM) Gorontalo, Muhammad Arif.

Arif mengaku turut prihatin atas kasus perkelahian siswa di lingkungan sekolah.

Ia menyoroti minimnya pengawasan dari dewan guru.

Di sisi lain, baginya mengeluarkan siswa dari sekolah bakal menimbulkan efek domino.

“Kalau siswa itu dikeluarkan, sekolah malah semakin menampakkan kegagalannya sebagai lembaga pendidikan. 
Kegagalan pertama, mereka lalai dalam mengawasi siswa dan kalau dikeluarkan maka mereka gagal melakukan pembinaan terhadap siswa yang bermasalah,” ungkap Arif.

Ia lantas meminta Dinas Pendidikan Kota Gorontalo dan juga pihak sekolah mempertimbangkan kembali kebijakan yang akan diambil.

“Jadi dinas dan pihak sekolah harus memikirkan kembali dampak terhadap keputusan yang diambil, sebab setiap siswa punya hak untuk masa depannya, dan pemerintah punya kewajiban atas hal tersebut,” tandasnya.


Jangan Ketinggalan Berita Peristiwa Terkini, Yuk Ikuti Halaman Facebook Tribun Gorontalo

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved