Berita Gorontalo
Keluhan Pedagang Kalimadu Gorontalo, Masalah Parkir Jadi Sorotan
Kawasan ini dikenal sebagai destinasi kuliner favorit warga untuk menikmati beragam makanan, mulai dari makanan cepat saji hingga hidangan berat dan a
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Kalimadu-Gorontalo-sebuah-kawasan-kuliner-di-Gorontalo.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Masalah parkir menjadi keluhan utama sejumlah pedagang di Pusat Kuliner Kalimadu, kawasan yang terletak di Jalan Kalimantan dan Jalan Madura, Kota Gorontalo.
Kawasan ini dikenal sebagai destinasi kuliner favorit warga untuk menikmati beragam makanan, mulai dari makanan cepat saji hingga hidangan berat dan aneka jajanan.
Namun, bagi pedagang seperti Salma Haras, parkir kendaraan yang tidak teratur justru menjadi penghalang utama dalam menjalankan usahanya.
"Masalahnya ini cuma oto-oto (mobil) yang parkir di depan lapak saya," ujar Salma dengan nada kesal saat ditemui, Sabtu (23/11/2024).
Salma menuturkan bahwa kendaraan yang parkir sembarangan sering kali menutupi lapaknya, sehingga calon pembeli kesulitan melihat dagangannya.
Ia menegaskan, jika kendaraan yang parkir adalah milik pembelinya, ia tidak keberatan. Namun, sebagian besar kendaraan tersebut milik orang-orang yang hanya nongkrong tanpa membeli.
"Mereka seharusnya nongkrong di tempat lain, bukan parkir di depan sini," tukas Salma.
Masalah ini berdampak langsung pada aktivitas jual-beli. Pembeli yang datang harus mencari tempat parkir lain yang lebih jauh, dan tidak jarang mereka justru beralih ke lapak lain.
Salma bahkan pernah meluapkan kekesalannya dengan memprotes pengendara yang parkir sembarangan di depan lapaknya.
Meskipun di kawasan Kalimadu sudah dipasang rambu-rambu parkir, hal ini dinilai Salma tidak sepenuhnya membantu.
Ia khawatir jika pengelolaan parkir diatur lebih ketat, seperti dengan menerapkan tarif parkir, pelanggan justru akan enggan datang.
"Kalau sampai ada pungutan parkir, nanti pelanggan saya akan lari," katanya.
Keluhan serupa juga diungkapkan oleh Sri Yanti Kadue, karyawan Salma. Ia menyoroti tingginya persaingan di Wisata Kuliner Kalimadu, terutama karena tidak adanya tarif khusus untuk membuka lapak.
Kondisi ini membuat pedagang dari luar daerah semakin banyak berdatangan, terutama di area atas kawasan Kalimadu.
"Bagian atas itu ramai dengan pedagang baru dari luar. Persaingan semakin ketat," ujar Yanti.