Human Interest Story
Hujan Jadi Momok Bagi Penambang Pasir di Bulango Utara Gorontalo, Aktivitas Lumpuh Total
Bukan sekadar basah kuyup, hujan menjadi momok yang mengancam keselamatan.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Penambang-pasir-di-Kecamatan-Bulango-Utara-Bone-Bolango-Gorontalo-Senin-18112024.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Hujan deras melumpuhkan aktivitas penambang pasir di Bone Bolango, Gorontalo, Senin (18/11/2024).
Bukan sekadar basah kuyup, hujan menjadi momok yang mengancam keselamatan.
Karena itu hujan memaksa mereka menghentikan aktivitas pencarian nafkah.
Di sepanjang aliran sungai, para penambang yang biasanya sibuk mengeruk pasir dari dasar sungai kini memilih diam dan menepi.
Bukan tanpa alasan, hujan deras sering kali menjadi awal dari datangnya banjir bandang.
Jika terjadi banjir dapat menyapu habis hasil kerja mereka, bahkan perahu yang mereka gunakan.
Sion Hulathali, seorang penambang pasir, mengungkapkan bahwa hujan deras selalu menjadi ancaman serius.
Setiap tetes hujan membawa kecemasan akan arus sungai yang tiba-tiba mel uap.
"Kalau hujan deras, kami pasti berhenti. Takut banjir datang tiba-tiba," ujarnya saat ditemui di bawah jembatan warna-warni, Senin sore.
Biasanya kata dia, banjir dengan arus besar, sering menyeret pohon-pohon besar.
Menurut Sion, risiko yang dihadapi tidak hanya soal pasir yang hanyut.
Perahu yang menjadi alat kerja utama juga sering kali menjadi korban keganasan arus sungai.
Hal ini membuat mereka tak punya pilihan selain menghentikan pekerjaan, meski konsekuensinya adalah hilangnya pendapatan hari itu.
"Kalau tidak kerja, ya tidak ada uang yang dibawa pulang. Tapi mau bagaimana lagi? Kami harus utamakan keselamatan," tambahnya.
Biasanya, para penambang pasir mulai bekerja sejak pagi sekitar pukul 08.00 Wita hingga menjelang Maghrib.
Dengan peralatan seadanya, mereka mampu mengumpulkan pasir yang cukup untuk memuat lima hingga enam truk dump setiap hari.
Namun, hujan deras selama lebih dari satu jam membuat seluruh aktivitas terhenti.
Dua kelompok besar penambang, yang bekerja di bawah jembatan warna-warni dan di arah Desa Kopi, memilih menghentikan operasi.
Sungai yang menjadi sumber penghidupan mereka justru berubah menjadi ancaman saat hujan turun.
“Di sini, hujan lebat pasti membuat kami waspada. Selain banjir, petir juga sering menyambar. Rasanya terlalu berisiko jika memaksa terus bekerja,” ungkap Sion.
Pasir dari aliran sungai ini menjadi salah satu komoditas penting bagi banyak pelanggan, mulai dari sopir truk hingga kontraktor.
Para penambang mematok harga Rp 350 ribu per ret untuk mobil besar dan Rp 100 ribu per ret untuk mobil kecil.
Namun, saat hujan turun, transaksi ikut lumpuh.
Sopir truk yang biasanya memesan melalui telepon kini tak bisa berharap banyak.
Para penambang hanya bisa menunggu hujan reda sebelum kembali melanjutkan pekerjaan.
“Kami biasa menyesuaikan pesanan pelanggan, ada yang minta pasir halus, ada yang kasar. Tapi kalau sudah hujan begini, semua pekerjaan harus berhenti dulu,” kata seorang penambang lainnya. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.