Debat Calon Gubernur Gorontalo
Calon Wakil Gubernur Gorontalo Debat soal Strategi Peningkatan Lama Sekolah, Begini Argumennya
Pertanyaan Moderator: "Tingkat partisipasi sekolah di Gorontalo masih rendah. Langkah strategis apa yang akan dilakukan untuk meningkatkan lama sekola
Penulis: Redaksi | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Strategi-Peningkatan-Lama-Sekolah-di-Gorontalo-Menjadi-Sorotan-di-Debat-Calon-Gubernur.jpg)
TRIBUNGORONTALO.CO.COM, Gorontalo -- Dalam sesi debat calon gubernur Gorontalo, moderator mengajukan pertanyaan terkait rendahnya tingkat partisipasi sekolah di Gorontalo. Para calon ditantang untuk memaparkan strategi yang akan mereka lakukan guna meningkatkan angka rata-rata lama sekolah dan akses pendidikan di daerah ini.
Pertanyaan Moderator: "Tingkat partisipasi sekolah di Gorontalo masih rendah. Langkah strategis apa yang akan dilakukan untuk meningkatkan lama sekolah di Gorontalo?"
Abdurrahman Bahmid, calon wakil gubernur dari pasangan Hamzah Isa, menargetkan peningkatan lama sekolah di Gorontalo hingga 12 tahun.
Menurutnya, memberikan dukungan finansial dan fasilitas adalah langkah utama untuk mendorong partisipasi pendidikan.
“Kami akan memberikan fasilitas lebih kepada siswa melalui hibah dan bantuan sekolah, termasuk seragam gratis berbahan karawo yang dapat membantu menggerakkan ekonomi lokal. Selain itu, kami akan memberikan beasiswa bagi siswa yang memiliki prestasi namun berasal dari keluarga kurang mampu,” kata Bahmid.
Dia juga menambahkan pentingnya pendekatan kepada orang tua untuk membangun mindset positif terkait pendidikan.
Idah Syahidah, calon wakil gubernur dari pasangan Gusnar Ismail, menekankan pentingnya memperkuat sektor pendidikan melalui peningkatan kesejahteraan guru dan penyediaan sarana-prasarana. “
Banyak sekolah yang belum memiliki perpustakaan. Kami akan memastikan ketersediaan fasilitas ini, memperbarui kurikulum agar relevan, dan mengembangkan sekolah kejuruan untuk menyiapkan lulusan yang siap kerja,” ujarnya.
Idah juga menekankan komitmen untuk mengakomodasi anak-anak penyandang disabilitas di sekolah negeri dan memanfaatkan teknologi informasi guna memperluas akses pembelajaran.
Marten Taha, calon wakil gubernur yang berpasangan dengan Tonny Uloli, menyoroti bahwa rata-rata lama sekolah di Kota Gorontalo sebenarnya lebih tinggi dibandingkan rata-rata provinsi.
“Ada tiga langkah yang harus kita perhatikan,” jelas Marten.
“Pertama, membuka akses pendidikan bagi semua siswa. Kedua, memperbaiki sarana dan prasarana agar anak-anak memiliki minat untuk sekolah. Dan ketiga, meningkatkan kualitas pendidikan dengan memperhatikan kesejahteraan guru, karena guru yang berkualitas akan mentransfer ilmu yang baik kepada siswa.”
Kris Wartabone, calon wakil gubernur dari pasangan Nelson Pomalingo, mengatakan bahwa peran provinsi terutama berkaitan dengan peningkatan sumber daya manusia (SDM).
“Kita perlu memberikan fasilitas khusus bagi siswa yang putus sekolah, mulai dari SD hingga SMA, melalui program paket C. Melalui pelatihan di Balai Latihan Kerja (BLK), mereka dapat meningkatkan kompetensi sehingga dapat memperbaiki Indeks Pembangunan Manusia (IPM),” ungkap Kris.
Dalam debat ini, para calon gubernur dan wakil gubernur Gorontalo menunjukkan berbagai pendekatan untuk meningkatkan partisipasi sekolah dan rata-rata lama pendidikan.
Dari dukungan finansial bagi siswa hingga peningkatan fasilitas sekolah, serta perbaikan kesejahteraan guru, masing-masing calon memiliki strategi yang saling melengkapi. (*)