Rabu, 4 Maret 2026

Human Interest Story

Pot Bunga ‘Mama Bety’, Usaha Keluarga yang Tetap Bertahan di Tengah Pasang Surut Bisnis

Ia pun berbagi kisah perjuangannya menjalankan bisnis pot bunga yang bernama ‘Mama Bety’, terinspirasi dari nama istri kakaknya.

Penulis: Syarifudin Madina | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Pot Bunga ‘Mama Bety’, Usaha Keluarga yang Tetap Bertahan di Tengah Pasang Surut Bisnis
FOTO: Syarifudin Madina, TribunGorontalo.com
Cerita Retno Botutihe Membantu Usaha Pot Bunga Miilik Keluarga di Kota Gorontalo 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo — Usaha pot bunga milik keluarga Botutihe menjadi salah satu usaha yang tetap bertahan meski dihadapkan pada berbagai tantangan.

Sebagai informasi, usaha tersebut berada di Kelurahan Tomulabutao, Kecamatan Dungingi, Kota Gorontalo.

Retno Botutihe (52) saat ini dipercaya untuk mengelola usaha milik kakaknya, Zulkifli Botutihe tersebut.

Ia pun berbagi kisah perjuangannya menjalankan bisnis pot bunga yang bernama ‘Mama Bety’, terinspirasi dari nama istri kakaknya.

Usaha ini didirikan pada tahun 2022 oleh Zulkifli setelah pensiun dari pekerjaannya di Pegadaian Gorontalo.

Setelah pensiun, Zulkifli memutuskan untuk memulai bisnis pot bunga, terinspirasi dari lingkungan sekitar yang mayoritas penduduknya juga menjual pot dan tanaman hias.

“Kakak saya itu awalnya berpikir mau buka usaha pot bunga karena di sini banyak yang usaha bunga dan cepat laris,” tutur Retno saat ditemui pada Senin (14/10/2024).

Memulai usaha dengan modal awal hanya Rp2 juta, Retno dan kakaknya membeli pot bunga yang sudah jadi dan menjualnya kembali dengan keuntungan yang sesuai.

“Jadi saya beli pot bunga yang sudah jadi, kemudian saya jual kembali sesuai dengan harga pot,” jelasnya.

Harga pot yang dijual bervariasi, mulai dari pot kecil seharga Rp35 ribu, pot standar dengan harga Rp50 ribu hingga Rp80 ribu, dan pot terbesar dengan harga Rp150 ribu hingga Rp200 ribu.

Meski harga terjangkau, Retno mengaku penghasilan dari usaha ini tidak selalu stabil.

 “Kadang dalam dua minggu saya bisa mendapatkan Rp100 ribu hingga Rp200 ribu, tapi ada juga bulan-bulan di mana dagangan tidak laris, sehingga tidak ada pemasukan,” ungkapnya.

Mayoritas pelanggan Retno adalah guru-guru sekolah, pekerja kantoran, dan masyarakat umum yang gemar menghias rumah mereka dengan tanaman hias.

“Biasanya paling banyak itu guru-guru yang membeli pot bunga dengan harga yang standar sampai yang besar untuk diletakkan di sekolah,” tambahnya.

Namun, tak semua transaksi berjalan mulus. Retno pernah mengalami kerugian akibat kesalahan dalam menetapkan harga.

“Saya pernah rugi, harga pot yang seharusnya Rp200 ribu, saya salah sebut jadi Rp80 ribu,” kenangnya dengan tawa kecil.

Tantangan lainnya adalah pembatalan pesanan secara tiba-tiba oleh pelanggan yang telah memesan jauh-jauh hari.

Selain berjualan di kios, Retno juga memanfaatkan media sosial untuk memasarkan dagangannya.

Dengan bantuan anaknya, Retno mempromosikan pot bunga melalui Facebook, yang turut membantu menjangkau lebih banyak pelanggan. 

Meski demikian, ia mengakui bahwa usahanya tidak selalu berjalan mulus. Ada masa-masa di mana pot bunga tidak terjual sama sekali dalam sebulan penuh.

“Kadang saya harus menurunkan harga atau melakukan tawar-menawar, tergantung kondisi pot yang diinginkan oleh pelanggan,” ujar Retno mengenai tantangan lain yang sering ia hadapi dalam menjaga keseimbangan antara kualitas produk dan kepuasan pelanggan.

Meskipun dihadapkan pada berbagai kesulitan, Retno tetap optimis dan berharap bahwa usahanya akan terus berkembang dan laris manis di masa depan.

“Harapannya, semoga usaha ini lancar terus, banyak yang beli, dan laris,” harapnya penuh semangat.(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved