Tribun Wisata
Kejadian Mistis di Makam Keramat Male Ta Ilayabe, Pengalaman Tak Masuk Akal Sang Juru Pelihara
Kepada TribunGorontalo.com, pria berusia 44 tahun ini berbagi cerita tentang pengalaman mistis yang dialaminya selama menjaga makam keramat tersebut.
Penulis: Redaksi | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Makam-Keramat-Male-Ta-Ilayabe-Gorontalo-Rabu-09102024.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Ismail Danial, penjaga setia Makam Keramat Male Ta Ilayabe di Gorontalo, telah mengabdi selama lebih dari satu dekade.
Selama itu, ia sering mengalami kejadian-kejadian yang sulit diterima oleh akal sehat.
Kepada TribunGorontalo.com, pria berusia 44 tahun ini berbagi cerita tentang pengalaman mistis yang dialaminya selama menjaga makam keramat tersebut.
Salah satu kisah yang paling membekas dalam ingatannya adalah ketika seorang pengunjung bernama Taci datang dari Jakarta.
Meskipun Ismail tidak ingat dengan pasti kapan kunjungan itu terjadi, ia mengingat bahwa Taci datang dalam kondisi sakit parah, divonis lumpuh oleh dokter.
Didorong oleh rekomendasi keluarga, Taci memutuskan berziarah ke Makam Keramat Male Ta Ilayabe.
Untuk mencapai makam, pengunjung memang harus menempuh jarak sekitar 200 meter dengan medan yang menanjak.
Tak heran, Taci dan suaminya sempat tertidur karena kelelahan setelah sampai di sana.
Namun, yang mengejutkan terjadi beberapa saat kemudian.
Taci tiba-tiba terbangun dengan sensasi aneh—ia merasa seperti ada yang mengusap punggungnya.
Ajaibnya, bagian tubuh yang sebelumnya divonis lumpuh kini dapat digerakkan kembali.
Kisah mistis tidak berhenti di sana. Ismail juga menceritakan tentang kunjungan seorang Syeh dari Singapura.
Ketika tiba di makam, Syeh tersebut langsung menangis.
Saat ditanya mengapa, ia mengaku mendapat "pesan" tak terduga saat berada di Kabah.
Ia mengklaim bahwa Imam Besar Male Ta Ilayabe menampakkan diri kepadanya dan memintanya datang ke Gorontalo untuk berziarah ke makam tersebut.
Makam Keramat Male Ta Ilayabe memang menjadi tempat ziarah yang sering dikunjungi.
Tidak hanya oleh wisatawan yang penasaran akan cerita-cerita kearifan lokal, tetapi juga oleh para santri yang menghormati makam ini sebagai tempat peristirahatan seorang Aulia atau Wali di Gorontalo.
Namun, Ismail, yang telah menjadi juru pelihara makam sejak tahun 2011, memiliki satu aturan ketat: pengunjung tidak diperbolehkan membawa sesajen.
Menurutnya, makam tersebut selalu terbuka untuk umum setiap hari, bahkan di waktu-waktu yang tidak biasa.
“Ada pengunjung tengah malam yang mau ziarah,” ucap Ismail, mengenang satu momen di mana ia menunggu peziarah hingga pukul 04.00 Wita, tepat sebelum waktu salat Subuh.(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.