Ristianto Pribadi melanjutkan, Provinsi Gorontalo sebetulnya memiliki potensi yang besar untuk industri wood pellet. Sebab, Gorontalo memiliki pabrikasi wood pellet terbesar di Indonesia dengan total kapasitas produksi sebesar 1,14 juta metrik ton per tahun. Sementara kapasitas produksi wood pellet di provinsi lain hanya berkisar 5.000 - 200.000 metrik ton per tahun.
Gorontalo juga memiliki keunggulan dari sisi geografis. Saat ini, target pasar wood pellet Gorontalo adalah Jepang dan Korea Selatan. Jarak kedua negara tersebut lebih dekat dengan Gorontalo dibandingkan daerah lain sehingga akan menghemat waktu dan ongkos pengiriman.
"Kita harus berbangga dengan Gorontalo. Ini yang harus kita optimalkan untuk membangun dan mengembangkan ekonomi masyarakat Gorontalo. Jangan sampai investor kapok berinvestasi," imbuh Ristianto.
Pada panel diskusi di acara yang sama, Gubernur Gorontalo yang diwakil Plh. Sekretarus Daerah Provinsi Gorontalo Handoyo Sugiharto mengatakan tanpa investor sulit untuk membangun Gorontalo, hal ini mengingat pendapatan asli daerah (PAD) Gorontalo yang hanya Rp 500 miliar.
“Kalau ke depan tidak ada sentuhan atau dana dari swasta, maka Gorontalo akan begini-begini terus. Makanya kita harus membuka diri. Kita mempersilahkan investor membangun di Gorontalo. Jadi ini kebijakan kita dalam rangka penanggulangan kemiskinan khususnya yang miskin ekstrim yang adanya di pedesaan. Dan tantangan lain juga bagaimana menurunkan angka stunting di Gorontalo,” kata Handoyo.(***)