Jumat, 6 Maret 2026

Biomasa Jaya Abadi

APREBI Sebut Industri Biomassa Investasi Bermanfaat Atasi Kemiskinan dan Stunting

Asosiasi Produsen Energi Biomassa Indonesia (APREBI) menyatakan industri biomasa merupakan investasi yang bermanfaat bagi masyarakat termasuk un

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Ponge Aldi
zoom-inlihat foto APREBI Sebut Industri Biomassa Investasi Bermanfaat Atasi Kemiskinan dan Stunting
BJA
Asosiasi Produsen Energi Biomassa Indonesia (APREBI) menyatakan industri biomasa merupakan investasi yang bermanfaat bagi masyarakat termasuk untuk mengatasi kemiskinan dan stunting khususnya di Gorontalo. 

TRIBUNGORONTALO.COM - Asosiasi Produsen Energi Biomassa Indonesia (APREBI) menyatakan industri biomasa merupakan investasi yang bermanfaat bagi masyarakat termasuk untuk mengatasi kemiskinan dan stunting khususnya di Gorontalo.

Namun terkendala adanya isu-isu yang menghambat, sehingga perlu membuka komunikasi antara perusahaan biomassa, masyarakat dan pemerhati lingkungan.

“Dari beberapa dinas meminta asosiasi untuk membuka komunikasi dengan masyarakat Gorontalo, pemerhati lingkungan sehubungan dengan adanya isu-isu yang menghambat pembangunan di Gorontalo yakni yang terkait dengan industri biomasa,” kata Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Energi Biomassa Indonesia (APREBI), Dikki Akhmar dalam Forum Group Discussion Nasional di Gorontalo, Sulawesi, Kamis (19/9/2024).

Dikki menambahkan perhatian pemerintah untuk mengatasi isu-isu negatif yang mengganggu industri biomassa itu karena di satu sisi pemerintah di Gorontalo sedang giat-giatnya mengatasi kemiskinan dan stunting.

 

Asosiasi Produsen Energi Biomassa Indonesia (78888
Asosiasi Produsen Energi Biomassa Indonesia (APREBI) menyatakan industri biomasa merupakan investasi yang bermanfaat bagi masyarakat termasuk untuk mengatasi kemiskinan dan stunting khususnya di Gorontalo.


Di sisi lain adanya investasi industri biomassa yang menjadikan salah satu andalan Pemerintah Gorontalo dalam membantu mengatasi masalah kemiskinan dan stunting dihambat oleh adanya provokasi pemerhati lingkungan FWI yang beranggapan bahwa Industri ini akan merusak lingkungan hidup khususnya kawasan Hutan Gorontalo.

“Asosiasi ingin mengharmonisasikan itu dengan menggelar Forum Group Discussion (FGD) dengan tema Membangun Gorontalo dengan Menjaga Etika Lingkungan. Kita bawa professor ahli bioenergi, aparat hukum, dan Asosiasi Masyarakat Energi Biomassa Indonesia, serta dua regulator dari direktorat Kementerian Lingkungan Hidup (KLHK) untuk menjelaskan apa yang di khawatirkan terhadap risiko lingkungan itu tidak akan terjadi, karena ada tata cara kelola hutan yang perusahaan biomasa lakukan,” ujar Dikki.

Kalau ditemukan adanya pelanggaran, tentunya semua pihak termasuk KLHK akan mengambil tindakan. APREBI sebagai asosiasi punya kewenangan sesuai kesepakatan dalam AD/ART boleh menegur, juga dapat memberikan perlindungan kepada anggota.

Industri ini bukan dibangun dengan biaya yang murah, butuh invetasi hingga Rp 1-2 triliun. Dengan demikian perusahaan biomassa pasti menjaga keberlangsungan (sustainability) dan kesinambungan bisnis. Pelaku usaha juga pasti mempertimbangkan keamanan dan perlindungan sosial masyarakat dan perlindungan ekosistem, sebagai syarat terjadinya sustainability.

“Dari sisi pengusaha, aparat hukum, dan pemerintah sudah clear soal sustainability pada indstri biomassa yang ada di Gorontalo. Tinggal LSM lingkungan yang berbeda penilaiannya. Karena itu APREBI mengundang mereka seperti FWI dan Japesda untuk hadir dalam kesempatan FGD ini, tapi mereka lebih memilih tidak hadir. Rupanya mereka lebih memilih sentimen daripada argumen,” ujar Dikki.
Kontribusi Biomassa

Terkait kontribusi dari industri biomassa, Dikki mencontohkan PT Biomasa Jaya Abadi (BJA), perusahaan produsen wood pellet (pelet kayu) di Gorontalo.

 PT BJA telah banyak menyerap tenaga kerja. Dari 1.064 tenaga kerja yang dipekerjakan, 80 persen adalah warga lokal. Pekerja lokal yang direkrut, juga dibekali dengan pelatihan.

Bukan hanya itu, lanjut Dikki, pelaku industri ini juga membayar pendapatan negara bukan pajak (PNBP) lebih dari Rp 40 miliar sejak beroperasi hingga tahun 2024.

Dari angka itu, 60 persen disalurkan ke pemerintah daerah yang selanjutnya akan dibagi 30 persen  ke pemerintah provinsi dan sisanya untuk pemerintah kabupaten dimana industri beroperasi. Perusahaan juga menyalurkan CSR.

Direktur Operasional PT Biomasa Jaya Abadi (BJA) Burhanuddin menyebutkan bersama kedua mitranya selaku pemilik hak guna usaha (HGU), PT Inti Global Laksana dan PT Banyan Tumbuh Lestari (BTL), PT BJA telah mengucurkan investasi lebih dari Rp 1,7 triliun yakni Rp 1,4 triliun di PT BJA, dan Rp 237,6 miliar di PT BTL serta Rp 107,2 miliar di PT IGL hingga Juni 2024.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved