Sabtu, 28 Maret 2026

Human Interest Story

Sosok Yamin Pakaya, Suka Rela jadi Penjaga Menara Keagungan Limboto Gorontalo meski Tak Diupah

Menara Keagungan Limboto menjadi ikon Kota Limboto di Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo.

Tayang:
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Sosok Yamin Pakaya, Suka Rela jadi Penjaga Menara Keagungan Limboto Gorontalo meski Tak Diupah
TribunGorontalo.com/Jefry Potabuga
Sosok Yamin Pakaya, penjaga Menara Limboto sejak tahun 2003. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Menara Keagungan Limboto menjadi ikon Kota Limboto di Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo.

Menara setinggi 65 meter ini memiliki kemiripan bentuk dengan Menara Eiffel di Kota Paris, Prancis.

Menara Keagungan Limboto dibangun sejak tahun 2003 saat kepemimpinan Bupati Kabupaten Gorontalo periode 2000-2005, Alm. Ahmad Hoesa Pakaya.

Karena itulah, nama lain dari Menara Keagungan Limboto ini disebut Pakaya Tower.

Menara Keagungan Limboto sampai kini masih jadi satu dari sekian tempat paling ramai dikunjungi masyarakat pada malam hari. Terutama pada Sabtu malam.

Di balik keindahan Pakaya Tower, pernahkah Anda bertanya siapa sosok penjaga menara?  

Penjaga Menara Keagungan Limboto adalah Yamin Pakaya (55). Warga Pentadio Resort, Desa Pentadio Barat, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo ini menjaga menara secara suka rela.

Selama pernikahannya dengan Lian Majid (43), Yamin telah dikaruniai 10 anak.

Yamin mulai menjaga Menara Keagungan Limboto sejak pertama kali diresmikan.

"Saya di sini dari peresmian menara ini, saya dulu pernah mengelola Pentadio Resort, Menara Keagungan, dan Kebun Binatang juga," ungkapnya saat ditemui TribunGorontalo, Selasa (10/9/2024).

Yamin sejatinya sempat berhenti menjadi penjaga menara pada tahun 2013.

Kala itu ia merantau ke Ambon. Setelah pulang kampung pada 2022, Yamin kembali berjaga.

Yamin sekarang tinggal seorang diri menjaga Menara Keagungan Limboto.

"Begitu saya kembali di Gorut sama istri saya dan pada saat itu saya belum punya pekerjaan. Secara kebetulan teman saya yang menjaga sama-sama dulu tiba-tiba telepon. Katanya dia sedang sakit dan hanya saya yang bisa menggantikannya, akhirnya saya kembali," terangnya.

Selain itu, Yamin mengaku dirinya tak diupah tapi saat ini dirinya telah mengurus surat keterangan (SK) kontrak dari Pemerintah Kabupaten Gorontalo.

Namun ia tetap bersyukur meski tak diupah, sebab Yamin masih bisa menerima uang retribusi dari pedagang yang berjualan di sekitar menara. Mereka membayar retribusi dalam hitungan hari.

"Saya belum ada gaji, cuma yang memungut retribusi pedagang di sini saya, jadi saya yang mengatur mereka. Pemungutan itu ada per hari dan per bulan," ujarnya.

Menara Keagungan Limboto
Penampakan Menara Keagungan Limboto dari Masjid Agung Baiturrahman Limboto (TRIBUNGORONTALO/HERJIANTO TANGAHU)

Baca juga: Paras Cantik Menara Keagungan Limboto Gorontalo Malam Hari

Yamin menuturkan, setengah dari retribusi masuk ke kas Pemerintah Daerah Kabupaten Gorontalo sesuai dengan Peraturan Daerah (Perda) yang berlaku.

"Saya pungut Rp5 ribu tiap malam. Karena pakai lampu di menara ini, jadi uang dari lampu itu masuk di kasnya daerah sesuai dalam Perda, begitu juga bulanan Rp100 ribu," tuturnya.

Yamin tinggal di bawah menara bersama istri dan beberapa anaknya. Mereka tidur di dalam bangunan kecil.

Meski begitu, ia bersyukur karena dua anaknya kini mengenyam pendidikan di Universitas Negeri Gorontalo (UNG).

Sementara beberapa anaknya berjualan di dekat menara. Sisanya berada di kampung halaman ibunya di Gorontalo Utara.

Yamin mengaku saat ini pengunjung menara sepi dikarenakan rusaknya lift.

Menurutnya, keberadaan lift jadi daya tarik bagi wisatawan untuk melihat keindahan Kota Limboto dari atas menara.

"Sedangkan malam Minggu sama malam Kamis saat ini jarang sekali yang masuk. Kadang hanya satu dua orang, kecuali lift kalau jalan pasti banyak," imbuhnya.

Kata Yamin, lift sudah rusak sebelum ia kembali berjaga.

"Mulai saya sampai di sini lift ini sudah tidak berfungsi, biasanya ada rombongan terpaksa mereka naik tangga manual," ungkapnya.

Pengunjung ingin naik di menara wajib membayar Rp10 ribu per orang.

Adapun lampu hias menara hanya dinyalakan setiap Rabu malam dan Sabtu malam saja. 

Yamin saat ini sudah mengantongi 
surat perintah tugas (SPT) dari Pemda Kabupaten Gorontalo.

"Alhamdulilah, Ibu Kadis dan Pak Sek memperhatikan saya di sini. Mereka sendiri yang keluarkan surat tugas, tidak bisa ganggu gugat saya di sini untuk melakukan pengamanan menara," pungkasnya.

 

Ikuti Saluran WhatsApp TribunGorontalo untuk informasi dan berita menarik lainnya

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved