Zona Perang
Sukarelawan Indonesia Direkrut Rusia untuk Berperang Melawan Ukraina
Dalam unggahan di saluran Telegram, Batalyon "ArBat" menyatakan bahwa beberapa warga Indonesia telah menyatakan kesediaannya untuk menjalani pelatihan
Penulis: Redaksi | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Seorang-tentara-Rusia-di-medan-perang.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM -- Sebuah kabar mengejutkan datang dari medan perang Ukraina. Batalyon "ArBat," sebuah unit militer Armenia yang terintegrasi dalam Brigade Internasional "Fifteen," mengumumkan perekrutan sukarelawan dari Indonesia.
Informasi itu menyebutkan bahwa relawan Indonesia direkrut bergabung dalam konflik di wilayah yang diduduki Ukraina.
Pengumuman ini memicu perhatian luas, mengingat keterlibatan warga Indonesia dalam perang internasional sangat jarang terjadi.
Dalam unggahan di saluran Telegram, Batalyon "ArBat" menyatakan bahwa beberapa warga Indonesia telah menyatakan kesediaannya untuk menjalani pelatihan militer di Republik Rakyat Donetsk, sebuah wilayah yang menjadi pusat konflik Rusia-Ukraina.
Video yang menyertai pengumuman tersebut memperlihatkan beberapa orang Indonesia meneriakkan slogan dukungan terhadap batalyon tersebut, menambah kontroversi terkait kabar ini.
Unit "ArBat," yang didirikan pada September 2022, dikenal sebagai pasukan khusus dengan kemampuan serangan mobil yang tangguh.
Dipimpin oleh Heik Gasparyan, mantan anggota grup militer Wagner yang terkenal, unit ini secara resmi berafiliasi dengan Kementerian Pertahanan Rusia sejak Juli 2023.
Saat ini, mereka aktif dalam operasi militer di wilayah Kursk, Rusia.
Namun, keterlibatan warga Indonesia dalam perekrutan ini belum diakui oleh pemerintah Indonesia.
Fenomena perekrutan tentara bayaran untuk perang di Ukraina bukanlah hal baru.
Rusia telah merekrut warga dari berbagai negara, termasuk India, Nepal, Suriah, dan Somalia, dengan iming-iming gaji tinggi dan keuntungan lainnya.
Namun, banyak dari mereka dilaporkan langsung dikirim ke garis depan begitu tiba di Rusia, menimbulkan kekhawatiran dari pemerintah negara asal mereka. (*)