Gorontalo Terkini
Pameran Roh Laut Perupa Gorontalo Manfaatkan Limbah Kayu jadi Karya Seni
Pria yang kerap disapa “Jon Kabila” itu memamerkan karya-karya seni miliknya di Huntu Art Distik, Desa Huntu Selatan, Bone Bolango, Gorontalo.
Penulis: Redaksi | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Karya-seni-Halid-Mustapa-alias-Jon-Kabila-memanfaatkan-limbah-limbah-laut.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo — Halid Mustapa, seorang perupa Gorontalo menggelar pameran bertajuk Roh Laut, Sabtu (10/8/2024).
Pria yang kerap disapa “Jon Kabila” itu memamerkan karya-karya seni miliknya di Huntu Art Distik, Desa Huntu Selatan, Bone Bolango, Gorontalo.
Lokasi pameran ini juga menjadi tempat pelaksanaan Pasar Ambuwa yang sejak beberapa tahun ini digelar oleh para perupa Gorontalo.
Sebagai informasi, karya-karya yang dipamerkan oleh Halid ini merupakan seri lanjutan yang pernah ia pamerkan sebelumnya di Ruang Dalam House Art Yogyakarta pada tahun 2021 silam.
Ia memanfaatkan serpihan kayu limbah, plat besi, bekas jaring nelayan, sampai potongan kayu perahu nelayan, menjadi bentuk-bentuk yang menyerupai perahu, ikan, tanaman, dan bentuk abstrak yang memiliki nilai seni bagi penikmatnya.
Halid mengungkapkan, bahwa pilihannya memanfaatkan medium sampah dari laut tersebut untuk dijadikan sebuah karya bukanlah tanpa sebab.
Dia mengungkapkan, pilihannya memungut sampah-sampah berawal dari keresahannya saat memancing di laut dan kerap menemukan sampah yang hanyut dan berserakan di tepi pantai.
Halid menganggap, serpihan sampah tersebut merupakan bagian dari laut yang pernah mengarungi lautan bermil-mil jauhnya sebelum akhirnya terdampar.
Serpihan kayu pohon, bekas jaring nelayan, hingga potongan perahu, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia dan laut.
Melalui karyanya ini, Halid kembali ingin mengingatkan kepada semua orang, bahwa dulunya sampah-sampah ini adalah bagian dari hubungan manusia dan laut.
Sampah ini pernah menjadi bagian penting yang menunjang kehidupan manusia, sebelum akhirnya diabaikan.
Roh laut sendiri merupakan hasil sekelumit pengalaman Halid dengan laut.
Meski tidak dibesarkan di pesisir pantai, namun kegemarannya memancing ikan di laut menjadikan ia memiliki hubungan emosional dengan laut dan segala ekosistem yang menaunginya.
Halid menganggap, roh laut meskipun mistis bagi masyarakat nelayan tradisional, namun ia memiliki keterikatan emosional antara hubungan manusia dengan alam, khususnya laut.
Halid bercerita, sewaktu ia memancing menggunakan perahu, ia menemukan sebongkah kayu yang terapung dan sekilas memiliki imaji akan roh laut.
Kayu yang terapung itu begitu tenang seakan melayang antara batasan horizon laut dan langit. Ia
Roh laut sendiri merupakan pameran tunggal perdana yang ia lakukan.
Jika sebelumnya, Halid kerap mengikuti pameran secara komunal bersama dengan seniman lainnya, kali ini, ia mencoba untuk unjuk gigi melalui karya miniatur yang telah lama ia geluti.
Pameran roh laut ini menampilkan puluhan karya yang diciptakan dari hasil “memungut” sampah di tepian pantai.
Selama kurun waktu setahun, Halid mencoba memungut sampah kayu, plastik, bekas tali, hingga bagian-bagian perahu untuk dirangkai dengan sensibilitas yang tinggi, menjadi sebuah bentuk yang abstrak, unik, penuh magis, dan mengunggah siapa saja yang menikmatinya untuk merenungi kehidupan laut seturut dengan problem sampah yang melingkupinya.
Karya-karya hasil dari buah tangan Halid, menyuguhkan interpretasi unik mereka tentang lautan sebagai sumber inspirasi.
Setiap karya dalam pameran ini menggambarkan kekayaan alam bawah laut, mitos dan legenda maritim, serta hubungan manusia dengan lautan yang telah berlangsung sejak zaman dahulu.
Karya yang ditampilkan mencakup berbagai media, termasuk serat, kayu, logam, jaring, bahan fiber.
Melalui eksplorasi material ini, Halid mencoba menangkap esensi dari lautan—baik dalam bentuk kehidupan laut yang dinamis maupun dalam keheningan yang mendalam di dasar Teluk Tomini.
Halid secara tidak langsung ingin mengunggah kesadaran ekologis kita akan laut dengan sampah yang kerap manusia hasilkan.
Meskipun sering memperlakukan laut bak tempat sampah raksasa, namun laut selalu memberikan kita kehidupan dengan keragaman hayati.
Roh laut adalah semacam pesan bagi manusia untuk kembali merefleksikan diri, bahwa manusia seharusnya menjaga keharmonisan alam dengan kesadaran ekologis yang penuh.
Pameran ini rencananya akan dilangsungkan mulai 10 Agustus hingga Oktober 2024 dan dapat dinikmati selama kegiatan Pasar Ambuwa di Huntu Art Distrik (Hartdisk).
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.