Tribun Podcast
Kisah Oskar N Abas Keluar dari Pekerjaan Memilih jadi Relawan SAR
Oskar memulai perjalanannya sebagai relawan pada tahun 2015, saat masih berstatus mahasiswa di Universitas Negeri Gorontalo.
Penulis: Fernandes Siallagan | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Oskar-N-Abas-Relawan-Rumah-Zakat-Gorontalo-dalam-Tribun-Podcast-Kamis-882024.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM – Dalam sebuah episode Tribun Podcast pada Kamis (8/8/2024), Oskar N. Abas, anggota relawan Rumah Zakat Gorontalo, mengungkapkan perjalanan hidupnya yang penuh dedikasi sebagai relawan.
"Bagi teman-teman semua yang ingin jadi relawan, pastikan orientasi tertinggi Anda adalah Lillah," ucapnya, mengawali kisahnya yang sarat dengan tantangan dan pengorbanan.
Oskar memulai perjalanannya sebagai relawan pada tahun 2015, saat masih berstatus mahasiswa di Universitas Negeri Gorontalo.
Namun, pada 2017-2018, ia menghadapi keputusan sulit: berhenti sejenak dari aktivitas relawan demi fokus pada pekerjaan dan menyelesaikan pendidikannya.
Meskipun berat, ia memilih tetap bertahan dalam grup relawan meski tak bisa aktif di lapangan.
Namun, panggilan hatinya sebagai relawan tak pernah pudar. Pada 2023, Oskar mengambil keputusan besar—keluar dari pekerjaannya di salah satu perusahaan swasta terbesar di Gorontalo.
Langkah ini diambilnya setelah lima tahun bergelut dalam dilema antara karier formal dan hasratnya untuk kembali menjadi relawan SAR di Provinsi Gorontalo.
Untuk menyesuaikan dengan gaya hidup barunya, Oskar beralih menjadi pekerja lepas di bidang desain, yang memberinya fleksibilitas waktu lebih banyak untuk mengabdikan diri sebagai relawan.
Pengabdian Oskar pun tidak main-main. Saat bencana banjir melanda Gorontalo, terutama akibat luapan Danau Limboto, Oskar dan timnya bertahan selama dua puluh hari di lokasi banjir, membentuk dapur umum untuk memastikan kebutuhan konsumsi para korban terpenuhi.
“Itu berlangsung sampai dua puluh hari dan tidak digaji. Ini bantu orang dan memperhatikan kesehatan sendiri,” tambahnya, menggambarkan pengorbanannya yang tak kenal pamrih.
Namun, menjadi relawan tidak selalu mulus. Saat bertugas sebagai relawan di Kota Bitung, Provinsi Gorontalo, pada bencana meletusnya Gunung Ruang, Oskar mengalami kecelakaan sepeda motor saat perjalanan pulang.
Meski begitu, ia tetap tegar, "Ya qodarullah, kalau Allah bilang celaka ya celakalah," ujarnya dengan ikhlas.
Tantangan lain yang sering dihadapi Oskar sebagai relawan adalah dalam melakukan asesmen korban bencana.
Asesmen ini bertujuan untuk mengumpulkan data dan kebutuhan para korban, namun tidak selalu disambut baik.
Ia pernah mendapat respons negatif dari korban yang enggan memberikan informasi.