Berita Nasional Terkini
Kadernya Temui Presiden Israel, Sekjen PBNU: Melukai Perasaan Kita Semua
Foto yang memperlihatkan kelima tokoh muda NU berpose bersama Isaac Herzog menjadi viral di media sosial dan mendapat banyak kecaman.
Penulis: Redaksi | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/lima-orang-anggota-NU-pergi-ke-Israel-untuk-bertemu-Presiden-Isaac-Herzog.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM -- Aksi lima tokoh muda dan cendekiawan Nahdlatul Ulama (NU) yang bertemu dengan Presiden Israel Isaac Herzog menuai kritik tajam dari berbagai pihak, termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Foto yang memperlihatkan kelima tokoh muda NU berpose bersama Isaac Herzog menjadi viral di media sosial dan mendapat banyak kecaman.
Dalam foto yang diunggah di akun Instagram Zainul Maarif, terlihat lima cendekiawan NU berpose sambil tersenyum, dengan Isaac Herzog duduk di depan mereka sambil tersenyum.
Zainul Maarif adalah salah satu orang yang berfoto bersama Presiden Israel tersebut.
Foto ini menuai kritik karena dianggap melanggar prinsip kemanusiaan.
Pertemuan ini mendapatkan reaksi keras karena Israel terus melakukan serangan brutal di Gaza.
Agresi dan tindakan genosida oleh Israel di Gaza dan Palestina menyebabkan banyak korban sipil, termasuk lansia, perempuan, dan anak-anak.
Dalam foto yang tersebar, Presiden Israel mengenakan stelan jas warna biru gelap, sementara lima cendekiawan muda NU berdiri di belakangnya, dengan beberapa mengenakan batik dan jas, tersenyum bahagia.
Mereka adalah Gus Syukron Makmun, Dr. Zainul Maarif, Munawar Aziz, Nurul Bahrul Ulum, dan Izza Annafisah Dania.
Setelah foto ini ramai diperbincangkan, akun Instagram @nahdlatululama dibanjiri kecaman dari netizen.
Beberapa netizen mengkritik sikap NU yang dianggap mendukung gerakan zionis Israel.
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Savic Ali, menilai pertemuan ini sebagai tindakan yang tidak dapat diterima di tengah serangan Israel ke Palestina.
Savic Ali menegaskan bahwa kunjungan kelima warga NU tersebut bukan atas nama organisasi, dan PBNU tidak mengetahui dukungan pihak mana yang membuat mereka berangkat ke Israel.
"Kemungkinan kunjungan mereka atas nama pribadi. Kita tidak tahu tujuannya apa dan siapa yang mensponsorinya. Ini tindakan yang disesalkan," ujarnya pada Minggu (14/7/2024), dikutip dari Tribunnews.com.
Savic Ali juga menyatakan bahwa kunjungan tersebut menunjukkan kurangnya pemahaman terhadap geopolitik dan kebijakan NU sebagai organisasi.
Sekretaris Jenderal PBNU, Saifullah Yusuf (Gus Ipul), menyebut kepergian lima orang ini ke Israel sebagai tindakan yang sangat tidak bijaksana di tengah situasi memanas antara Israel dan Palestina.
Terlebih lagi, NU sebagai organisasi selalu berada di barisan depan mengutuk serangan yang dilakukan Israel.
"Kunjungan itu juga melukai perasaan kita semua," kata Gus Ipul.
Menurut Gus Ipul, PBNU saat ini sedang mendalami persoalan ini.
Selain itu PBNU juga segera memanggil mereka untuk dimintai keterangan.
"Yang bersangkutan akan dipanggil untuk dimintai keterangan dan penjelasan lebih dalam tentang maksud tujuannya, latar belakang dan siapa yang memberangkatkan serta hal-hal prinsip lainnya," ujar Gus Ipul.
PBNU juga memanggil pimpinan badan otonom dan lembaga PBNU tempat lima aktivis NU ini mengabdi."
"Jika ditemukan unsur pelanggaran organisasi, bukan tidak mungkin kelima orang ini akan diberhentikan dari statusnya sebagai pengurus lembaga atau banom," tegasnya.
Tak hanya pihak PBNU, Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga menyesalkan aksi para Nahdliyin tersebut.
Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional, Sudarnoto Abdul Hakim, menyesalkan lima tokoh muda NU yang bertemu dengan Presiden Israel Isaac Herzog.
Sudarnoto menilai, pertemuan ini tidak layak terjadi di tengah genosida terhadap warga Palestina oleh Israel.
"Saya sangat menyesalkan sekali ada aktivis muda NU pergi ke Israel."
"Sangat memprihatinkan saat puluhan ribu warga Palestina dibunuh secara bengis dan menjijikkan oleh Israel, lima aktivis ini bertemu Presiden Israel."
"Semua warga bangsa Indonesia memang berhak dan bahkan wajib membela Palestina," kata Sudarnoto kepada Tribunnews.com, Senin (15/7/2024).
Sudarnoto meminta para aktivis muda NU tersebut tidak mengabaikan konstitusi.
Menurut Sudarnoto, para aktivis muda NU tersebut telah melanggar konstitusi dengan bertemu Presiden Israel. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.