Human Interest Story
Cerita Erfina Suleman, Penjual Burger di Depan Universitas Negeri Gorontalo
Cerita Erfina Suleman (28), penjual burger di kawasan kantin Sabilurrasyad kampus 1 Universitas Negeri Gorontalo (UNG).
Penulis: Rafiqatul Hinelo | Editor: Ponge Aldi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Erfina-Suleman-28-penjual-burger-di-lapak-Crabby-Fina-8999.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Cerita Erfina Suleman (28), penjual burger di kawasan kantin Sabilurrasyad kampus 1 Universitas Negeri Gorontalo (UNG).
Erfina atau akrab disapa Fina, memilih burger sebagai produk makanan yang ia jual di lapak kecilnya itu.
'Crabby Fina', begitu ia menamai lapak burger miliknya.
"Bisa dibilang, burger adalah salah satu makanan favorit saya," kata Fina.
Meski begitu, rupanya hobi makan burger bukan alasan utama bagi Fina memilih berjualan.
"Saya memilih berdagang, karena merasa kurang nyaman bekerja sebagai pegawai toko," ungkap Fina.
Fina menceritakan bahwa sebelumnya ia pernah bekerja menjadi pegawai di dua toko berbeda.
Setelah melakukan eksplorasi, Fina merasa tantangan terbesar baginya adalah membangun relasi yang sehat dengan rekan kerja.
"Dalam 2 kali pengalaman saya bekerja sebagai pegawai toko, cukup sulit bagi saya menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja,"
"Karena saya lebih banyak bertemu rekan kerja yang kurang bisa diajak kerjasama dengan baik," ujarnya.
Tantangan tersebut lantas mendorong Fina untuk mencari jalan karier lain.
Ia kemudian mencoba bekerja di lapak burger milik orang.
Dari situ, mulai lahir ketertarikan Fina untuk membuka usaha sendiri.
"Akhirnya saya terdorong buka usaha kecil-kecilan," kata Fina.
Bagi Fina, tidak mudah mengawali masa transisi dari pekerja menjadi seseorang yang harus bertanggung jawab penuh atas usaha yang dirintis.
Ia menjalaninya secara perlahan.
"Saya mulai siapkan satu per satu, mulai bikin lapak, siapkan bahan-bahan, dan seterusnya," ucap Fina.
Awalnya, Fina berjualan di rumahnya, sebelum kemudian memberanikan diri berjualan di kawasan kantin Sabilurrasyad UNG.
Selain burger, Fina mencoba berkreasi dengan menambah menu baru.
"Saya coba tambah tahu walik, eh ternyata banyak yang tertarik, tapi tidak saya sediakan setiap waktu, " kata Fina.
Burger di lapak Crabby Fina, dijual dengan kisaran harga Rp 8 ribu hingga Rp 16 ribu.
Sementara, untuj tahu wali dijual seharga Rp 1.000 per satuannya.
Mengikuti perkembangan zaman, Fina juga mempromosikan dagangannya ini di media sosial.
"Promosi di medsos juga rupanya berdampak, saya pilih lewat FB dengan nama Crabby Fina," sebutnya.
Fina tampak lega menjalani pilihan pekerjaannya hari ini, yakni sebagai pedagang burger.
"Untuk saat ini, saya nyaman berjualan, saya berimpian ke depan bisa buka cabang baru," pungkasnya. (*)
| Ajoeba Wartabone dan Jurnalisme Kebangsaan di Masa Revolusi Indonesia |
|
|---|
| Kisah Haru Rosita Manumbi, 16 Tahun Mengabdi Kini Dipercaya Jadi Kepala SDN 13 Pulubala Gorontalo |
|
|---|
| Kisah Fatmawaty Mile, Kepsek SD Tibawa Gorontalo Rela 3 Kali Ganti Kendaraan Tiap Hari Demi Murid |
|
|---|
| Sosok Loli Antuke, Marbot Masjid Agung Baiturrahim Kota Gorontalo |
|
|---|
| Kisah Annisa Tungkagi, Eks Nakes Gorontalo Rintis Kedai Kopi Jalanan |
|
|---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.