Menkes di Gorontalo
Tantang Mahasiswa Poltekes Gorontalo Bikin Riset, Menkes Budi: Aku Tunggu Hasilnya
Hadir di tempat ini, Menkes Budi sekaligus mengisi acara talk show bersama direktur, dosen, dan mahasiswa Poltekkes Kemenkes Gorontalo.
Penulis: Fernandes Siallagan | Editor: Wawan Akuba
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin bergegas menuju Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kementrian Kesehatan (Kemenkes) Gorontalo usai kunjungannya ke Puskesmas Kota Tengah, Jumat (24/5/2024).
Hadir di tempat ini, Menkes Budi sekaligus mengisi acara talk show bersama direktur, dosen, dan mahasiswa Poltekkes Kemenkes Gorontalo.
Dalam acara itu, beberapa mahasiswa dan dosen diberikan kesempatan untuk bertanya.
Saat menjawab salah satu pertanyaan dari mahasiswa, Budi meminta agar mahasiswa di Poltekkes mencoba untuk meneliti kebijakan publik di dunia medis.
Baca juga: Dua Mahasiswa Poltekes Dapat Kejutan Beasiswa dari Menkes Budi
"Dia (Mahasiswa Poltekkes) harus bisa melakukan riset-riset. Riset kebijakan kita. Kan ada ahli gizi, coba lihat stunting," kata Budi, Jumat (24/5/2024).
Menurutnya melalui disiplin ilmu yang dimiliki mahasiswa dapat melihat pelaksanaan program kerja yang dimiliki Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
Misalnya pada progran Pemberian Makanan Tambahan (PMT) pada bayi rentan stunting yang memakan biaya puluhan triliun rupiah.
Selain itu ada juga pemberian alat ultrasonografi alias USG di puskesmas untuk pengecekan kondisi bayi pada ibu hamil.
Ada juga launching imunisasi untuk pencegahan cancer. Ini juga dapat dijadikan bahan riset oleh mahasiswa Poltekkes.
"Coba dilihat, benar engga USG itu dipakai? Ketemu engga masalahnya? Riset-riset begitu, aku tunggu hasilnya" tambah Budi.
Selain meminta mahasiswa melakukan riset kebijakan publik Kemenkes, Budi juga menyampaikan kepada dosen dan mahasiswa agar tidak mengkhawatirkan lapangan pekerjaan.
Sebab, Budi mengaku bahwa dirinya telah bertemu dengan beberapa mentri kesehatan dari negara lain.
Seperti Menteri dari Jerman, Belanda, dan Jepang untuk membicarakan tenaga kesehatan yang dapat disalurkan dari Indonesia.
Dalam hal ini mahasiswa kesehatan yang ada di Indonesia. Menurutnya jumlah yang diminta dari negara lain mencapai sepuluh ribu tenaga kesehatan.
Akan tetapi penyaluran ini membutuhkan persyaratan lain. Seperti adanya kelas internasional.
"Tapi beliau (Direktur Poltekkes Kemenkes Gorontalo) bisa engga bikin kelas internasional yang kelasnya bagus? Gitu ya jadi don't worry about this work," pungkasnya. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.