Tumbilotohe
8.200 Tumbilotohe Menyala di Lapangan Sombari Kota Gorontalo, Wisata ke Zaman Dahulu
Lapangan di Jl Arif Rahman Hakim ini menyala 8.200 lampu membuat tempat tersebut jadi destinasi masyarakat.
Penulis: Fernandes Siallagan | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/1942023_Tumbilotohe.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Inilah destinasi Tumbilotohe terkenal di Kota Gorontalo.
Lapangan di Jl Arif Rahman Hakim ini menyala 8.200 lampu membuat tempat tersebut jadi destinasi masyarakat.
Ribuan tohe (lampu) itu tersebar memenuhi lahan seluas 5.000 meter persegi tersebut.
"Di sini lokasi pencanangan kita (Kota Gorontalo). Karena luas dan terbesar daripada kabupaten lain," ujar Melissa Wala, Kabid Pemasaran Pengembangan dan Informasi Pariwisata Disparpora Kota Gorontalo kepada TribunGorontalo.com, Sabtu (6/4/2024) malam.
Letaknya trategis membuat setiap orang yang melintas baik dari Jl Pangeran Hidayat maupun Arif Rahman Hakim akan terpukau.
Terutama terdapat sedikitnya 200 lampu padamala yang membawa nuansa abad ke-16.
Penerangan terbuat dari batok kelapa dan buah pepaya itu menambah kesan Green Tumbilotohe.
Pengunjung dapat memasuki lapangan. Mereka bebas memilih di mana saja angle untuk swafoto.
Namun karena letaknya di tepi jalan, destinasi ini kerap menimbulkan kemacetan panjang.
Menariknya, di lapangan Sombari tak ada satupun lampu tumbler.
Lampu sudah mulai dihidupkan sejak pukul tujuh malam hingga padam yang biasanya di atas pukul sebelas malam.
"Ini sampai malam takbiran hidupnya. Gratis juga masuknya," ucap Ismail Kadulah (56), Pengarah Remamuda.
Baca juga: Persiapan Malam Pasang Lampu di Bolango Riverside, Ada Terowongan Cahaya Tumbilotohe Menanti
Apa itu Tumbilotohe?
Tradisi Tumbilotohe di Gorontalo konon telah berlangsung sejak abad 15. Dahulu, masyarakat menggunakan wamuta (sejenis seludang), tohetutu (damar), dan padamala (wadah dari kima, kerang, atau pepaya) sebagai penerangan.
Seiring waktu, tradisi ini berkembang dengan penggunaan minyak tanah dan kini lampu listrik.
Tradisi ini bukan sekadar hiasan, tetapi memiliki makna religius dan sosial. Tumbilotohe mencerminkan rasa syukur atas datangnya bulan Ramadhan dan menyambut Hari Raya Idul Fitri.
Cahaya yang terang benderang melambangkan kemenangan iman dan harapan baru.
Malam Tumbilotohe menjadi malam paling ramai di Gorontalo. Ribuan lampu hias dipasang di berbagai sudut kota, diiringi lantunan pantun dan atraksi budaya.
Tradisi ini menjadi ajang silaturahmi dan hiburan bagi masyarakat. Biasanya digelar tiga hari sebelum lebaran Idulfitri.
Keunikan Tumbilotohe terletak pada penggunaan lentera tradisional yang dihiasi janur kuning dan dihiasi dengan pisang sebagai lambang kesejahteraan dan tebu sebagai lambang keramahan.
Formasi lentera yang indah dan atraksi budaya seperti meriam bambu dan festival bedug menambah semaraknya tradisi ini.
Tumbilotohe merupakan tradisi unik yang tidak dijumpai di daerah lain di Indonesia. Tradisi ini memiliki potensi besar untuk menarik wisatawan domestik dan mancanegara.
Walaupun tradisi serupa dengan nama berbeda terdapat di daerah tetangga Gorontalo seperti Maninjulo Lambu di Bolmut dan Sumpilo Soga di Bolsel, Tumbilotohe di Gorontalo memiliki keunikan dan kemeriahan yang berbeda.
Tradisi ini menjadi ikon budaya Gorontalo yang patut dilestarikan dan dipromosikan.
Cek Berita dan Artikel Mudah Diakses di Google News
Ikuti saluran Tribun Gorontalo di WhatsApp: KLIK DISINI
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.