Minggu, 15 Maret 2026

Ramadan Gorontalo 2024

Penjualan Minuman Fanta, Coca-Cola, hingga Sprite di Gorontalo Menurun, Dampak Boikot?

Diduga akibat boikot produk yang dilakukan oleh masyarakat sebagai bentuk dukungan terhadap salah satu pihak dalam peperangan di Timur Tengah.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Andika Machmud | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Penjualan Minuman Fanta, Coca-Cola, hingga Sprite di Gorontalo Menurun, Dampak Boikot?
TribunGorontalo.com/AndikaMachmud
Penjual minuman soda di Gorontalo, Rabu (27/3/2024). 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Penjualan minuman soda di Kota Gorontalo mengalami penurunan drastis pada momen Ramadan dan Lebaran 1445 ini. 

Diduga akibat boikot produk yang dilakukan oleh masyarakat sebagai bentuk dukungan terhadap salah satu pihak dalam peperangan di Timur Tengah.

Amat Supu, seorang penjual minuman soda di Lapak Nabila, Jl. Prof. H.B Jassin, mengungkapkan bahwa penjualannya menurun drastis dibandingkan tahun lalu.

"Biasanya itu sudah banyak sekali yang membeli. Tapi sekarang, paling tinggi hanya 20 pak per hari," keluh Amat.

Baca juga: Penjual Lampu Botol di Kota Gorontalo Mulai Bermunculan Jelang Perayaan Tumbilotohe

Hal senada juga diungkapkan oleh Yulan Sapide, penjual minuman soda lainnya. Ia mengaku tidak berani menyetok banyak minuman karena khawatir tidak laku terjual.

Penurunan penjualan ini diakui Amat dan Yulan disebabkan oleh boikot produk yang berafiliasi dengan negara tertentu.

"Fanta itu paling disukai oleh masyarakat, paling laris itu. Sekarang ini kebanyakan masyarakat beli minuman namanya Amo," kata Amat.

Meskipun mengalami penurunan penjualan, Amat dan Yulan tetap berharap agar pembeli minuman soda di Kota Gorontalo dapat meningkat secepatnya.

"Semoga boikot dapat diantisipasi dan tetap ada pembeli," harap Amat.

Sebetulnya pada akhir tahun lalu Coca-Cola Indonesia sudah menanggapi boikot terhadap produknya dampak agresi Israel terhadap warga Palestina di Jalur Gaza.

Baca juga: AC Milan Jago Dribel dan Mencetak Gol dari Open Play

Tanggapan diungkapkan oleh Lucia Karina, Direktur Urusan Publik, Komunikasi & Keberlanjutan untuk Indonesia dan PNG Coca-Cola Europacific Partners (CCEP).

Menurutnya, produk Coca-Cola di Indonesia diproduksi oleh tenaga kerja Indonesia menggunakan bahan-bahan lokal.

"Terlepas dari situasi yang terjadi, semua produk itu diproduksi oleh tenaga kerja Indonesia dengan menggunakan bahan-bahan lokal untuk masyarakat Indonesia. Itulah yang ingin saya sampaikan," dalam sebuah diskusi panel media yang berjudul "SNI Recycled PET: Menyeimbangkan Keamanan dan Lingkungan dalam Regulasi Kemasan" pada hari Selasa (14/11/2023). 

Boikot MUI

Dalam laman resmi MUI, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional Prof Sudarnoto menyampaikan alasan MUI mendukung boikot produk-produk yang pendukung atau terafiliasi dengan Israel.

Sudarnoto menjelaskan, aksi boikot tersebut yang diserukan MUI untuk memperlemah ekonomi Israel agar tidak melakukan penyerangan lagi terhadap Palestina.

"Mengapa boikot? Karena hasil penjualan, pasti diberikan manfaatnya bagi Israel. Karena ini dengan boikot, maka kita bisa memperlemah ekonomi Israel agar tidak menyerang-nyerang lagi," kata Sudarnoto di Aula Buya Hamka, Kantor MUI, Jakarta Pusat, Ahad (10/3/2024).

Sudarnoto menuturkan, produk-produk yang diboikot bermacam-macam mulai dari makanan, minuman dan lain-lain.

MUI, kata Sudarnoto, telah mengeluarkan Fatwa Nomor 83 Tahun 2023 tentang Hukum Dukungan Terhadap Perjuangan Palestina.

Sudarnoto yang ditemui usai acara Safari Ramadhan yang bertajuk “Ramadhan Bersama Palestina, Ramadhan Membasuh Luka Palestina” ini juga dilakukan untuk memperkuat kembali aksi boikot terhadap produk yang mendukung atau berafiliasi dengan Israel.

"Mengingatkan kembali bahwa kita umat Islam dan masyarakat Indonesia yang peduli kemanusiaan memboikot produk-produk Israel dan perusahaan-perusahaan negara yang berafiliasi dengan Israel," tegasnya.

Sudarnoto menekankan, aksi boikot juga merupakan aksi tekanan yang bisa dilakukan oleh masyarakat kepada Israel yang dampaknya sangat luar biasa. Hal ini juga sudah dibuktikan melalui tim survei.

"Cukup tinggi penerimaan masyarakat Indonesia terhadap boikot produk Israel. Bahkan saya mendengar di Eropa juga sudah melakukan pemboikotan terhadap produk-produk Israel," ungkapnya.

Meski begitu, Sudarnoto membantah informasi yang beredar bahwa MUI mengeluarkan daftar list produk-produk yang mendukung atau berafiliasi oleh Israel yang harus diboikot.

Sudarnoto menegaskan, MUI tidak pernah mengeluarkan list daftar produk yang harus diboikot karena mendukung Israel. MUI, kata dia, hanya menkankan kepada prinsip-prinsip dasar.

Untuk mengetahui daftar list produk yang mendukung atau tidak, Sudarnoto mendorong kepada semua pihak termasuk masyarakat dan pihak kampus untuk melakukan riset produk yang mendukung atau tidak dengan Israel.

Selain itu, MUI memberikan imbauan kepada para penjual di Indonesia agar tidak menjual produk-produk yang mendukung atau terafiliasi dengan Israel.

Dijelaskan oleh Sudarnoto, seperti halnya produk kurma yang halal dan marak dijual di bulan Ramadhan, tetapi bisa menjadi haram karena hasil penjualannya digunakan untuk membunuh warga Palestina.

"Jangan di bulan Ramadhan menjual produk-produk Israel. Kurma itu halal, enak, saya juga pencinta kurma, halal dzatnya, tapi jadi haram karena uang hasil penjualannya itu untuk membunuh warga Palestina," jelasnya.(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved