Citizen Journalism
Peluncuran Buku Antologi Puisi Simpang, DR Satya Limanta: Tulis Karya Jempolan Pasti Dicari
Akademisi Petra Christian University (PCU) Surabaya, Dr Satya Limanta (kanan) saat menjadi pembahas Buku Antologi Puisi Simpang di Black Box Petra The
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Buku-Antologi-Puisi-Simpang-uuuu.jpg)
Penulis : Basuki
TRIBUNGORONTALO.COM - Akademisi Petra Christian University (PCU) Surabaya, Dr Satya Limanta, mengaku girang dengan peluncuran buku Antologi Puisi Simpang di Black Box Petra Theater PCU (16/2/2024)
“Launching buku antologi karya 16 penyair Alumni Mahasiswa Kristen Universitas Negeri Malang terbitan Nisita ini justru menjadi semacam sinyal penting bahwa jantung kepenulisan tanah air masih berdetak. Mereka masih menggeliat. Harapan saya, daya kreatif ini bisa menginspirasi para penulis lain untuk terus berkarya demi menyemai lahirnya lebih banyak lagi buku-buku bermutu,” ujar Satya saat menjadi pembahas buku.
Satya mengaminkan laporan yang pernah dirilis Kompas. Makin hari produksi buku fisik makin susut. Sepuluh tahun lalu, saat media digital belum semasif sekarang, Indonesia hanya mampu menerbitkan sekitar 20 ribu judul buku per tahun. Yang mengenaskan, buku-buku yang mencerdaskan hanya bisa dicetak berkisar 3 ribu eksemplar.
“Meski demikian, kita jangan pesimis. Saya melihat api gairah menulis kita tetap menyala. Hanya bentuknya mungkin berbeda. Jika dulu lewat buku fisik, zaman sekarang orang lebih banyak menulis melalui media digital,” jelasnya.
Doktor Lulusan Leiden University ini mengakui, sementara ini memang profesi penulis di tanah air kurang dihargai.
“Di luar negeri beda. Di sana penulis bestselling bisa jadi miliarder. Apa yang bisa kita pelajari? Karya bagus akan dicari orang. Karena itu, pesan saya, tetaplah menghasilkan karya bagus, bermutu dan berguna. Saya yakin, di sini pun jika kita menghasilkan karya jempolan pasti buku kita akan diburu orang,” ujarnya
Perkuat Ekosistem
Satya mengakui ekosistem di Indonesia untuk memacu orang menulis masih lemah. Ekosistem ini harus diperkuat. Untuk menghidupkan ekosistem menulis yang sehat, ia mengusulkan agar pemerintah memberikan insentif pajak dan jaminan terhadap Hak Kekayaan Intelektual (HaKI).
Selain itu, lembaga pendidikan bisa memberikan apresiasi khusus untuk siswa atau mahasiswa yang berhasil menulis buku. Keluarga menurutnya, juga berperan penting.
Katanya, “Menurut saya keluarga harus lebih apresiatif melihat potensi kreatif anak. Beri dukungan anak untuk mengembangkan talenta menulis mereka. Jangan malah dihambat, misal dengan mengatakan. ‘Menulis buat apa?’. Atau, ‘Ngapain menulis? Apa menulis bisa kasih kamu makan?’ Kata-kata demikian menurut saya kurang bijak dan harus dihindarkan.”
Adhi Kristijono, kontributor buku Antologi Puisi Simpang sepakat dengan Satya. Menurutnya, bakat menulis anak harus dikembangkan sedini mungkin.
“Menulis, memiliki berjibun manfaat. Dengan menulis anak-anak belajar mengomunikasikan gagasan secara terstruktur dan sistematis. Yang tak kalah penting, menulis bisa meningkatkan keterampilan literasi mereka.”
Adhi, Kepala Sekolah SMK Tanoko Pasuruan, Jawa Timur ini menambahkan, literasi merupakan keterampilan kunci untuk masa depan.
“Seperti kita tahu, di era digital yang terus berkembang, dengan kehadiran internet, setiap hari anak diguyur informasi hampir tanpa batas. Dalam konteks inilah, anak perlu memiliki kemampuan literasi. Sebab dengan kemampuan ini, anak akan bisa memahami, menganalisis, dan akhirnya menggunakan setiap informasi secara efektif,” jelasnya.
| Promo Alfamart Hari Ini 30 Maret 2026: Beras 5 Kg Rp86.900, Mi Instan hingga Susu Murah! |
|
|---|
| Horoskop Zodiak Aries, Taurus, Gemini Besok Selasa 31 Maret 2026: Prediksi Cinta, Karier, Kesehatan |
|
|---|
| Daftar Harga BBM Pertamina Hari Ini Senin 30 Maret 2026, Harga BBM Naik? Cek Pertamax hingga Dexlite |
|
|---|
| Lupa Cabut Kunci, Motor Warga Pohuwato Gorontalo Raib Saat Salat Zuhur, Pelaku Sempat Ubah Tampilan |
|
|---|
| Harga Emas Senin 30 Maret 2026: Antam Rp2,93 Juta, UBS dan Galeri 24 Kompak Tak Bergerak |
|
|---|