Kamis, 12 Maret 2026

Imlek Gorontalo

Viral Aksi Mahasiswa TikTok-an di Kelenteng Gorontalo, Penjaga Kena Teguran Keras

Penjaga klenteng, Jesi Yusuf (42) mengaku mendapat teguran keras dari pengurus klenteng.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Viral Aksi Mahasiswa TikTok-an di Kelenteng Gorontalo, Penjaga Kena Teguran Keras
TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu
Jesi Yusuf (42) ditemui di Kelenteng Tulus Harapan Kita, Gorontalo, Kamis (8/2/2024). 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Imbas dari aksi oknum mahasiswa yang asyik TikTok-an di kelenteng Tulus Harapan Kita, Gorontalo beberapa tahun lalu, kini berbuntut panjang.

Penjaga kelenteng, Desi Yusuf (42) mengaku mendapat teguran keras dari pengurus kelenteng.

Saat ditemui, Desi tengah membuat kue di belakang kelenteng. 

Baca juga: Jeruk Mandarin Ponkam jadi Buah Favorit saat Imlek, Segini Harganya di Kota Gorontalo

Setelah melihat kedatangan TribunGorontalo.com, ia pun bergegas datang dengan suaminya.

"Ya ada perlu apa?," tanya Desi kepada TribunGorontalo.com, Kamis (8/2/2024).

Setelah menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan, Desi pun mengerti dan bersedia diwawancarai.

"Kalau untuk persiapan imlek saya tidak bisa komentari, karena itu kewenangnya pengurus," jelasnya.

"Dan tolong jangan sembarang ambil gambar ya, mohon sekali," tukasnya.

Bukan tanpa alasan, Desi mengungkapkan jika ia sempat dimarahi dan mendapat teguran keras dari pengurus kelenteng, gegera insiden yang terjadi beberapa tahun lalu. 

"Dulu saya sempat kasih izin, karena mereka ngakunya mahasiswa yang dapat tugas kuliah," ungkap Desi. 

Desi tak bisa melakukan pemantauan secara langsung, sebab saat itu ia tengah disebukan dengan suatu pekerjaan lain di kelenteng. 

Ia merasa tidak begitu khawatir, sebab yang diberi izin adalah mahasiswa yang notebenenya untuk keperluan kuliah. 

Namun anggapan itu berubah setelah ia dimarahi oleh pengurus kelenteng. 

Pasalnya mahasiswa yang sebelumnya diberi izin, malah tiktokan di sekitar kelenteng. 

"Dan itu pelanggaran fatal sekali, sehingga saat ini, apa-apa harus ada izin dari pengurus, termasuk media yang mau liput," jelasnya. 

Desi dan suaminya saat ini bekerja di kelenteng Tulus Harapan Kita, terhitung sejak covid di tahun 2019.

"Saya menggantikan petugas piket sebelumnya yang dari Bali," ujarnya. 

Lima tahun bekerja di kelenteng, Desi mengaku ada sedih senangnya. 

"Apalagi kalau ada upacara atau sembahyang, itu pasti banyak yang harus dipersiapkan. Namun tetap bersyukur, sebab dari sini saya bisa menghidupi empat anak saya," tutupnya.

Kelenteng Tulus Harapan Kita

Kelenteng Tulus Harapan Kita atau juga disebut Kelenteng Thian Hou Kiong. Posisinya strategis, berada di bibir Sungai Bolango yang mengalir dari wilayah Tapa, Bone Bolango. 

Kelenteng ini dibangun sejak tahun 1827 oleh para imigran China. Rata-rata mereka berasal dari Hokkian dan Kanton. 

Kelenteng berdiri di tengah pertokoan milik para warga Tionghoa atau China. Wilayah Kelurahan Biawao ini memang lebih banyak ditinggali orang-orang keturunan etnis Tionghoa. 

Seorang keturunan Tionghoa yang sudah sepuh bernama Maryam Lamadilaw (75) mengungkapkan, bahwa pembangunan Kelenteng Tulus Harapan Kita adalah ide para leluhurnya. 

Dulu, para leluhurnya itu kerap menghabiskan waktu di bibir Sungai Bolango. Percakapannya soal pekerjaan dagang mereka. 

Suatu hari, mereka kemudian mulai membahas tempat yang nyaman untuk beribadah. Dari hasil kongko-kongko di bibir sungai itulah, lantas para imigran Tionghoa saat itu membangun Kelenteng.

Tidak mudah untuk para imigran itu membangun kelenteng. Mereka membangunnya perlahan dengan mengumpulkan uang dari sesama etnis Tionghoa. 

“Setiap malam, leluhur kami berkumpul di tepi Sungai Bolango. Mereka membincangkan kehidupan sehari-hari, termasuk kebutuhan untuk beribadah,” kata Maryam.

Kini, jika dihitung usia Kelenteng Tulus Harapan Kita telah berusia 196 tahun di 2023 ini. Meski di usia yang nyaris 200 tahun itu, Kelenteng Tulus Harapan Kita masih kokoh berdiri. 

Jadi Tempat Ibadah Tiga Kepercayaan

Kelenteng Tulus Harapan Kita jadi tempat ibadah etnis Tionghoa dari tiga kepercayaan. Karena itu disebut Kelenteng Tridharma. 

Dalam budaya Tionghoa, Tridharma meliputi Taoisme, Buddhisme, dan Konfusianisme (Kong Hu Cu). 

Tridharma adalah bentuk kepercayaan tradisional masyarakat Tionghoa sebagai hasil dari sinkretisme ketiga filsafat. Inilah yang memengaruhi kebudayaan Tionghoa dan sejarah Tiongkok sejak 2500 tahun lalu.

Disebutkan istilah Tridharma atau dalam bahasa China disebut San Jiao sudah muncul sejak Dinasti Donghan atau pada abad I. 

Pada masa itu, tiga ajaran ini memang tidak bisa menyatu. Hubungannya selalu renggang. Karena itu, berbagi usaha dilakukan untuk menyatukan tiga ajaran itu. 

Jika pernah menonton film Kera Saki, artinya kita pernah menyaksikan bagaimana Tridharma ini menyatu.

Cerita si kera sakti Sun Go Kong sangat kental bernuansa Taoisme (ilmu gaib, roh dan siluman, berbagai simbol Taoisme), tetapi kisahnya menceritakan perjalanan Biksu Tang Xuanzang (Fujian/Hokkian: Tong Sam Cong ke India untuk mengambil Kitab Suci Buddhis. 

Sedangkan penulisnya adalah Wu Cheng'en, adalah seorang sastrawan Konfusianis. Pengaruh ketiga ajaran sudah bercampur sedemikian rupa sehingga sebelum Tahun 1949, setiap kegiatan masyarakat China daratan berpedoman rambu-rambu San Jiao. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved