Human Interest Story
20 Tahun Jualan Kue di Gorontalo, Sri Dewi Hasan Cerita Tantangan jadi Pedagang Kukis
Sri Dewi Hasan (51) menceritakan perjalanannya berjualan kue. Dewi memulai usahanya sejak tahun 2003 silam.
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Sri-Dewi-Hasan-pemilik-Rumah-Kue-Aliqa.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Sri Dewi Hasan (51) menceritakan perjalanannya berjualan kue.
Dewi memulai usahanya sejak tahun 2003 silam. Hingga saat ini, ia masih konsisten menjadi pedagang kukis.
"Meski tidak banyak keuntungannya, tetapi cukup untuk saya dan keluarga," ujar Sri kepada TribunGorontalo.com, Minggu (21/1/2023).
Keuntungannya setiap kali dapat pesanan, digunakan untuk kebutuhan hidup bersama suaminya.
"Suami saya kerjanya wiraswasta, jadi sama-sama kita cari uang," katanya.
Usahanya itu diberi nama Rumah Kue Aliqa/. lokasinya di Jalan Tahir Manyo, Desa Tinelo,Kabupaten Gorontalo, tepatnya komplek Kantor Dirlantas Polda Gorontalo.
Saat ini kata Dewi, usahanya telah mengantongi izin pangan industri rumah makan (PIRT).
"Baru sekitar beberapa tahun lalu saya urus, sekalian dengan nama usahanya," ujar Dewi.
Ia konsisten berjualan di tempat yang sama sejak tahun 2003.
"Metode jualan saya itu, tergantung pesanan," tukasnya.
Namun metode itu bukan berarti tanpa kendala, Dewi lantas mengatakan beberapa kali pesanannya di cancel pelanggan.
"Ada beberapa kali begitu, sudah saya buat tapi setelah saya hubungi sudah tidak aktif nomornya," ujarnya.
Kemungkinan pelanggan itu lanjut Dewi, adalah pelanggan baru.
"Kalau pelanggan lama, tidak ada mereka cancel-cancel begitu," tutur Dewi.
Pada bulan puasa, Dewi menjelaskan bahwa ia justru akan lebih fokus pada kue kering.
Hal itu berdasarkan permintaan pelanggan jelang hari raya Idul Fitri.
Saat ini, pelanggan Dewi kebanyakan adalah instansi pemerintah dan atau lembaga swasta.
"Apalagi kalau mereka buat kegiatan, itu banyak yang sering mereka pesan," tambahnya.
Bukan tak beralasan, Dewi menyebut bahwa kue buatannya tergolong sedikit mahal, antara Rp 1.500-3.000 per biji.
Hal itu karena kualitas bahan dan rasanya yang menjadi nilai jual tersendiri.
"Saya ini dari cewek jualan kue, jadi sudah tau bagaimana mengolahnya dengan baik, apalagi saat ini sudah banyak jenis kue baru, dan menurut saya gampang sekali untuk saya menyesuaikan," ulasnya.
Dibalik perjalanannya itu, saat ini Dewi telah mempekerjakan tiga orang karyawan.
Ia menyayangkan perhatian pemerintah setempat. Dewi menyebut sejauh ini usahanya tidak pernah sedikitpun dilirik atau mendapat alokasi bantuan dari pemerintah.
"Saya sering di undang untuk acara-acara di kabupaten, tapi tidak pernah sekalipun saya dapat bantuan," tutupnya.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.