Rabu, 11 Maret 2026

Berita Viral

Perjuangan Seorang Driver Ojol Jadi Calon Anggota DPRD Provinsi, Mampu Kuliahkan 3 Anak

Pria bernama Rusli ini menjadi calon legislatif (caleg) untuk Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi DKI Jakarta daerah pemilih (Dapil) IV dar

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Aldi Ponge
zoom-inlihat foto Perjuangan Seorang Driver Ojol Jadi Calon Anggota DPRD Provinsi, Mampu Kuliahkan 3 Anak
Kompas.com
Driver ojek online atau ojol yang nyaleg di pemilu 2024 

TRIBUNGORONTALO.COM -Viral perjuangan seorang sopir ojek online (ojol) yang mencalonkan diri menjadi anggota DPRD DKI Jakarta 

Video caleg tersebut viral di tikyok saat pria berjaket hijau tengah memasang alat peraga kampanye (APK)

Pria bernama Rusli ini menjadi calon legislatif (caleg) untuk Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi DKI Jakarta daerah pemilih (Dapil) IV dari Partai Buruh.

Melansir Kompas.com di laman resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU), pria tersebut bernama Rusli (54) dan terdaftar sebagai Caleg DPRD DKI Jakarta Dapil IV.

Dalam kesehariannya, Rusli berprofesi sebagai pengemudi ojek online (ojol) sejak 2016 hingga sekarang.

Pendidikan terakhirnya adalah Sekolah Menengah Atas (SMA) 51 Jakarta Timur angkatan 1989.

Dalam sesi wawancara di sebuah saung wilayah Balekambang, Kramatjati, Jakarta Timur, Rabu (17/1/2024), Rusli mengungkapkan bahwa ia merupakan kepala rumah tangga dari seorang istri dan tiga anaknya.

“Anak pertama saya, Alhamdulillah, sudah lulus D3 di UNJ dan melanjutkan S1 di Universitas Bakrie. Sekarang, dia pengin lanjut S2. Anak kedua saya sudah lulus S1 dari Polimedia Kreatif, Srengseng Sawah. Anak ketiga saya sekarang masih kuliah di Universitas Brawijaya, Malang,” ungkap Rusli.

Ketika mengungkapkan hal tersebut, mata Rusli berkaca-kaca, menangis.

 Sebab, dengan profesinya sebagai buruh ini bisa mengantarkan ketiga anaknya untuk mengemban pendidikan yang lebih baik dibandingkan dirinya dan istri.

Saat ini Rusli dan keluarganya mengontrak di kawasan Sungai Bambu, Tanjung Priok, Jakarta Utara dengan biaya sewa Rp 1,5 juta per bulan.

Pada 2015, Rusli mengundurkan diri sebagai buruh pabrik di kawasan Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Alasannya, ia ingin rehat karena akan memasuki usia senja.

“Saya hanya pengin bikin usaha apa kek gitu, yang enggak mengisi daftar hadir setiap pagi,” ucap Rusli.

Satu tahun berselang, ia masih belum menemukan usaha yang cocok.

Tetapi, saat melintas di sebuah jalan, Rusli bertemu dengan rekannya yang berprofesi sebagai pengemudi ojol.

Ia menghampiri dan bertegur sapa satu sama lain.

Di sebuah warung kelontong, ia mendengar keluhan dari para pengemudi ojol.

Keesokan hari sampai seterusnya, ia kembali datang ke warung kelontong meski tidak ada temannya.

Jiwa aktivis karena tergabung dalam serikat buruh dari pekerjaan sebelumnya sejak 1990-an masih melekat.

“Akhirnya saya tertarik menjadi ojol. Ya sudah, saya mendaftarkan diri keesokan harinya dengan membawa berkas berupa ijazah, SKCK, BPKP, STNK, SIM, foto dan sebagainya,” ujar Rusli.

Terlepas ingin mencari uang, ia tidak menampik bahwa dengan mendaftarkan diri untuk pekerjaan tersebut, Rusli telah “menggadaikan” keluarganya.

Dalam proses pendaftaran bersama ratusan orang yang lain, Rusli menilai ada beberapa hal dari perusahaan yang memarginalkan para pelamar.

Misalnya adalah tidak tersedianya parkiran, para pelamar yang hanya duduk di lantai hingga para pencari kerja diharuskan melepas sepatu di saat perekrut mewawancarainya.

“Terus, soal jaket. Saya kira ini inventaris aplikator (aplikator). Ternyata, driver membeli dengan membayar angsuran. Uangnya dipotong setiap hari dari hasil orderan setiap hari,” kata Rusli.

Rusli menilai seharusnya jaket tersebut menjadi hak milik pengemudi setelah selesai mencicilnya.

Namun, perusahaan terkadang melarang  para driver melalukan unjuk rasa mengenakan jaket itu di beberapa kesempatan.

Selain itu, Rusli juga menilai pengemudi ojol merupakan profesi yang terpinggirkan.

Misalnya, ketika para driver ojol hendak mengambil atau mengantar barang dan makanan diharuskan membuka jaket saat memasuki area mal, apartemen, hingga gedung-gedung pencakar langit.

“Padahal, jika driver melakukan tindak pidana saat menggunakan jaket, kan mudah diidentifikasinya. Kalau enggak? Ya susah,” tutur Rusli.

Di sisi lain, saat pertama kali mendapatkan pesanan pertama sebagai pengemudi ojol, ia mengantar penumpang ke Tangerang, Banten.

Setelah menyelesaikan, ia baru mengetahui bahwa setiap orderan dipotong 20 persen dan itu berlaku sampai sekarang.

“Kalau dapat Rp 200.000, dipotong 20 persen. Kan lumayan. Dulu, dari 2016 sampai 2018, itu rata-rata Rp 700.000 per hari, dari 06.00 WIB sampai 19.00 WIB, dapat Rp 700.000. Coba saja kalau dipotong 20 persen jadi berapa dari setiap driver?” ujarnya.

“Apalagi sekarang yang orderannya sulit. Dulu kan kami juga masih pakai pulsa telepon, pengeluaran bensin, data internet terus jalan karena on aplikasi. Keliling hujan-hujanan dan panas-panasan, pergi pagi pulang pagi, argo yang tak sesuai,” tambahnya.

Belum lagi, kata Rusli, permasalahan asuransi kecelakaan, status hubungan antara driver ojol dengan perusahaan, dan lain-lain.

Alasan jadi Caleg DPRD DKI Hal-hal tersebut yang mendorong Rusli menjadi Caleg DPRD DKI Jakarta untuk memperjuangkan hak-hak para buruh yang termarginalkan oleh penguasa.

Di lain sisi, permasalahan terbesarnya menjadi caleg adalah minimnya dana kampanye.

"Ini yang menjadi masalah besar saya dan teman-teman ojol lain (yang juga menjadi caleg) Kenapa? Ojol ini sekarang orderannya sedang susah. Kadang cuma dapat tiga orderan, apek,” ungkap Rusli.

“Tapi harus bayar kontrakan, harus beli pulsa, harus beli bensin, servis motor, anak pulang minta makan, istri nanti tagih uang. Terkadang. sampai di rumah malah dipunggungin istri, dia enggak mau menghadapi kita karena enggak bawa duit, mau ngapain? Sampai seperti itu,” tutur Rusli lagi.

Oleh karena itu, Rusli terkadang hanya mangandalkan orang-orang terdekat yang ingin membantunya tanpa pamrih.

Secara terpaksa, ia juga harus memasang APK-nya sendiri selepas mencari rezeki.

Kini, Rusli blusukan seorang diri ke dapilnya.

Ia berupaya menyerap keluhan warga meski terkadang ujung-ujungnya meminta sembako gratis lalu dibanding-bandingkan dengan caleg lain.


Artikel ini telah tayang di TribunJatim.com dengan judul Sosok Driver Ojol Nangis Beber Niat Jadi Caleg, Bangga Kuliahkan 3 Anak, Kini Mau Menangkan Hak Ojol

Sumber: TribunJatim
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved