Berita Ekonomi Gorontalo
Jeritan Petani Cabai Pilohayanga Gorontalo, Tak Ada Irigasi dan Hanya Bergantung Air Hujan
Menurut Riman Paris (30), keluarganya merasa kesulitan karena tidak ada irigasi. Mereka sering bergantung pada air hujan.
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Petani-Cabai-menyampaikan-uneg-uneg-mereka-kepada-pemerintah-daerah-Kabupaten-Gorontalo.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Petani cabai Pilohayanga menjerit minimnya suplai air ke lahan mereka.
Menurut Riman Paris (30), keluarganya merasa kesulitan karena tidak ada irigasi. Mereka sering bergantung pada air hujan.
Alhasil mereka menyisihkan uang Rp 50 ribu rupiah untuk biaya air demi menjaga produksi padi setiap bulan.
"Kita biasa sewa mobil untuk angkut air. Jika tidak begitu, tanaman bisa mati," kata Riman kepada TribunGorontalo.com, Selasa (16/1/2023).
"Tanah saya di lereng gunung, miring, dan setengah mati untuk dapat air dari irigasi," imbuhnya.
Kini mereka hanya bisa menggunakan sebagian saja karena tak mampu memenuhi kebutuhan air.
"Saya takut nantinya gagal karena untuk air kita hanya berharap hujan," timpal Riman.
Saat ini Riman sementara menyemai bibit cabai yang ditanami di atas lahan seluas 3 hektar itu.
Ia hanya bisa berharap semua uneg-uneg mereka ini mendapat perhatian dari pemerintah khususnya Dinas Pertanian Kabupaten Gorontalo.
"Sebenarnya banyak petani cabai di sini. Pemerintah justru lebih fokus pada petani sawah saja," ungkapnya.
Baca juga: Hamim Pou dan Faisal Mohi Dibahas Saksi dalam Sidang Kasus Korupsi PDAM Tirta Bolango
Petani cabai lainnya, Abdul Kadir Igirisa (43), mengeluhkan harga pupuk khusus budidaya cabai dinilai sangat mahal.
"Pupuk rica ini ada banyak. Mulai dari masa semai, masa pindah tanam hingga panen," ujarnya.
Di samping itu, pengendalian hama wereng sangat rentan terjadi.
Apalagi lahan miliknya itu hanya beberapa meter dari bahu jalan Gorontalo Outer Ring Road (GORR).
"Pupuk mahal, insektisida mahal, belum lagi untuk herbisida," jelas Abdul.
Saat ini cabainya sudah memasuki 40-60 hari setelah tanam (HST).
Cabe yang dibudidayakan di lahan seluas 900 M2 itu diketahui berasal dari varietas Dewata F1.
"Saya tanam begini karena memang perawatannya sedikit lebih mudah dari varietas lokal," pungkasnya.