Minggu, 15 Maret 2026

Human Interest Story

Cerita Yahya Ahmad di Gorontalo, Konsisten Jualan Sapu Lidi sejak 1980-an

Usia Yahya sudah 69 tahun. Namun Yahya masih terlihat kuat, menjajakan sapu lidi dengan sepeda antiknya.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Rafiqatul Hinelo | Editor: Aldi Ponge
zoom-inlihat foto Cerita Yahya Ahmad di Gorontalo, Konsisten Jualan Sapu Lidi sejak 1980-an
TRIBUNGORONTALO/RAFIQATUL HINELO
Yahya Ahmad (69), penjual Sapu Lidi, Sedang Duduk Berisitrahat di Trotoar Jalan 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Yahya Ahmad, pria paruh baya yang masih berjualan sapu lidi di tengah iklim ekonomi modern sekarang ini.

Usia Yahya sudah 69 tahun. Namun Yahya masih terlihat kuat, menjajakan sapu lidi dengan sepeda antiknya.

Di Gorontalo, sepeda antik atau sepeda kuno, dikenal dengan sebutan sepeda bune.

"Saya berjualan sapu lidi dari Kabila sampai Telaga, pakai sepeda ini," kata Yahya kepada TribunGorontalo.com, Jumat (24/11/2023).

Yahya tinggal di Kecamatan Kabila, Kabupaten Bone Bolango.

Seperti yang diungkapkannya, ia bertolak dari rumahnya, dan menujal sapu lidi hingga ke titik akhir di Kecamatan Talaga, Kabupaten Gorontalo.

Sudah lama Yahya berjualan sapu lidi. Bahkan, kata dia, sepanjang perjalanannya mencari penghidupan, ia belum pernah mencoba pekerjaan lain.

"Tidak, saya tidak pernah coba pekerjaan lain, dari dulu saya hanya berjualan ini," ucapnya.

Yahya tidak lagi ingat kapan pastinya ia mulai berjuan sapu lidi.

"Saya sudah tidak ingat tahun berapa saya mulai, tapi sudah lama, saat saya masih muda. Sekarang saya sudah punya anak bahkan cucu," ujarnya.

Sebelum menggunakan sepeda, Yahya berjualan dengan jalan kaki.

Di masa-masa awal ia berjualan, sekira tahun 1980-an, Yahya mengaku lebih cepat laris kala itu ketimbang hari ini.

"Dulu, hari belum siang, saya sudah kembali, karena sudah laku semua. Sekarang, sedikit yang beli," kata Yahya.

Meski begitu, ia tetap mensyukuri berapapun pendapatan yang ia peroleh dari berjualan sapu lidi seharga Rp 10 ribu per satuannya itu.

"Saya ambil dari pedagang pertama seharga Rp 8 ribu, saya jual lagi Rp 10 ribu, untung saya Rp 2 ribu saja dari setiap satu sapu lidi," kata Yahya, mencoba menggambarkan perjuangannya.

Hari-hari ia lewati dengan berjualan sapu lidi demi menghidupi anak dan cucunya.

Yahya mengatakan, ia mulai berangkat mencari masyarakat yang butuh sapu lidi sejak pukul empat dini hari, dan kembali pulang pada pukul delapan malam.

"Jalani dengan sabar. Dari dulu saya tidak pindah jualan atau kerja yang lain, karena saya rasa sama saja, kan sama sama untuk mencari rejeki," pungkasnya. (*)

 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved