Kisah
Misteri Suku Lingon yang Suku Bermata Biru di Indonesia
Dari cerita masyarakat di Maluku Utara, keberadaan suku ini konon merupakan sekumpulan masyarakat Eropa yang terdampar setelah kapal yang mereka tumpa
Penulis: Aldi Ponge | Editor: Aldi Ponge
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Misteri-Suku-Lingon-yang-Suku-Bermata-Biru-di-Indonesia-889.jpg)
Mereka memiliki tubuh lebih besar daripada ukuran tubuh orang Indonesia pada umumnya.
Kulit mereka putih, dengan karakter wajah yang membuat mereka sedikit banyak mirip dengan masyarakat Eropa.
Ada dugaan bahwa suku Lingon sebenarnya sudah punah, meski belum ada penelitian yang bisa membuktikan hal tersebut.
Ada pula yang mengatakan bahwa orang suku Lingon sudah berbaur dengan suku-suku lain di Kepulauan Maluku.
Sejarah Suku Lingon
Suku Lingon berasal dari daratan Eropa, tepatnya negara Spanyol.
Mereka menumpang kapal dagang milik Kerajaan Portugis dengan tujuan Indonesia (Hindia Belanda) untuk mencari rempah-rempah.
Selain mencari rempah-rempah, mereka juga membawa misi agama Katolik untuk diajarkan di Indonesia Timur.
Rempah-rempah yang hanya bisa didapatkan di Indonesia Timur tepatnya pulau Maluku, dan Banda menjadi rebutan antar bangsa dari Eropa, Inggris, dan Portugis.
Pulau Maluku dan Banda merupakan tempat dimana mereka harus menyebarkan misi ajaran mereka.
Banyak kapal dagang dengan berpenumpang masyarakat sipil, yang menjadi sasaran gempuran meriam kapal perang negara lain demi menjaga wilayah penghasil rempah-rempah tersebut.
Diperkirakan kapal yang ditumpangi masyarakat bermata biru ini, tenggelam di sekitar kepulauan Maluku dan memaksa seluruh penumpangnya untuk menyelamatkan diri masuk ke hutan di Halmahera Utara, satu diantaranya suku Lingon.
Keberadaan masyarakat bermata biru ini cukup sulit ditemukan, karena mereka memilih mengasingkan diri dari dunia luar.
Pedalaman hutan Halmahera dipilih Lingon Tribe atau Suku Lingon, dari kejaran suku-suku lain yang tidak ingin kedatangan mereka.
Berbekal ilmu bertahan hidup dan senjata yang sederhana membuat kelompok ini, memilih memasuki hutan lebat sisi utara kepulauan Halmahera.