Sabtu, 7 Maret 2026

Penyakit Menular di Gorontalo

Angka Penderita Sifilis di Gorontalo Mengejutkan, 400-an Terjangkit, Dinkes: Banyak dari Pelajar

Menurut Ramdhan, penyakit sifilis di Gorontalo bak fenomena pingpong. Artinya ada warga yang terjangkit secara berulang. Rata-rata dari pasangan. 

Tayang:
Penulis: Rafiqatul Hinelo | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Angka Penderita Sifilis di Gorontalo Mengejutkan, 400-an Terjangkit, Dinkes: Banyak dari Pelajar
FreeIMG
Ilustrasi Sifilis. Pengidap penyakit ini mencapai 400-an orang di Gorontalo. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Angka penderita penyakit sifilis di Gorontalo tampak mengejutkan. Dinas kesehatan mencatat, terdapat 400-an warga Gorontalo terjangkit infeksi Penyakit dan Infeksi Menular Seksual (PIMS) saat ini.

"Kurang lebih ada 400-an kasus sifilis di Gorontalo (saat ini)," kata Ramdhan Ismail, Pengelola Penyakit Menular, Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo kepada TribunGorontalo.com, Selasa (31/10/2023).

Menurut Ramdhan, penyakit sifilis di Gorontalo bak fenomena pingpong. Artinya ada warga yang terjangkit secara berulang. Rata-rata dari pasangan. 

"Jadi misalnya ada satu pasangan suami istri. Suami adalah penderita sifilis, tapi sudah berobat dan sembuh. Namun ternyata, istrinya sudah tertular sebelum diobati. Meski suami sudah sembuh, istri dapat menularkan kembali kepada suami," terangnya.

Sebagai informasi, sifilis dalam terbagi tiga stadium yaitu stadium sifilis primer, stadium sifilis sekunder, dan stadium sifilis tersier.

Tiga stadium tersebut terdapat fase laten, yaitu fase tidak menimbulkan gejala klinis namun dari pemeriksaan laboratorium positif.

"Paling banyak kasus di Gorontalo sifilis laten, di mana mereka tidak sadar kalo mereka penderita sifilis," ucapnya.

Sifilis ditandai dengan luka di alat kelamin penderita. Rata-rata, banyak warga Gorontalo yang tidak menyadari ini. Kebanyakan mereka menganggap itu adalah luka biasa.

"Sifilis itu bertahan lama di darah. Walau sudah tidak ada gejala, bisa saja saat dites masih akan terdeteksi positif," terang Ramdhan.

Ia mengibaratkan PIMS ini seperti analogi gunung es. terlihat di atas permukaan hanya sebagian kecil. Namun jika dikaji lagi, banyak kasus yang akan ditemukan di masyarakat.

"Untuk itu, kami dari Dinas Kesehatan Provinsi membuka layanan seluas-luasnya, supaya masyarakat yang mengalami gejala, yang berisiko, atau pun didiagnosa positif, dapat mengakses layanan di mana saja dan kapan saja," jelasnya.

Dalam tiga tahun teraknir ini, kata Ramdhan Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo sudah melatih tenaga kesehatan (nakes) di 93 Puskesmas, 18 Rumah Sakit (RS) Pemerintah dan Swasta, Klinik-Klinik untuk penaganan PIMS.

"Jadi seharusnya pasien kesehatan, baik primer dan sekunder dapat melakukan pengawasan PIMS di wilayah masing-masing," harap Ramdhan.

Pihak mereka telah membuka jalur khusus konseling, jika sekiranya pasien ingin mendapat pelayanan yang lebih privat.

"Pendekatan konseling yang kami sediakan itu, satu layanan dengan lima petugas, yakni dokter, perawat atau bidan, laboran (analis labratorium), farmasi, recording dan reporting atau catatan dan pelaporan," sebutnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved