Minggu, 8 Maret 2026

TribunHIS

Perantau Tegal Jual Batagor di Gorontalo, Cita-citanya Kerja di Jepang atau Korea

SUPM adalah salah satu sekolah idola di Tegal. Banyak anak-anak Tegal yang ingin diterima di sekolah tersebut. 

Tayang:
Penulis: Rafiqatul Hinelo | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Perantau Tegal Jual Batagor di Gorontalo, Cita-citanya Kerja di Jepang atau Korea
TribunGorontalo.com/Rafiqatul Hinelo
Junedi Musafa Dani (20), perantau dari Tegal, Jawa Tengah yang kini berjualan batagor di Gorontalo. FOTO: Rafiqatul Hinelo 

TRIBUNGORONTALO.COM -- Junedi Musafa Dani atau yang akrab disapa Topan, adalah penjaga lapak Batagor Bandung di Taman Kota, Jalan Jaksa Agung Suprapto, Kota Gorontalo.

Remaja usia 20 tahun itu mengaku berangkat dari Tegal ke Gorontalo awalnya karena diajak oleh tantenya.

“Saat itu, saya ingin sekali sekolah di SUPM (Sekolah Usaha Perikanan Menengah) Tegal, tapi belum lolos, jadi saya mencoba untuk langsung bekerja,” kata Topan, Senin (30/10/2023). 

SUPM adalah salah satu sekolah idola di Tegal. Banyak anak-anak Tegal yang ingin diterima di sekolah tersebut. 

Belum mendapat kesempatan yang diimpikan, Topan kemudian mengiyakan ajakan tantenya untuk merantau berdagang batagor di Gorontalo.

Namun sebelum itu, kata Topan, ia sudah punya pengalaman kerja.

“Saat masih di Tegal, saya sering bantu-bantu orang tua bikin batu bata, terus karena merasa kurang nyaman, akhirnya saya ikut teman-tema ngamen sama jadi anak punk juga,” ungkapnya.

Ia tiba di Gorontalo pada 2018. Setelah mencoba berjualan di Gorontalo, Topan sempat pulang ke kampungnya, Tegal. Dan saat itu, ia sempat mencoba pekerjaan lain.

“Setelah kerja di Gorontalo terus pulang kampung, saya coba kerja jadi buruh bangunan, dan juga kerja bongkar muat barang,” terang Topan.

Saat ini, Topan tinggal bersama kawannya di Kecamatan Telaga, Kabupaten Gorontalo. Ia berangkat ke lokasi lapak jualan batagor naik bentor, setiap pagi jam setengah 8.

Lapak batagor ini rupanya adalah milik tante Topan sendiri. Namun, dalam proses produksinya, Topan juga turut berperan.

Selama berjualan, Topan mengaku pernah punya pengalaman yang kurang mengenakkan. Ia pernah dikejar petugas keamanan Satpol PP. 

“Saya pernah dikejar Satpol PP, sampai jualan saya gak laku,” curhat Topan.

Pedagang UMKM di jalanan memang rata-rata menghadapi dilema yang sama. Mereka ingin berjualan, namun kerap ada pemeriksaan dari petugas keamanan, yang bertugas untuk menertibkan lalu lintas yang macet, dan juga demi estetika Kota.

Meski begitu, Topan saat ini masih memilih berjualan. Ia mengaku masih berjuang untuk bekerja, sebab ia punya impian untuk mendapat pekerjaan yang lebih baik lagi.

“Saya punya impian untuk bisa bekerja di Jepang atau Korea, suatu saat nanti,” pungkas Topan. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved