Senin, 9 Maret 2026

Human Interest Story

Cerita Emi, Rela Tempuh 18 KM untuk Mengais Sampah di TPA Talumelito demi Hidupi Keluarga

Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sampah Talumelito menjadi titik tuju akhir dari sampah yang ada di tiga Kabupaten/Kota di Gorontalo. Emi (63)

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Rafiqatul Hinelo | Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Cerita Emi, Rela Tempuh 18 KM untuk Mengais Sampah di TPA Talumelito demi Hidupi Keluarga
TribunGorontalo.com/Rafiqatul
Emi, pemulung di TPA Talumelito Kabupaten Gorontalo 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Emi (63), pemulung di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Talumelito, Kabupaten Gorontalo.

Ia berangkat dari Kelurahan Pohe, Kecamatan Hulonthalangi, Kota Gorontalo, Emi datang memungut sampah di TPA Talumelito.

Emi menempuh jarak sekira 18 km, demi menafkahi istrinya.

“Saya tidak punya anak, tapi saya punya istri di rumah yang wajib saya nafkahi,” ucap Emi kepada TribunGorontalo.com pada Rabu (11/10/2023).

Baca juga: Cerita Hidayat Lanti, Pengawas TPA Talumelito Gorontalo yang Ulet dan Terampil

Namun untungnya, Emi memilih bentor sebagai kendaraan mobilitas dari rumahnya menuju TPA Talumelito.

Meski memang, Emi mengaku arus mengeluarkan biaya sebesar Rp 60 ribu.

Emi memulung sampah di TPA Talumelito selama tujuh hari dalam seminggu, mulai pagi hingga sore hari.

Sebelum di TPA Talumelito, Emi mengaku memulung sampah di TPA Kelurahan Pohe.

“Di Pohe TPA-nya sudah penuh, jadi mau tidak mau harus pindah ke sini,” Curhat Emi.

Diterpa terik matahari, Emi menceritakan selama ia menjadi pemulung, pernah ada satu kejadian memilukan di TPA Talumelito.

Baca juga: Cerita Nasir Minarabi, Warga Gorontalo yang Harus Hidup Tanpa Kaki Kiri

Saat itu, ketika ia masih memulung sampah di sel 3 TPA Talumelito, ada pemulung yang menemukan bayi di tumpukan sampah sel 3.

“Dahulu, pernah ada bayi di sel 3 TPA Talumelito, tapi bukan saya yang menemukan. Saya hanya ikut melihat. Saat itu ramai sekali warga yang ikut datang melihat, karena penasaran,” kata pria yang bernama lengkap Emi Gemu itu.

Sambil kembali melanjutkan aktivitas memilah sampahnya, Emi mengatakan sampah ini akan ia kumpulkan untuk dijual.

“Ada yang membeli per karung. Satu karung, biasanya dihargai sebesar Rp 40 ribu. Ada juga yang dihitung dari banyaknya jumlah plastic per kilogram,” tutup Emi.

 

(TribunGorontalo.com/Rafiqatul)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved