Human Interest Story
Cerita Sasmita, Penjual Kosmetik di Pasar Modern Limboto Gorontalo
Sasmita Septiani Djafar adalah seorang Sarjana Akuntansi yang memilih jalan karier sebagai pedagang UMKM,di Pasar Modern Limboto.
Penulis: Rafiqatul Hinelo | Editor: Aldi Ponge
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Sasmita-Septiani-Djafar-8889990.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Sasmita Septiani Djafar (25), Pedagang Kosmetik di Pasar Modern Limboto, Kabupaten Gorontalo, sejak kecil sudah berjualan.
Sasmita Septiani Djafar adalah seorang Sarjana Akuntansi yang memilih jalan karier sebagai pedagang UMKM,di Pasar Modern Limboto.
Lapak dagangan Sasmita, diberi nama Lapak Marwah Shop. Di Lapak itu fokus menjual kosmetik dan beberapa perkakas rumah tangga.
Sasmita tinggal di Jalan Durian, Perumahan Tomulabutao Selatan, Kecamatan Dungingi, Kota Gorontalo.
Ia bersaudara tiga. Sasmita merupakan anak kedua. Kakaknya sudah berkeluarga, sementara adiknya sedang duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA).
Setiap hari, Sasmita berangkat dari rumahnya menaiki sepeda motor ke Pasar Modern Limboto, yang berlokasi di Jalan Baso Bobihoe, Kelurahan Kayubulan, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo.
Bagi Sasmita, itu sudah menjadi hal yang tidak memberatkannya.
“Bagi saya, itu hal biasa,” ucapnya.
Sasmita mengaku, saat ia kecil dulu, sudah terbiasa menghadapi perjalanan hidup yang lebih getir dari sekadar pulang pergi Kota – Kabupaten Gorontalo.
Ia mengatakan, dahulu sebelum ia duduk di bangku sekolah, ia sudah berjualan bersama kakaknya, mengelilingi perumahan, membantu Ibu mereka.
Mereka sudah pernah mendagangkan berbagai macam jenis makanan. Mulai dari kue donat, buah-buahan, hingga agar-agar.
Sementara Sasmita mengatakan, saat itu ayahnya juga harus berjuang menjadi Sopir Travel rute Gorontalo-Kotamobagu-Manado.
“Kala itu, saya sedih sekali setiap malam, ketika harus melihat Ayah pulang pergi Gorontalo Manado, hanya untuk mengantarkan penumpang,” kata Sasmita.
Menurutnya, saat itu keadaan keluarganya bisa didefinisikan sebagai keluarga serba kekurangan.
Dari titik berat ini, Sasmita menceritakan bahwa ibunya bertekad untuk mulai lebih serius berjualan.