Human Interest Story
Penuhi Kebutuhan Keluarga, Fani Mahmud sang Guru Honorer Gorontalo Jualan Nasi Bulu
Fani Mahmud (28), seorang Guru Honorer Bahasa Indonesia di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Talaga, Kabupaten Gorontalo
Penulis: Rafiqatul Hinelo | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Fani-Mahmud-bersama-suaminya-berjualan-di-perlimaan-telaga.jpg)
TRIBUNGORONTALO, Gorontalo – Fani Mahmud (28), seorang Guru Honorer Bahasa Indonesia di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Talaga, Kabupaten Gorontalo yang juga berjualan nasi bulu.
Lapak Nasi Bulu tempat Fani di dekat jembatan Perlimaan Talaga, Jalan Ahmad A Wahab, Kecamatan Talaga, Kabupaten Gorontalo.
Fani mengatakan bahwa lapak nasi bulu ini bukanlah miliknya. Melainkan milik mertuanya, yang sudah dibuka sejak tahun 1990-an.
Ia berjualan di Lapak itu bersama suaminya. Meskipun lapak itu dikenal dengan nasi bulu, di lapak itu juga terdapat jenis dagangan makanan lain yang didagangkan.
Makanan-makanan itu adalah titipan dari orang lain, yang juga masih merupakan keluarga dari Suami Fani. Mulai dari sate ampela ayam, nasi bungkus, dan ilabulo.
Dahulu, Fani menyampaikan bahwa ia dan suaminya pernah punya lapak jualan sendiri di Desa Pantungo, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo. Mereka berjualan berdua di lapak itu selama kurang lebih satu tahun.
Pada Desember 2021, mereka memilih pindah untuk bekerja di Lapak orang tua, tidak lain karena ingin membantu orang tua yang sudah cukup renta dan tidak lagi bisa menjaga lapak sendirian.
Fani dan Suaminya, Nurhamidin Domili (28), saat ini tinggal di Kecamatan Telaga Jaya, Kabupaten Gorontalo, tidak jauh dari lapak nasi bulu itu.
Fani berbagi cerita perjuangannya sebelum ia berada di titik ini.
Baca juga: Cerita Pria Kebumen Jualan Pukis, Sebut Gorontalo Lebih Baik Ketimbang Bogor dan Bali
Sejak kecil Fani mengatakan ia terbiasa mandiri. Saat ia masih sekolah, ia hidup bersama pamannya. Ibu dan ayahnya sudah tidak lagi bersama. Pamannyalah yang membiayai kebutuhan sekolahnya.
“Perjuangan saya berada di titik ini, penuh lika-liku. Saat masih duduk di bangku sekolah hingga kuliah, saya hidup bersama Paman saya,” kata Fani.
Semasa hidupnya, Fani terbiasa dengan lingkungan yang keras. Ia mengatakan, salah satu pelajaran berharga yang ia ingat hingga saat ini adalah jika ia ingin makan dan membeli kebutuhan apa pun itu, maka ia harus bekerja.
Tempaan hidup yang ia hadapi, tidak membuat mental Fani ciut.
Meski tidak lagi dibesarkan dengan kasih sayang orangtua, Fani berhasil membuktikan bahwa ia mampu bertahan, dengan mendapatkan Beasiswa Bantuan Biaya Pendidikan bagi Mahasiswa Miskin (BIDIKMISI) saat ia duduk di bangku kuliah.
Tidak hanya itu, Fani pun mengungkapkan bahwa saat kuliah, ia juga mengisi waktunya untuk bekerja, demi menambah uang sakunya, untuk membeli keperluan kuliah.
Di masa-masa akhir semester perkuliahan, Fani bekerja menjadi pelayan di satu restoran yang berlokasi di Kota Gorontalo, yang bernama Domestik.
Selama bekerja di Restoran tersebut Fani mengaku telah banyak mempelajari ragam perangai manusia. Bagi Fani, pengalaman ini membentuknya untuk menjadi pribadi yang gigih dan santun pada siapa pun.
Fani mengatakan bahwa ia sangat menghormati amannya. Segala aturan yang ada di rumah pamannya, ia patuhi. Tidak lain,kata Fani, aturan itu dibuat oleh pamannya demi menjaga keponakannya yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri.
Baca juga: Cerita Yusran, Penjual Es Tong tong Keliling di Gorontalo, Setiap Hari Tempuh 13 Km
Tidak lama setelah lulus kuliah, Fani bertemu dengan Suaminya yang rupanya merupakan temannya saat duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).
“Saya bersyukur bisa dipertemukan kembali dengan Beliau. Lucunya, kami bertemu di Grup Alumni SD, dari situ kami mulai ta’aruf (proses mengenal lebih dekat, secara Islam),” ucap Fani.
Fani mengungkapkan bahwa, dulu saat masih duduk di bangku sekolah dasar (SD), Suaminya adalah siswa berprestasi. namun, Nurhamidin tidak sempat menyelesaikan kuliahnya, karena faktor ekonomi.
“Suami saya adalah pekerja keras. Dia adalah orang di balik proses produksi nasi bulu ini, orang yang tau resep turun temurun dari sesepuh kami,” tambah Fani.
Saat ini, Fani dan Nurhamidin fokus membantu menjaga lapak Ibunya.
“Pulang sekolah, saya bersiap untuk membantu Suami membuka Lapak ini, dan mulai berjualan,” tutupnya. (*)