Human Interest Story
Wanita Ini Mundur dari Kantor Pilih Jualan di Pasar Sentral Gorontalo: Lebih Menguntungkan
Fitriyani berjualan di Pasar Sentral Kota Gorontalo, Jalan Pattimura Kelurahan Limba U Dua, Kecamatan Kota Selatan.
Penulis: Rafiqatul Hinelo | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/2023-09-26_Fitriyani-Eksan-41.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Fitriyani Eksan (41), seorang Pedagang pasar, rupanya lulusan Administrasi Bisnis Universitas Sam Ratulangi Manado.
Fitriyani berjualan di Pasar Sentral Kota Gorontalo, Jalan Pattimura Kelurahan Limba U Dua, Kecamatan Kota Selatan.
Lapak jualan Fitriyani sendiri berada di Lantai Satu Pasar Sentral Kota Gorontalo tersebut.
Di lapaknya, Fitriyani menjual bahan-bahan pokok makanan. Baik bahan kering seperti minyak goreng, tepung-tepungan, dan juga bahan pokok organik seperti bawang, cabai, dan tomat.
Sebelum melakoni profesinya saat ini sebagai Pedagang pasar, Fitriyani mengaku pernah menggeluti berbagai jenis profesi lainnya, saat dijumpai TribunGorontalo.com, pada Selasa (26/9/2023).
Fitriyani mengatakan ia memang lahir di Gorontalo, tapi ia besar dan tumbuh di Manado, Sulawesi Utara.
"Saya dari kecil hingga kuliah, hidup di Manado," kata Fitriyani.
Di Manado, ia mengatakan pernah menjadi Salesman di berbagai toko saat masih duduk di bangku kuliah.
Setelah kuliah, mengawali perjalanan karirnya dengan menjadi Salesman di PT Indosat, ditempatkan di Gorontalo.
"Delapan tahun saya kerja di PT Indosat, di posisi Accounting, tahun 2005," ucapnya.
Saat kantor PT Indosat gulung tikar, Fitriyani beralih ke Finance. Di Kantor Finance ia mengaku bekerja selama 6 tahun.
Sembari ia menjadi pegawai di kantor inilah kemudian ia mendapat inspirasi untuk mencoba dunia bisnis UMKM di Pasar Sentral.
Fitriyani mengatakan bahwa suatu hari ia jalan-jalan ke Pasar Sentral, karena bosan dengan rutinitas kantor.
Ia melihat sepupunya yang sedang berjualan di sana.
Setelah tahu bahwa upah pekerja di Lapak sepupunya sebesar Rp 100 ribu per hari, ia pun melamar menjadi penjaga lapak tersebut.
"Saya tertarik dengan aktivitas berjualan, ternyata dapat Rp 100 ribu per hari, ini lebih menguntungkan ketimbang upah kerja di kantor saat itu," ucap Fitriyani.
Setelah kurang lebih dua bulan bekerja di lapak sepupunya, ia memutuskan untuk membuka usaha sendiri.
Fitriyani mengaku penghasilannya dari membuka lapak sendiri cukup melejit.
"Awalnya, saya menyewa lapak seharga Rp 5 juta per tahun. Setelah tiga tahun berjualan, saya bisa beli gerai seharga Rp 50 juta," ujarnya.
Namun saat ini, lapak Fitriyani hanya berukuran 3x5 meter, menyesuaikan dengan sistem lotre pembagian lapak Pasar Sentral baru, setelah direnovasi.
Fitriyani juga menyampaikan bahwa pada Oktober 2023 nanti ia akan melaksanakan Ibadah Umroh, dari hasil usahanya ini.
Terakhir, Fitriyani menambahkan bahwa ia tidak mendiskreditkan profesi apa pun.
Menurutnya, semua bisa menguntungkan jika dijalani dengan kerja keras dan sabar.
"Kerja kantor juga bagus, tapi setiap orang punya preferensi. Saya lebih senang berjualan begini. Yang penting jalani dengan kerja keras dan sabar," tutup Fitriyani. (*)