Human Interest Story
Cerita Dirgayu, Pria asal Palembang yang Jualan Kerupuk di Gorontalo
Dirgayu (23) warga Palembang, Sumatera Selatan datang ke Gorontalo untuk berjualan kerupuk.
Penulis: Rafiqatul Hinelo | Editor: Aldi Ponge
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Dirgayu-23-warga-Palembang-88899.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Dirgayu (23) warga Palembang, Sumatera Selatan datang ke Gorontalo untuk berjualan kerupuk.
Dijumpai TribunGorontalo.com pada Selasa (26/9/2023), Dirgayu membagikan ceritanya tentang pilihannya merantau ke Gorontalo.
Gorontalo rupanya bukanlah kota pertama yang ia datangi untuk mengadu peruntungan.
Sebelumnya, Dirgayu mengatakan ia telah mencoba merantau di beberapa daerah lain.
Mulai dari Madiun, Padang, Jakarta, Palu, Kotamobagu. Baru kemudian ke Gorontalo.
Di Gorontalo, ia mengaku baru berjualan selama dua bulan.
"Saya lama di Palu, kurang lebih tiga tahun. Di sini saya baru dua bulan," ucap Dirgayu.
Ia tinggal di Kos yang berlokasi di Jalan Andalas, Kota Gorontalo.
Setelah berjualan di Palu, ia mengaku kembali ke Palembang, lalu berangkat lagi ke Gorontalo, bersama lima orang temannya.
Dirgayu mengatakan bahwa ia pindah ke Gorontalo, karena kerap dilarang oleh Pemerintah Palu saat berjualan di jalanan, khususnya di area lampu lalu lintas.
"Kalau di Gorontalo, kami sejauh ini tidak dilarang jualan di lampu merah begini," ujarnya.
Dirgayu sudah merantau sejak umur 15 tahun. Ia mengatakan banyak menemui pengalaman merantau yang beragam.
Ia membedakan keaadaannya saat berjualan di Jakarta dan di Gorontalo.
"Kalau di Jakarta saya takut terpengaruh lingkungan pergaulan yang tidak sehat, kalau di Gorontalo Alhamdulillah aman," ujarnya.
Kerupuk yang ia dagangkan dihargai sebesar Rp 20 ribu per tiga bungkus.
Dirgayu mengatakan bahwa menjual kerupuk di jalanan punya tantangan tersendiri.
"Sudah dua bulan saya di sini, tapi belum pernah pulang dengan dagangan yang habis terjual, pasti tersisa," kata Dirgayu.
Ia bahkan sudah mengelilingi dua wilayah Kabupaten di Gorontalo untuk menjajakan kerupuknya.
"Saya sudah coba berjualan ke Limboto, Isimu, Danau Perintis, daerah Pantai, tapi sama saja," tambahnya.
Meski begitu, ia mengaku senang bisa mencoba berjualan keliling, karena ia bisa sekalian menikmati pesona wisata Gorontalo.
Ke depan, Dirgayu terpikirkan untuk menjual Pempek Palembang.
"Kalau sudah ada rejeki lebih, saya punya ide untuk berjualan pempek keliling, digotong pakai gerobak, tidak mangkal di satu tempat," pungkasnya. (*)