Human Interest Story
Jalan Kaki Jualan Cukuran Kelapa, Pedagang Ini Termotivasi Melestarikan Tradisi Gorontalo
Cukuran kelapa itu ia gotong mulai dari daerah Padebuolo, Kecamatan Kota Timur, Kota Gorontalo. Kemudian Idris berjalan menuju arah Citimall Gorontalo
Penulis: Rafiqatul Hinelo | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/2023-09-21_Idris-Ibrahim-70-Berdagang-Cukuran-Kelapa.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Idris Ibrahim (70), pria paruh baya yang berdagang cukuran kelapa di Kota Gorontalo termotivasi melestarikan tradisi Gorontalo.
Idris Ibrahim tinggal di Desa Timbuolo Tengah, Kecamatan Botupingge, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo.
Ia mengaku tinggal bersama Istrinya di rumah keponakannya.
Idris mendagangkan cukuran kelapa dengan berjalan mengelilingi beberapa titik di pusat Kota Gorontalo.
Cukuran kelapa itu ia gotong mulai dari daerah Padebuolo, Kecamatan Kota Timur, Kota Gorontalo. Kemudian Idris berjalan menuju arah Citimall Gorontalo yang berada di Jalan Sultan Botutihe, Kota Gorontalo.
Dijumpai pada Rabu (20/9/2023), Idris menceritakan bahwa ia sudah lama memilih berdagang sebagai mata pencahariannya.
Idris mengaku ia mulai bekerja mencari penghidupan secara mandiri sejak umur 26 tahun.
Namun, ia mengatakan bahwa ia pernah mencoba usaha lain, seperti menjadi pekerja kanvas kain di suatu UMKM, sebelum akhirnya beralih menjual cukuran kelapa.
Alasan Idris memilih berdagang cukuran kelapa pun unik dan terbilang langka.
Ia mengungkapkan bahwa tidak lain ia berdagang cukuran kelapa demi melestarikan budaya Gorontalo.
Baginya, menjual alat cukur kelapa tradisional ini akan membuat masyarakat tetap dekat dengan cerita-cerita budaya Gorontalo.
“Sebenarnya kalau dipikir, sekarang ini sudah banyak alat cukur yang lebih canggih, tapi sengaja saya menjual ini, karena bisa dipakai di acara-acara adat Gorontalo,” ucap Idris.
Cukuran kelapa memang selain digunakan untuk mencukur kelapa sebagai bahan masakan, juga memiliki arti tersendiri dalam beberapa ritus budaya di Gorontalo.
Cukuran kelapa kerap terlihat menjadi alat atau simbol yang diadakan di ritual budaya Gorontalo seperti Mandi Lemon atau Baiat Muslimah.
Setiap satu cukuran kelapa itu, ia jual dengan harga Rp 150 ribu.