Jumat, 6 Maret 2026

Human Interest Story

Jalan Kaki Jualan Cukuran Kelapa, Pedagang Ini Termotivasi Melestarikan Tradisi Gorontalo

Cukuran kelapa itu ia gotong mulai dari daerah Padebuolo, Kecamatan Kota Timur, Kota Gorontalo. Kemudian Idris berjalan menuju arah Citimall Gorontalo

Tayang:
Penulis: Rafiqatul Hinelo | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Jalan Kaki Jualan Cukuran Kelapa, Pedagang Ini Termotivasi Melestarikan Tradisi Gorontalo
TribunGorontalo.com/Rafiqatul Hinelo
Idris Ibrahim (70), Berdagang Cukuran Kelapa di Jalan Raja Eyato, Limba B, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo, Gorontalo. FOTO Rafiqatul Hinelo/TribunGorontalo.com 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo –  Idris Ibrahim (70), pria paruh baya yang berdagang cukuran kelapa di Kota Gorontalo termotivasi melestarikan tradisi Gorontalo.

Idris Ibrahim tinggal di Desa Timbuolo Tengah, Kecamatan Botupingge, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo.

Ia mengaku tinggal bersama Istrinya di rumah keponakannya.

Idris mendagangkan cukuran kelapa dengan berjalan mengelilingi beberapa titik di pusat Kota Gorontalo.

Cukuran kelapa itu ia gotong mulai dari daerah Padebuolo, Kecamatan Kota Timur, Kota Gorontalo. Kemudian Idris berjalan menuju arah Citimall Gorontalo yang berada di Jalan Sultan Botutihe, Kota Gorontalo.

Dijumpai pada Rabu (20/9/2023), Idris menceritakan bahwa ia sudah lama memilih berdagang sebagai mata pencahariannya.

Idris mengaku ia mulai bekerja mencari penghidupan secara mandiri sejak umur 26 tahun.

Namun, ia mengatakan bahwa ia pernah mencoba usaha lain, seperti menjadi pekerja kanvas kain di suatu UMKM, sebelum akhirnya beralih menjual cukuran kelapa.

2023-09-21_Idris istirahat
Idris istirahat sejenak di trotoar jalan. FOTO Rafiqatul Hinelo/TribunGorontalo.com.

Alasan Idris memilih berdagang cukuran kelapa pun unik dan terbilang langka.

Ia mengungkapkan bahwa tidak lain ia berdagang cukuran kelapa demi melestarikan budaya Gorontalo.

Baginya, menjual alat cukur kelapa tradisional ini akan membuat masyarakat tetap dekat dengan cerita-cerita budaya Gorontalo.  

“Sebenarnya kalau dipikir, sekarang ini sudah banyak alat cukur yang lebih canggih, tapi sengaja saya menjual ini, karena bisa dipakai di acara-acara adat Gorontalo,” ucap Idris.

Cukuran kelapa memang selain digunakan untuk mencukur kelapa sebagai bahan masakan, juga memiliki arti tersendiri dalam beberapa ritus budaya di Gorontalo.

Cukuran kelapa kerap terlihat menjadi alat atau simbol yang diadakan di ritual budaya Gorontalo seperti Mandi Lemon atau Baiat Muslimah.

Setiap satu cukuran kelapa itu, ia jual dengan harga Rp 150 ribu. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved