Jumat, 27 Maret 2026

Budaya Gorontalo

Arti Mandi Safar, Tradisi Gorontalo yang Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia

Mandi Safar merupakan sebuah ritual penting dalam kehidupan masyarakat Muslim di beberapa wilayah Indonesia, termasuk Gorontalo Utara (Gorut).

Tayang:
Penulis: Redaksi | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Arti Mandi Safar, Tradisi Gorontalo yang Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia
istimewa
Prosesi Mandi Safar di Sungai Andagile, Desa Buata, Kecamatan Atinggola, Gorontalo Utara. FOTO: Sarintan Paneo Musa/fb 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Tradisi Mandi Safar telah mendapatkan pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.

Mandi Safar merupakan sebuah ritual penting dalam kehidupan masyarakat Muslim di beberapa wilayah Indonesia, termasuk Gorontalo Utara (Gorut).

Mandi Safar adalah sebuah ritual yang dijalankan oleh masyarakat Gorut dalam bulan Safar dalam penanggalan Islam. Tradisi ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya dan keyakinan masyarakat setempat.

Bulan Safar sering dianggap sebagai bulan yang penuh dengan potensi bala dan malapetaka. Karena itu, Mandi Safar dianggap sebagai upaya untuk menolak bala, penyakit, dan menghindari segala fitnah yang bisa menimpa manusia.

Ritual Mandi Safar melibatkan seorang tokoh adat yang memimpin prosesi ini. Mereka menggunakan daun andong (tabongo) untuk melaksanakan semacam ritual sebelum masyarakat bercebur ke sungai.

Sejarah Mandi Safar dapat ditelusuri hingga zaman Nabi Muhammad SAW, yang menganggap bulan Safar sebagai bulan yang berpotensi membawa ujian dan bencana.

Menurut A.R. Mayango, mantan Kepala Desa Buata, tradisi ini telah ada sejak Sultan Eyato memerintah pada tahun 1673-1679.

Sultan Eyato adalah seorang ulama yang sangat taat dalam menjalankan syariat Islam. Penanggalan Gorontalo juga berlandaskan penanggalan bulan hijriah, sehingga bulan Safar selalu menjadi momen penting untuk melaksanakan ritual tolak bala.

Gasim Bait, seorang warga di Kecamatan Atinggola, menyebutkan bahwa sejak tahun 2013, ritual Mandi Safar ini diselenggarakan secara adat oleh pemerintah daerah sebagai bagian dari acara tahunan.

Karena itu, Frits Ano, mantan Kadis Pariwisata Gorut, menjelaskan bahwa tradisi ini diangkat oleh pemerintah daerah untuk melestarikannya dan melibatkan tokoh adat dalam pelaksanaannya.

Selama pelaksanaan Mandi Safar, masyarakat juga berdoa bersama untuk meminta pertolongan Tuhan agar terhindar dari segala bencana.

Doa ini merupakan bagian penting dalam ritual ini, yang bertujuan untuk menolak bala dan mencegah berbagai macam marabahaya.

Ritual Mandi Safar secara rutin dilakukan di Sungai Andagie Desa Buata Kecamatan Atinggola Kabupaten Gorontalo Utara.

Masyarakat bersama-sama bermandi di sungai sebagai simbol membersihkan diri dan harapan agar terhindar dari hal-hal yang tidak baik.

Menurut Gasim Baid, dalam persiapan ritual ini, masyarakat menyiapkan tulisan lafaz Alquran yang dituliskan di daun dan diletakkan di sungai sebagai bentuk perlindungan dari bencana.

Daun yang digunakan biasanya adalah daun andong (tabongo) yang kuat dan tulisannya tahan lama.

Ritual Mandi Safar ini bukan hanya tentang pembersihan jasmani, tetapi juga memiliki makna spiritual.

Masyarakat berharap agar dengan melaksanakan ritual ini, mereka bisa terhindar dari sifat penyakit hati seperti angkuh, iri, dan sombong.

Peserta Mandi Safar juga berdoa kepada Pencipta untuk mendapatkan kebaikan, kesejahteraan, dan ketaatan dalam hidup.

Ritual Mandi Safar telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya dan agama masyarakat Gorut.

Pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia adalah langkah penting dalam melestarikan tradisi ini dan mempromosikannya kepada masyarakat Indonesia dan dunia sebagai warisan budaya yang kaya akan makna dan nilai-nilai kebersamaan serta spiritualitas.(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved