PEMPROV GORONTALO

Ada 5.132 Anak di Gorontalo Berstatus Stunting, di Kabupaten Ini Terbanyak

Sementara itu, berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), pravelensi stunting di Gorontalo mencapai sebesar 23,8 persen.

Penulis: Redaksi | Editor: Wawan Akuba
TribunGorontalo.com
Ilustrasi stunting di Gorontalo. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Pemerintah Provinsi Gorontalo merilis data-data jumlah anak stunting di wilayah tersebut. 

Dalam laporan tertulis yang diterima TribunGorontalo.com, Jumat (15/9/2023), jumlah anak berstatus stunting di wilayah ini mencapai 5.132.

Pj Gubernur Gorontalo, Ismail Pakaya dalam laporan itu merinci jumlah anak stunting di masing-masing kabupaten. 

Kata Ismail, berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, distribusi jumlah anak balita tengkes menurut kabupaten/kota periode Agustus 2023 yang terbanyak berada di Kabupaten Gorontalo sebesar 1.514 orang.

Disusul Kabupaten Gorontalo Utara dan Bone Bolango masing-masing 1.198 dan 1.018 anak.

Selanjutnya Boalemo dengan 629 anak, Kota Gorontalo 407 anak, serta Pohuwato sebanyak 366 anak.

Sementara itu, berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), pravelensi stunting di Gorontalo mencapai sebesar 23,8 persen.

Namun, menurut Ismail data ini justru menyulitkan pihaknya dalam melakukan intervensi. Sebab, data tersebut tidak dirinci by name by address.

Ia mengkhawatirkan akan terjadi tumpang tindih dan program intervensi yang tidak tepat akibat keterbatasan data.

“Kita akan intervensi yang ada datanya by name by address," ungkap Ismail aat membuka Training Strategic Leadership and System Thinking in Learning Organization dan persiapan intervensi non material penanggulangan stunting atau tengkes di Hotel Grand Q, Kota Gorontalo, Kamis (14/9/2023).

Menurutnya, jika tak diintervensi berdasarkan nama dan alamat, maka strategi yang dilakukan kemungkinan tidak akan berhasil. 

“Misalnya anak A basis keluarganya bukan miskin, orang tuanya punya pekerjaan tetap. Anak itu tengkes bukan karena asupan makanan, tapi pola asuh yang buruk atau pengaruh lingkungan rumahnya. Kalau kita tidak punya data seperti itu, datang dengan membawa susu dan telur, ya tidak berubah, karena bukan itu penyebabnya,” imbuhnya.

Memang, penuntasan angka stunting di Gorontalo menjadi prioritas Ismail sejak menjabat sebagai Pj gubernur.

Berbagai terobosan telah dilakukan untuk mempercepat penurunan angka tengkes sesuai target yang ditetapkan Presiden Joko Widodo sebesar 14 persen di tahun 2024.

Mulai dari menunjuk Dinas Ketahanan Pangan menjadi koordinator penanggulangan tengkes, membagi Organisasi Perangkat Daerah (OPD) penanggungjawab tengkes di setiap kecamatan, hingga menginstruksikan seluruh pimpinan OPD Provinsi Gorontalo menjadi orang tua asuh anak tengkes.

“Untuk gubernur beri saya 15 anak asuh. Ini bukan untuk mencari prestasi, tapi demi masa depan anak-anak kita yang akan menjadi penerus pembangunan bangsa dan negara di masa mendatang,” tutur Ismail. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved