TribunWiki

3 Fase Perkembangan Kota Gorontalo dari Sebelum Kolonial

Dijuluki sebagai Serambi Madinah, Kota Gorontalo merupakan salah satu kota tertua di jazirah Sulawesi, diperkirakan terbentuk sekitar 400 tahun silam.

|
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
TribunGorontalo.com/AldiPonge
Foto Taman Taruna Remaja berada di Pusat Kota Gorontalo, Ibu Kota Provinsi Gorontalo. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Perkembangan Kota Gorontalo ditandai tiga fase.

Dijuluki sebagai Serambi Madinah, Kota Gorontalo merupakan salah satu kota tertua di jazirah Sulawesi, diperkirakan terbentuk sekitar 400 tahun silam.

Seiring berkembangnya zaman, Kota Gorontalo menjadi poros strategi dalam hal perdagangan, pendidikan serta penyebaran agama Islam di Indonesia Timur.

Berjalannya waktu, perubahan struktur sosial masyarakat di Kota Gorontalo dipengaruhi oleh sistem pemerintahan yang seringkali berubah.

Marzuki dalam bukunya menjelaskan bahwa wilayah Kota Gorontalo mengalami perubahan dari wilayah Pohala (kerajaan) Gorontalo.

Perubahan itu ditandai peralihan Kota Gorontalo dalam tiga fase, yakni Kota Tradisional, Kota Kerajaan Islam dan Kota Kolonial seperti dikutip TribunGorontalo.com dari buku Arkeologi Perkotaan Gorontalo karangan Irfanuddin Wahid Marzuki.

Baca juga: Apa Itu Biliu? Pakaian Adat Gorontalo yang Ternyata tak Bisa Dipakai Sembarangan

Kota Tradisional

Pada masa ini, Kota Gorontalo dikenal sebagai pusat kerajaan awal atau ibu kota kerajaan di nusantara (Indonesia) hingga datangnya pengaruh kolonial.(Makkelo dalam Irfanuddin Wahid Marzuki).

Kota tradisional dibangun dengan pertimbangan mikro kosmos religious (kejadian alami), berbeda dengan kota modern yang teratur dan direncanakan pembangunannya.

Periode Kota Tradisional terjadi ketika pusat kerajaan Gorontalo berada di bibir Sungai Bolango pada wilayah yang dikenal Kelurahan Hulawa saat ini.

Alasan lokasi pusat kerajaan itu dipindahkan ke wilayah pantai untuk memudahkan hubungan dengan kerajaan lain (Hasanuddin dan Basri Amin, 2012:60).

Kota Kerajaan Islam

Perkembangan ini ditandai dengan dibangunnya kota (Bandar) Gorontalo pada masa Sultan Botutihe (1728-1757).

Pada masa ini, pusat pemerintahan berpindah dari Dungingi ke suatu wilayah dekat Sungai Bolang.

Marzuki (2012:6) dalam bukunya mengatakan, perpindahan ini bertujuan mendekati muara Sungai Bone sebagai pintu masuk dan menghalangi penempatan permukiman Belanda (VOC).

Baca juga: Potret Terkini Taman Kota Gorontalo, Dahulu Ramai Kini Sepi Pengunjung

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved