Senin, 16 Maret 2026

Mati Ditebak Polisi

BREAKING NEWS: Dianggap Membahayakan, Seorang Warga Tenda Gorontalo Ditembak Mati Polisi

Warga tersebut bernama Muhammad Hasan (MH), pria paruh baya yang rumahnya berada di bantaran Sungai Bolango. 

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Redaksi | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto BREAKING NEWS: Dianggap Membahayakan, Seorang Warga Tenda Gorontalo Ditembak Mati Polisi
istimewa
Ilustrasi warga Gorontalo ditembak mati polisi. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Seorang warga Kelurahan Tenda, Kecamatan Hulonthalangi, Kota Gorontalo ditembak mati personel Polresta Gorontalo Kota.

Warga tersebut bernama Muhammad Hasan (MH), pria paruh baya yang rumahnya berada di bantaran Sungai Bolango. 

Kapolresta Gorontalo Kota, Kombes Pol Ade Permana menjelaskan, pihaknya terpaksa mengambil tindakan penembakan karena MH dianggap membahayakan nyawa petugas. 

Saat itu, MH menurut polisi tengah memojokan seorang polisi di sebuah lorong di kawasan Tenda.

Polisi yang terdesak dan merasa nyawanya terancam, lalu melepaskan tembakan peringatan.

MH saat itu tak gentar dan terus menyerang polisi. Hingga seorang polisi akhirnya peluru pun dilepaskan dari pelatuk dan mengenai dada sebelah kiri MH.

Baca juga: Kronologi Warga Tenda Gorontalo Ditembak Mati Personel Polresta

Kapolresta Ade Permana tidak menyebut nama polisi yang melepaskan tembakan yang menewaskan MH tersebut.

Menurut polisi, saat timah panas itu menembus dada sebelah kiri, MH masih dalam kondisi bernafas.

Polisi lantas melarikan pria yang tiga tahun lalu pisah dengan istrinya itu ke Rumah Sakit Aloei Saboe (RSAS). 

“Dilaksanakan pertolongan oleh dokter namun dinyatakan meninggal,” ungkap Ade Permana Sabtu tadi malam dalam konferensi pers (9/9/2023). 

Adapun penembakan itu kata Ade terjadi pada Sabtu dini hari. Sehari sebelumnya  yakni pada Jumat (8/9/2023) MH sempat dianggap meresahkan.

Ada seorang warga yang melaporkannya ke kantor polisi terdekat. 

Saat itu pun sebetulnya dua anggota Polresta mendatangi rumah MH. Namun kata Ade, justru dua anggota polisi itu mendapat perlawanan.

Seorang polisi yang datang langsung menemui MH kata Ade, mengalami luka sayatan di jari-jari tangan. Polisi itu bernama Bripka Ariyanto Antuke. 

Baca juga: Keluarga Keberatan, Kasus Warga Tenda Gorontalo Ditembak Mati Polisi Diminta Proses

Usai melakukan keributan malam itu, MH kabur dan dicari oleh polisi hingga ke pegunungan Tenda yang kerap disebut Bukit Sabua.

Pencarian tak membuahkan hasil, hingga akhirnya MH kembali ke rumahnya di Kelurahan Tenda

Polisi yang dikabari warga setempat akan kepulangan MH, kembali menerjunkan timnya ke lokasi.

Saat itu Sabtu dini hari. Itu adalah hari terakhir MH bernyawa. 

Saat Sabtu dini hari itu, MH disebut melakukan perlawanan lagi ke polisi hingga penembakan itu dilakukan. 

MH diketahui berusia sekitar 47 tahun. Ia merupakan pria yang saat ini tinggal sebatang kara di rumah semi permanen. 

Tepat di bantaran Sungai Bolango itu, MH menghabiskan hari-harinya. 

Ia sebelumnya diketahui ditinggal istrinya sekira 3 tahun lalu.

Sejak saat itu pula, selain istri, 3 anak-anaknya juga meninggalkannya seorang diri di rumah tersebut.

Kata polisi dan masyarakat sekitar, keretakan rumah tangga itulah yang menyebabkan MH mengalami sedikit depresi dan gangguan mental.

Tetapi tidak sampai menjurus ke perilaku Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). MH hanya saja kerap berperilaku tidak biasanya.

“Memang dia meresahkan, tapi tidak membahayakan,” kata RH, warga Tenda yang diwawancarai TribunGorontalo.com Sabtu malam.

Menurutnya, RH adalah warga yang cukup pendiam. Ia adalah pria yang baik. Hanya saja karena ia tinggal sebatang kara tanpa keluarga, ia terkadang melakukan hal-hal yang tidak biasa.

“Hanya saja begitu, tidak ada yang dirugikan,” kata RH.

Hal demikian dibenarkan oleh Wawan Kurniawan Mohi, ketua RT setempat.

Ia sempat menceritakan apa yang dilakukan oleh MH saat Jumat pagi. Katanya, memang benar ia mendengar MH sempat bermasalah dengan tetangganya.

Saat itu ia memang terlihat sedikit berbeda. Dengan emosi yang kurang terkontrol. Tetapi tidak berbahaya untuk warga.

“Karena ada saya pe anak waktu itu dia lewat bawa senjata tajam. Kalau dia berbahaya, mungkin anak-anak saya itu dia lukai. Cuma tidak. Cuma kucing saja karena dia emosi, dia bage (lukai),” kata Kurniawan Mohi. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved