Rabu, 4 Maret 2026

Parade Foto

BERITA FOTO Museum Nani Wartabone di Bone Bolango Gorontalo

Foto- Foto Museum Nani Wartabone di Desa Bube Baru, Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo

Penulis: Prailla Libriana Karauwan | Editor: Aldi Ponge
zoom-inlihat foto BERITA FOTO Museum Nani Wartabone di Bone Bolango Gorontalo
TRIBUNGORONTALO/PRAILLA KARAUWAN
Foto- Foto Museum Nani Wartabone di Desa Bube Baru, Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Berikut foto- foto Museum Nani Wartabone.

Museum ini dulu adalah rumah milik pahlawan Nasional asal Gorontalo, Nani Wartabone.

Rumah ini dibangun 1928 menjadi saksi bisu perjuangan Nani Wartabone.

Setelah Nani Wartabone wafat pada 1986, rumah ini dirawat oleh anak-anaknya.

Lalu setelah anak-anak beliau wafat, untuk mengenang semangat juang yang dimiliki Nani Wartabone, kini rumah itu dijadikan sebagai museum.

Museum Nani Wartabone ini berlokasi di Desa Bube Baru, Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango.

Museum ini berjarak 9 kilometer dari pusat Kota Gorontalo.

Selain adanya museum, di samping dari museum ini terdapat dua makam yaitu makam Nani Wartabone dan makam Istrinya, Aisyah Tangahu.

Masyarakat yang ingin datang ke museum Nani Wartabone serta ingin berziarah ke makamnya tidak dibebankan uang masuk alias gratis.

Masyarakat hanya cukup mengisi buku tamu yang tersedia dan mengikuti seluruh aturan yang ada di area tersebut seperti dilarang menyentuh barang-barang di museum :

Berikut Foto- Foto di Museum Museum Nani Wartabone : 

Foto- Foto di Museum Museum Nani Wartabone hyhj
Foto- Foto Museum Nani Wartabone di Desa Bube Baru, Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo
Foto- Foto Museum Nani Wartabone di hyyyyyhhh
Foto- Foto Museum Nani Wartabone di Desa Bube Baru, Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo
Foto- Foto Museum Nani Wartabone di Desa Bube Baru 8899900
Foto- Foto Museum Nani Wartabone di Desa Bube Baru, Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo
Foto- Foto Museum Nani Wartabone di Desa Bube Baru 889999
Foto- Foto Museum Nani Wartabone di Desa Bube Baru, Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo
Foto- Foto Museum Nani Wartabone di Desa Bube Baru, cbgdf
Foto- Foto Museum Nani Wartabone di Desa Bube Baru, Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo
Foto- Foto Museum Nani Wartabone di Desa Bube Baru 8897899
Foto- Foto Museum Nani Wartabone di Desa Bube Baru, Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo
Foto- Foto Museum Nani Wartabone di Desa Bube Baru ooppo09000
Foto- Foto Museum Nani Wartabone di Desa Bube Baru, Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo
Foto- Foto Museum Nani Wartabone di Desa Bube Baru 88999
Foto- Foto Museum Nani Wartabone di Desa Bube Baru, Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo
Foto- Foto Museum Nani Wartabone di Desa Bube Baru 55556
Foto- Foto Museum Nani Wartabone di Desa Bube Baru, Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo

 

Foto- Foto Museum Nani Wartabone di Desa Bube Baru 9op0oooggg
Foto- Foto Museum Nani Wartabone di Desa Bube Baru, Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo


Melansir Kompas,com, Nani Wartabone adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia yang berasal dari Gorontalo.

Sejumlah jabatan penting pernah disandangnya setelah Indonesia merdeka. Di antaranya Kepala Pemerintahan di Gorontalo, Kepala Daerah Sulawesi Utara, Anggota MPRS, Anggota DPRGR, Anggota Dewan Perancang Nasional, hingga Anggota DPA.

Nama Nani Wartabone juga dikenal sebagai sosok proklamator kemerdekaan di Gorontalo yang diproklamirkan 3 tahun sebelum kemerdekaan Indonesia.

Peristiwa itu dikenal dengan Peristiwa Hari Patriotik 23 Januari 1942. Saat itu Nani Wartabone juga mengibarkan bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Nani Wartabone lahir di Suwawa, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo pada tanggal 30 April 1907.

Ayahnya bernama Zakaria Wartabone merupakan seorang aparat yang bekerja untuk pemerintah Hindia Belanda.

Sementara ibunya merupakan seorang wanita keturunan ningrat atau priyayi pada zaman tu.

Jiwa perjuangan dan nasionalisme Nani Wartabone sudah tampak sejak dia masih remaja.

Hal itu dapat dilihat dari pandangannya yang keras terhadap Belanda meski ayahnya seorang aparat.

Nani Wartabone tidak betah berada di sekolah karena dia menilai guru-gurunya banyak yang mengagungkan Belanda.

Bahkan Nani Wartabone pernah membebaskan tahanan ayahnya karena tidak sampai hati melihat bangsanya dihukum.

Perjuangan nyata seorang Nani Wartabone dimulai pada tahun 1923, yaitu dengan mendirikan Jong Gorontalo.

Pada organisasi kedaerahan itu, Nani Wartabone dipercaya menjabat sebagai sekretaris.

Selain itu, Nani Wartabone juga bergabung ke dalam Partai Nasional Indonesia (PNI) Cabang Gorontalo, dan pernah ditunjuk menjadi ketua.

Suatu hari pada tahun 1931, Nani Wartabone yang sedang memimpin rapat PNI Gorontalo kedatangan pihak Belanda.

Maksud kedatangan Belanda itu tidak lain adalah untuk membubarkan rapat PNI yang digelar Nani.

Namun, Nani Wartabone dengan lantang melawan upaya pembubaran itu dengan mendemonstrasikan lagu Indonesia Raya.

Nani Wartabone juga tercatat aktif di organisasi Persyarikatan Muhammadiyah.

Dalam beberapa catatan disebutkan, maksud Nani Wartabone masuk Muhammadiyah bertujuan untuk menghindarkan umat dari pandangan yang merugikan Islam itu sendiri.

Pada tahun 1941, Nani Wartabone membentuk Komite 12, sebuah organisasi rahasia untuk menghadapi Perang Pasifik.

Sedangkan pada tahun berikutnya, Nanti memimpin pemberontakan dan menyatakan kemerdekaan Indonesia di Gorontalo.

Dia juga memimpin rakyat Gorontalo menumpas pemberontakan PRRI dan Permesta.

Nani Wartabone meninggal dunia justru bukan sebagai pejabat melainkan sebagai petani di desa terpencil.

Nani Wartabone meninggal dunia bersamaan dengan azan salat Jumat pada tanggal 3 Januari 1989 di Suwawa, Gorontalo.

Untuk mengenang jasa-jasanya, Nani Wartabone ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 6 November 2003. (Praila/Kompas.com)


 
 
 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved