Breaking News
Minggu, 8 Maret 2026

Wiki Gorontalo

Asal Usul Nama Talaga, Wilayah Kabupaten Gorontalo Jadi Saksi Bisu Perjalanan Raja Tilahunga

Wilayah Kecamatan Telaga di Kabupaten Gorontalo menjadi saksi perjalanan Raja Tilahunga. Raja tilahunga ialah seorang Raja atau dalam bahasa Gorontalo

Tayang:
Penulis: Risman Taharudin | Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Asal Usul Nama Talaga, Wilayah Kabupaten Gorontalo Jadi Saksi Bisu Perjalanan Raja Tilahunga
TribunGorontalo.com/RismanTaharudin
Kawasan Telaga Kabupaten Gorontalo 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Wilayah Kecamatan Telaga di Kabupaten Gorontalo menjadi saksi perjalanan Raja Tilahunga.

Raja Tilahunga atau bahasa Gorontalo Olongia, pernah memerintah kerajaan Bulango sekitar abad 17 dan abad 18.

Ali MobiliU pemerhati sejarah Gorontalo mengatakan, Raja Tilahunga ketika itu mendapat julukan Olongia Ta To Kereta Hulawa (raja yang menaiki kereta emas). Disebut demikian karena pada momen-momen tertentu beliau menggunakan kereta berhiaskan emas.

"Beliau adalah pemimpin yang memperhatikan kesejahteraan rakyatnya," ungkap Ali, Senin (11/7/2023).

Raja Tilahunga pada suatu ketika pernah memimpin rakyatnya melakukan perjalanan mencari lahan yang subur untuk bercocok tanam di pesisir Danau Limboto.

Jejak perjalanannya tersebut hingga kini diabadikan menjadi nama beberapa desa di wilayah Kecamatan Telaga, Kabupaten Gorontalo.

Ali MobiliU mengatakan, jika merujuk pada sejarah masa lalu, penamaan dan penulisan kawasan ini adalah Talaga bukan Telaga.

Hal itu sangat terkait erat dengan asal mula penamaan kawasan ini yang berasal dari kata ta laga lagayi atau Tahilagaia dalam bahasa Gorontalo. Tahilagaia bermakan orang sehat, segar bugar sehingga tampak gagah dan berwibawa.

Bermula dari perjalanan Raja Tilahunga yang memerintah linulah atau kerajaan Bulango berpusat di wilayah Kecamatan Tapa Kabupaten Bone Bolang sekarang.

Menurut Catatan sejarah Raja Tilahunga memimpin antara abad 17 dan abad 18. Raja tilahunga dikenal sebagai pemimpin yang arif bijaksana dan sangat memperhatikan kesejahteraan rakyatnya.

Terutama ketersediaan bahan makanan menjadi kebutuhan utama penduduknya. Konon, para pembesar kerajaan mengerti Ilmu Perbintangan atau dalam Bahasa Gorontalo disebut Panggoba Lo kerajaan.

Raja menyampaikan perihal musim kemarau panjang yang dapat menyebabkan paceklik atau paliti bagi rakyat. Mereka harus menyediakan perbekalan makanan yang cukup selama musim kemarau.

Mendengar perihal itu maka sebagai seorang pemimpin yang sangat peduli dengan kepentingan rakyatnya wajib dilakukan lantas mulai berpikir keras. Bagaimana caranya agar saat musim kemarau tiba rakyatnya tidak kekurangan bahan makanan.

Sang raja akhirnya menemukan solusi mengatasi persoalan itu. Caranya, mereka mencari lahan yang lebih subur di luar kawasan Bulango untuk bercocok tanam agar persediaan bahan makanan tetap terjamin.

Kata Ali, suatu hari Raja Tilahunga mengumpulkan seluruh rakyatnya dan memaklumkan perihal permintaannya kepada para kaum laki-laki yang kuat dan sehat. Rakyat pun diminta berjalan mencari lahan yang subur di daerah kawasan Danau Limboto. Titah sang raja itu pun didengar dan disambut penuh sukacita oleh rakyatnya.

Para pemuda dibantu warga lainnya akhirnya mulai mempersiapkan berbagai perbekalan Makanan yang dibutuhkan. Peralatan pertanian dibawa guna membuka dan mengolah lahan subur.

Saat semua perbekalan sudah siap, suatu hari berangkatlah mereka ke arah selatan, menuju Danau Limboto.

Baca juga: Breaking News: Mobil Dinas BPBD Bone Bolango Tercebur ke Danau Perintis Gorontalo

Setelah menyeberangi Sungai Bulango yang airnya mengalir deras. Mereka pun melintasi kawasan perlimaan atau perbatasan Kabupaten Gorontalo dan kota Gorontalo. Para penduduk daerah itu tampak terheran-heran. Mereka pun bertanya-tanya, ke mana rakyat Raja Tilahunga yang sehat kuat dan perkasa (Tahilagaia) itu akan pergi. Atau dalam bahasa Gorontalo disebut Ma'ode'u toonu tahilagayi'a buti.

Seperti itulah pertanyaan yang muncul Apalagi setelah penduduk melihat pemimpin mereka yang nampak 'Ma Bo Lagalagayi' atau tampak segar bugar dan penuh wibawa semakin menarik perhatian penduduk.

Sejak itulah kawasan ini menjadi terkenal dengan nama talaga yang berasal dari kata talaga-lagayi untuk mengenang perjalanan Raja Tilahunga yang memimpin rakyatnya. Talaga pun menjadi saksi bisu perjalanan Raja Tilahunga yang gagah perkasa dan berwibawa (laga-lagai) demi kepentingan rakyatnya. (*)

 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved