Kamis, 26 Maret 2026

Bulan Bung Karno

Pidato Politik Megawati saat Puncak Bung Karno: Pak Marhaen Itu Petani, Bukan Komunis

Megawati Soekarnoputri, mengingat sosok Marhaen yang merupakan seorang petani dari Jawa Barat.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Aldi Ponge
zoom-inlihat foto Pidato Politik Megawati saat Puncak Bung Karno: Pak Marhaen Itu Petani, Bukan Komunis
Istimewa
Ketua Umum PDI Perjuangan, Prof. Dr. (HC) Megawati Soekarnoputri saat menyampaikan pidato politiknya di puncak peringatan Bulan Bung Karno di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (24/6/2023). 

TRIBUNGORONTALO.COM - Megawati Soekarnoputri, mengingat sosok Marhaen yang merupakan seorang petani dari Jawa Barat.

Megawati bercerita, bagaimana kedekatan ayahnya sang Proklamator Bung Karno dengan Pak Marhaen.

Ketua Umum PDI Perjuangan ini memanggil Marhaen dengan panggilan 'Pak Marhaen' saat menyampaikan pidato politiknya di puncak peringatan Bulan Bung Karno di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (24/6/2023) lalu

"Ketika Bung Karno sedang kuliah di Bandung, beliau bertemu dengan Pak Marhaen. Beliau (Bung Karno) bertanya begini; 'Bapak seorang petani, tanah ini punya siapa, punya abdi (saya). Kalau tanaman padi ini punya siapa, punya abdi. Alat- alat cangkulnya dan sebagainya punya siapa, punya abdi. Kalau sudah dipanen, dijual, uangnya untuk siapa. Uangnya untuk abdi," begitu Megawati mengenang percakapan Bung Karno dengan Pak Marhaen.

Dari percakapan itu, Bung Karno pun menurut Megawati kemudian berkontemplasi panjang. Menurut Megawati, semua sudah dimiliki Marhaen. Marhaen memiliki lahan dan alat produksi, akan tetapi hidupnya tetap sederhana dan ala sekadarnya.

"Maka Bung Karno merasa bahwa perjuangan ini harus seperti apa yang dimiliki Pak Marhaen," ujar Megawati.

"Di dalam meng-ekstraksi cara berpikirnya, maka Bung Karno melahirkan Pancasila pada tanggal 1 Juni 1945," sambung Megawati.

"Pada waktu yang lalu pun, Pancasila itu sepertinya diredupkan, diplesetkan. Makanya, harus semua yang namanya anggota PDI Perjuangan belajar lahirnya Pancasila," kata Megawati.

Megawati sempat risau tentang konsep pemikiran dan ideologi Marhaen yang kemudian oleh segelintir pihak kerap dikaitkan dengan ide-ide paham komunis. Megawati lalu meminta mereka yang terpengaruh mengenai pandangan seperti itu terhadap Marhaen untuk belajar sejarah.

"Sering kali orang memplesetkan katanya kalau Marhaen itu adalah komunis. Padahal saya sebut Bapak Marhaen," ucap Megawati.
 
"Jadi saya sudah pernah loh ada yang ndak percaya itu ada makamnya. Di daerah Bandung. Jadi jangan dikatakan kalau saya bilang Marhaen, lalu (dituduh Marhaen itu) komunis," sambung Megawati.

Megawati: Pemimpin Itu Mesti Dilihat Lahir Batin

Ketua Umum PDI Perjuangan, Prof. Dr. (HC), Megawati Soekarnoputri, mengajak seluruh masyarakat untuk memilih pemimpin secara holistik atau secara keseluruhan. Bagi Megawati, dalam memilih pemimpin harus lengkap kriterianya. Jangan terlena dengan tampilan fisik.

Hal tersebut dikatakan Megawati pada puncak peringatan Bulan Bung Karno yang diselenggarakan di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (24/6/2023).

"Kalau pemimpin itu sebenarnya mesti dilihat lahir batin, jangan fisik saja," kata Megawati.

Menurut Megawati, menjadi seorang pemimpin harus juga berpengalaman. Dan yang paling penting lagi adalah pemimpin yang mengakar ke bawah.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved