Masyarakat Gorontalo Diminta Berhenti Beli Cabo, Bawa Penyakit hingga Matikan Industri Dalam Negeri
Masyarakat Gorontalo saat ini diminta berhenti beli Cabo. Cabo (cakar bongkar) atau pakaian bekas memang masih banyak diburu masyarakat.
Penulis: Prailla Libriana Karauwan | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Pakaian-Import-cabo-Gorontalo.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Masyarakat Gorontalo saat ini diminta berhenti beli Cabo.
Cabo (cakar bongkar) atau pakaian bekas memang masih banyak diburu masyarakat kalangan menengah ke bawah.
Cabo memiliki harga terjangkau. Pembeli bisa mendapatkan pakaian merek branded dengan harga miring.
Pakaian bekas ini sebetulnya sudah dilarang oleh Presiden Jokowi Dodo karena dinilai mengganggu perindustrian dalam negeri.
Hal itu juga disampaikan Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Wilayah Sulawesi bagian Utara, Erwin Situmorang.
"Tapi kalau mau jujur sebenarnya, dengan banyaknya cabo itu nanti industri kita terganggu," ujarnya dalam Pers Conference ALCo Regional 2023, Rabu (5/7/2023).
Dengan banyaknya cabo yang beridentitas barang luar negeri, masyarakat cenderung meninggalkan perindustrian dalam negeri.
"Seharusnya ini menjadi rasa empati kita kepada teman-teman, bukan hanya masyarakatnya saja," lanjutnya.
Kata Erwin, hal tersebut bukan hanya kepada pembeli saja, namun juga kepada masyarakat untuk meningkatkan perindustrian dalam negeri.
Baca juga: Gorontalo Belum Punya Gudang Penyimpanan, Ekspor Barang Jadi Makan Waktu
"Lebih parahnya lagi itu kan barang bekas, tahu gak barang bekas itu kena penyakit lah, bersih atau tidak," ucapnya.
Erwin pun menegaskan agar anak-anak bangsa harusnya bisa membangun industri Indonesia lebih maju, bukannya berjualan barang bekas dari luar negeri.
"Harusnya kita itu membangun industri bukan jualan," jelas dia.
Hingga saat ini pihaknya masih berusaha untuk meningkatkan kepatuhan masyarakat Gorontalo supaya pakaian bekas tidak lagi masuk ke Indonesia dan akan digantikan oleh industri lokal. (*)