Animo Masyarakat Sangat Tinggi, Pemda Gorontalo Diminta Terus Galakan Kompetisi Mural

Pemerintah Daerah Kabupaten Gorontalo baru saja menutup Kompetisi Mural di Pentadio Resort, Jalan Monoe Kaloekoe, Pentadio Barat

|
Editor: Fadri Kidjab
TribunGorontalo.com/Jil
Kompetisi Mural digelar Pemda Kabupaten Gorontalo menjelang Festival Danau Limboto di Pentadio Resort. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Limboto – Pemerintah Daerah Kabupaten Gorontalo baru saja menutup Kompetisi Mural di Pentadio Resort, Jalan Monoe Kaloekoe, Pentadio Barat, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo.

Kompetisi mural berlangsung satu hari pada 24 - 25 Mei 2023 ini ditutup secara resmi oleh Bupati Gorontalo, Nelson Pomalingo, Jumat (25/5/2023) siang.

Akan tetapi, pergelaran lomba ini sedikit dikritik seniman Gorontalo, Suleman Dangkua.

Suleman Dangkua menilai kompetisi mural terkesan terburu-buru. Padahal, banyak peserta berniat mengikuti Kompetisi Mural.

Disamping itu, Dosen Universitas Negeri Gorontalo yang juga ditunjuk sebagai dewan juri Kompetisi Mural ini mengungkapkan animo masyarakat cukup tinggi terhadap cabang seni rupa tersebut.

Itu terbukti saat awal hingga akhir kompetisi, masyarakat berduyun-duyun mendatangi Pentadio Resort sekadar menyaksikan langsung para peserta membuat mural di dinding.

"Ini penyelenggaranya agak buru-buru, dan belum tersosialisasi betul. Ada peserta yang ingin ikut tapi informasinya tidak sampai ke mereka," jelas Suleman Dangkua kepada TribunGorontalo.com, Jumat (25/5/2023).

Dalam sambutannya, Suleman Dangkua memberikan masukan kepada pemerintah daerah agar terus galakan lomba seni rupa di Kabupaten Gorontalo.

"Pada prinsipnya bahwa sentuhan-sentuhan pemerintah perlu kita galakan lagi, supaya semangat berkesenian itu lebih baik lagi," ujar Suleman di sela-sela pengumuman Kompetisi Mural seperti dikutip TribunGorontalo.com, Jumat (25/5/2023) siang.

Ririe bersama rekan-rekan komunitas seni rupa Gorontalo.
Ririe bersama rekan-rekan komunitas seni rupa Gorontalo. (TribunGorontalo.com/Jil)

Ia menyebut kompetisi mural membuka ruang bagi peserta dari kalangan akademisi hingga pelukis pemula untuk mengembangkan kreatifitas mereka.

"Supaya kita bisa melihat animo generasi muda dalam memperhatikan budaya kita. Karena seni itu akan mengangkat budaya dan harkat martabat manusia," ungkapnya.

Oleh sebab itu, ia mengharapkan event-event seni rupa di Gorontalo lebih diperbanyak lagi.

Eks dosen Unima Manado itu lalu mengumumkan pemenang kompetisi Mural Gorontalo.

Menurutnya, hal paling sulit dalam kompetisi ini adalah menentukan pemenang. Utamanya karena beberapa peserta sudah profesional di bidangnya.

"Seni itu agak sulit dijuarakan. Ini adalah visual art yang memakai hati. Sehingga saya pun seringkali dilema untuk menentukan (pemenang)," akunya.

Baca juga: Jawara Kompetisi Mural Gorontalo, Ririe Sahami Mulai Suka Seni Rupa Kala Iseng Lukis Wajah Guru SD

Adapun para pemenang Kompetisi Mural antara lain, sebagai berikut:

- Juara I: Ririe Sahami dengan perolehan nilai 284 poin.

- Juara II: Yayat dengan perolehan nilai 282 poin.

- Juara III Jemi Malewa dengan perolehan nilai 280 poin.

Sebelumnya, Kepala Disporapar Kabupaten Gorontalo Rita Idrus mengatakan, Kompetisi Mural mengusung tema pelestarian budaya Danau Limboto dan Festival Kelapa.

Kompetisi dimulai pada 24-25 Mei di area gerbang Pentadio Resort dan diikuti sedikitnya 21 peserta.

Dewan juri terdiri dari Dosen Seni Rupa Universitas Negeri Gorontalo Suleman Dangkua, Pemuda Pemerhati Seni Rupa Gorontalo Muhammad Yusuf Tuna, serta Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Disporapar Kabupaten Gorontalo Hastuti Pomalingo. 

Saat penutupan, Bupati Gorontalo Nelson Pomalingo mengapresiasi Disporapar Kabupaten Gorontalo atas terselanggaranya kompetisi mural.

Bagi Nelson, seni merupakan bagian tidak terpisahkan dalam kehidupan manusia.

"Saya senang, karena di Kabupaten Gorontalo ini sudah ketiga kalinya (kompetisi mural)," ucap Nelson Pomalingo dalam sambutannya menutup Kompetisi Mural.

Ia pun membenarkan ucapan Suleman Dangkua bahwa kompetisi seni rupa seperti mural lebih ditingkatkan.

"Karena mural ini ada kreatifitas, ada inspirasi di sana. Yang kedua ada seni. Yang ketiga mural ini ada pesan di dalamnya," tutur Nelson.

Kadangkala, kata dia, apabila pesan disampaikan melalui demonstrasi itu jarang didengar pemerintah.

Lain halnya jika pesan-pesan itu dituangkan ke dalam karya seni seperti mural.

"Jadi pesan itu bisa lebih menyentuh dan ditindaklanjuti oleh kita sekalian," tandas Bupati Gorontalo dua periode tersebut. (*)

 

 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved